Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Bolehkah Puasa Qadha dan Syawal Digabung ? Ini Penjelasan UAS dan Buya Yahya

Silvina • Rabu, 15 April 2026 | 11:36 WIB

 

Puasa Qadha dan Syawal
Puasa Qadha dan Syawal
PONTIANAK POST – Perbincangan soal puasa qadha dan puasa enam hari di bulan Syawal kembali mencuat di tengah umat Islam. Banyak yang bertanya, apakah keduanya bisa digabung dalam satu ibadah?

Pertanyaan ini penting, terutama bagi mereka yang masih memiliki utang puasa Ramadan, tetapi juga ingin meraih keutamaan puasa Syawal.

Hadis Nabi tentang Puasa Syawal

Anjuran puasa Syawal didasarkan pada hadis sahih riwayat Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda:

 “Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi dasar keutamaan puasa Syawal sekaligus menegaskan pentingnya menyempurnakan puasa Ramadan terlebih dahulu.

Penjelasan Ustadz Abdul Somad (UAS)

Menurut Ustadz Abdul Somad, puasa qadha Ramadan lebih baik segera dilakukan. Jika akan mengqadanya di bulan Syawal selama enam hari, maka pahala puasa Syawal juga dia dapatkan.

 Namun, ia menegaskan bahwa:

* Niat puasa yang dilaksanakan  tetap puasa qadha (wajib)

* Tidak perlu menggabungkan dua niat (puasa qadha dan puasa Syawal).

* Pahala puasa Syawal bisa diharapkan sebagai keutamaan tambahan

Pendapat ini kata Ustadz Abdul Somad merujuk pada ulama mazhab Syafi’i, seperti Imam Zakaria Al-Anshari yang dikutip dalam *Fatwa Al-Azhar* oleh Syaikh Athiyah Shaqar.

Penjelasan Buya Yahya

Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Ustadz  Buya Yahya.

Buya  Yahya sangat menganjurkan untuk menunaikan puasa qadha dilakukan di bulan Syawal,  namun dengan catatan penting:

* Niatnya hanya puasa qadha

* Tidak menggabungkan niat puasa wajib dan sunnah

* Puasa Syawal dianggap mengikuti sebagai keutamaan.

Buya Yahya juga menegaskan  menggabungkan niat puasa fardhu dan sunnah dalam satu ibadah bukanlah praktik yang dibolehkan.

“Tidak boleh menggabungkan niat puasa fardhu dan sunnah. Niatkanlah satu saja untuk puasa qada mengganti puasa Ramadan  di bulan Syawal. Maka akan mendapat pahala puasa Syawal,” ujarnya dalam sebuah kajian lewat tayangan sebuah channel youtube jamaah.  

Dengan kata lain, seseorang tetap fokus mengganti utang puasa Ramadan, sementara keutamaan puasa Syawal diharapkan sebagai bonus dari waktu pelaksanaannya yang bertepatan.

Penjelasan Fikih: Niat Jadi Kunci

Dalam kajian fikih, niat menjadi penentu sah atau tidaknya ibadah. Karena puasa qadha bersifat wajib, maka niatnya harus spesifik dan tidak dicampur dengan niat sunnah.

Namun, sebagian ulama memberikan kelonggaran pelaksanaan qadha di bulan Syawal tetap bisa membawa keutamaan tambahan, selama tidak ada niat ganda dalam satu ibadah.

Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berpendapat :

* Menyelesaikan puasa qadha terlebih dahulu jangan ditunda-tunda.

* Kemudian melaksanakan puasa Syawal secara terpisah jika masih ada waktu

Cara ini dinilai lebih sempurna dalam meraih pahala sebagaimana disebutkan dalam hadis.

Kesimpulan

Puasa qadha di bulan Syawal  dianjurkan karena ibadah wajib salah satunya puasa Ramadan lebih utama untuk dilaksanakan dari ibadah sunnah.

Namun perlu diingat niatnya harus tetap satu, yaitu puasa qadha, tanpa menggabungkan niat puasa sunnah.

Dengan demikian, umat Islam tetap bisa menunaikan kewajiban sekaligus berharap keutamaan puasa Syawal, dengan tetap menjaga ketepatan niat dalam ibadah.

Wallahua’lam Bishhowab

 

Editor : Silvina
#puasa syawal #pahala puasa #keutamaan puasa #puasa #puasa ramadan