Oleh: Dr. Supriyanto, SP., MSc.*
Di banyak sudut kampus hari ini, termasuk di Kalimantan Barat, mahasiswa tidak lagi sekadar hadir sebagai subjek pembelajar. Mereka juga “menjelma” sebagai aktor utama dalam panggung besar bernama media sosial. Kamera ponsel selau menyala, senyum dipoles, selempang kelulusan atau toga dirapikan, bunga dipeluk, dan ucapan “finally”, “satu tahap lagi”, “akhirnya sampai di sini”, “atau “alhamdulillah lulus” merupakan kata-kata yang selalu mengalir deras di lini masa. Fenomena ini tampak lumrah, bahkan dianggap wajar sebagai ekspresi kebahagiaan.
Namun di balik euforia itu, terselip pertanyaan mendasar, “Apakah proses intelektual yang seharusnya mengiringi pencapaian tersebut benar-benar telah dijalani secara utuh?” Karena tidak jarang, sebagai dosen, saya sering mendapati bahwa ketika ujian skripsi, seorang mahasiswa benar-banar dapat dikatakan “hancur”, tetapi di media sosial, perayaannya di media sosial benar-benar “heboh” luar biasa.
Inilah yang dapat disebut sebagai gejala “mahasiswa selebriti”, mahasiswa yang lebih sibuk merayakan simbol keberhasilan ketimbang menekuni substansi perjuangan akademik. Gelar akademik diperlakukan layaknya trofi visual, bukan hasil dari proses panjang pembelajaran kritis, riset mendalam, dan kerja keras intelektual.
Jika dicermati, fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh subur dalam ekosistem budaya digital yang menempatkan visibilitas sebagai nilai utama. Visibilitas sebagai penanda eksistensi. Di era media sosial, apa yang tampak sering kali lebih dihargai daripada apa yang bermakna. Dalam konteks ini, mahasiswa pun tergoda untuk lebih fokus pada bagaimana terlihat berhasil dibanding bagaimana benar-benar berproses dan berhasil.
Perayaan yang Mendahului Pematangan
Di Kalimantan Barat, gejala mahasiswa selebriti ini sudah terasa di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Pada momen-momen akademik penting seperti ujian proposal penelitian, seminar hasil, hingga ujian skripsi, tidak jarang dijumpai mahasiswa yang persiapan akademiknya minim, tetapi persiapan seremoni kelulusannya luar biasa matang. Undangan foto profesional sudah dipesan, kebaya dan jas disiapkan, selempang kelulusan dan rangkaian bunga dipesan jauh hari.
Bahkan, konsep unggahan media sosial telah dirancang sebelum penguji menyatakan “kelulusan”. Ironisnya, sebagian mahasiswa justru kurang siap secara substansi, landasan teori rapuh, metodologi penelitian tidak dipahami secara mendalam, dan argumentasi ilmiah mudah goyah saat diuji. Tidak jarang mahasiswa seolah-olah tidak tahu apa yang telah ditulis dan ditelitinya. Akibatnya, hasil ujian tidak maksimal, revisi menumpuk, dan proses akademik menjadi sekadar formalitas yang harus “dilewati”, bukan dimaknai. Perayaan memang penting sebagai penanda capaian. Namun ketika perayaan mendahului pematangan intelektual, maka yang lahir bukan kebanggaan akademik, melainkan ilusi prestasi.
Budaya visual (baca: budaya citra) hari ini memang memberi tekanan besar pada generasi muda untuk selalu tampak berhasil. Mahasiswa pun tak luput. Foto di depan gedung kampus, di ruang sidang, foto dengan dosen pembimbing, atau foto di halaman fakultas seakan menjadi hal wajib agar dapat menjadi bukti eksistensi. Sayangnya, dokumentasi visual ini sering kali tidak sebanding dengan dokumentasi proses belajar itu sendiri.
Tumbuh di tengah budaya digital yang serba mudah, terutama kemudahan untuk mendapatkan sumber informasi, mahasiswa justru tampak kehilangan daya juang. Akses jurnal dan buku yang lebih mudah, proses pembimbingan yang jauh lebih variatif karena bantuan sarana komunikasi, serta kondisi ekonomi orang tua yang lebih baik, seolah justru membuat kebanyakan mahasiswa terlena. Sebagian mahasiswa terjebak pada budaya instan, “copy paste”, membayar joki untuk pengerjaan tugas.
Baru-baru ini penggunaan kecerdasan buatan (AI, arificial inteligence) secara serampangan, menganggap mudah semua persolaan, sampai obsesi ingin cepat lulus, cepat diwisuda, dan cepat dipuji. Proses akademik mendasar dan paling sederhana seperti membaca literatur, berdiskusi kritis, turun ke lapangan, dan menulis dengan disiplin sering dianggap melelahkan dan tidak “menarik” untuk dipamerkan. Padahal, di sanalah letak nilai sejati pendidikan tinggi. Pertanyaannya, mengapa itu terjadi?
Kampus sebagai Panggung Sosial
Kampus hari ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang akademik, tetapi juga panggung sosial. Menjadi mahasiswa di kampus, adalah sebuah strata sosial yang layak dipamerkan. Aktivitas kemahasiswaan, organisasi, bahkan kegiatan akademik sering kali dinilai dari seberapa viral ia di media sosial. Tidak jarang, kegiatan difoto dengan intensitas tinggi, tetapi refleksi akademiknya minim.
Fenomena mahasiswa selebriti ini juga diperkuat oleh lingkungan yang permisif. Ketika standar akademik dilonggarkan, kritik ilmiah dihindari demi kenyamanan, dan kelulusan dianggap sebagai tujuan utama tanpa memperhatikan kualitas, maka mahasiswa akan belajar satu hal yakni yang penting lulus dan terlihat sukses. Dalam jangka panjang, hal ini berbahaya. Perguruan tinggi berisiko melahirkan lulusan yang miskin daya analisis, lemah etos kerja, dan kurang siap menghadapi tantangan dunia nyata, termasuk tantangan pembangunan.
Mencermati fenomena mahasiswa selebriti bukan sekadar mencermati soal gaya hidup, tetapi juga mencermati soal arah peradaban intelektual kita. Ketika kerja keras tidak lagi dirayakan, dan pencitraan lebih dihargai daripada ketekunan, maka nilai-nilai akademik perlahan akan tergerus.
Pada taraf individu, mahasiswa kehilangan kesempatan untuk membentuk kapasitas berpikir mendalam. Di tingkat institusi, kualitas lulusan menurun. Dan di tingkat daerah, Kalimantan Barat berisiko kekurangan generasi intelektual yang mampu menjawab persoalan nyata, pengelolaan sumber daya alam, penanganan konflik agraria, ketimpangan pembangunan, hingga penguatan ekonomi lokal berbasis pengetahuan. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari proses sunyi: membaca, meneliti, berdiskusi, dan berpikir keras, bukan dari sorotan kamera dan perayaan berlebihan.
Mengembalikan Makna Menjadi Mahasiswa
Tulisan ini bukan untuk menghakimi, apalagi menganggap remeh atau meniadakan hak mahasiswa untuk merayakan sebuah pencapaian. Merayakan kelulusan adalah manusiawi. Namun, perayaan seharusnya menjadi epilog dari proses yang serius, bukan penggantinya. Perguruan tinggi perlu kembali menegaskan nilai-nilai akademik: integritas, kerja keras, dan kejujuran intelektual.
Dosen perlu berani menjaga standar, mahasiswa perlu diajak untuk mencintai proses, dan institusi perlu menciptakan budaya yang menghargai usaha, bukan sekadar hasil. Bukan latah ikut-ikutan membuat sebanyak mungkin tempat selfi dalam perayaan kelulusan agar viral. Sebagai penanda bahwa kampus tidak ketinggalan jaman tidak apa-apa, tetapi integritas akademik tetaplah hal yang paling utama.
Menjadi mahasiswa seharusnya bukan soal tampil menonjol dan eksis seperti selebriti, tetapi soal kesiapan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Foto dan video bisa pudar, unggahan media sosial bisa tenggelam ditelan masa, tetapi kapasitas berpikir akan menentukan masa depan seseorang, dan juga masa depan bangsa ini. Jika kampus ingin tetap relevan sebagai pusat peradaban, maka mahasiswa harus kembali ditempatkan sebagai insan akademik, bukan sekadar figur visual. Sebab pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan lulusan yang hanya pandai berpose di depan kamera, melainkan manusia yang sanggup bekerja, berpikir, dan bertanggung jawab.**
*Penulis adalah Dosen Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura; praktisi perkebunan.
Editor : Hanif