PONTIANAK POST – Presiden Prabowo Subianto berencana menambah jumlah pabrik etanol di Indonesia dengan membangun sedikitnya 30 hingga 50 pabrik. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pengembangan bahan bakar minyak (BBM) dengan campuran etanol atau E20 sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Pernyataan itu disampaikan Presiden saat memberikan arahan dalam kegiatan panen raya bersama TNI di Malang, Jawa Timur, yang dipantau secara daring dari Jakarta, Jumat. Menurut Presiden, Indonesia saat ini telah memiliki kemampuan untuk mencampurkan bensin dengan etanol hingga kadar 20 persen.
"Tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20. Butuh pabrik, tadi pabriknya yang baru kita miliki baru satu pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik," kata Presiden Prabowo, Jumat (17/7).
Baca Juga: Bahlil Siapkan Bioetanol E20, Target Kurangi Impor Bensin Hingga Jutaan Kiloliter
Kapasitas Produksi Pabrik Bioetanol
Data Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM menunjukkan Indonesia memiliki 14 pabrik bioetanol dengan total kapasitas produksi sekitar 337,5 juta liter per tahun.
Namun, untuk mendukung program pencampuran bahan bakar, baru tiga pabrik bioetanol fuel grade yang aktif beroperasi dan memiliki izin usaha niaga, yakni PT Indonesia Ethanol Industry di Lampung dengan kapasitas 20.000 kiloliter per tahun, PT Energi Agro Nusantara di Jawa Timur berkapasitas 30.000 kiloliter per tahun, serta PT Molindo Raya Industrial di Jawa Timur berkapasitas 10.000 kiloliter per tahun.
Kementerian ESDM juga menyebutkan bahwa untuk merealisasikan program E20, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter etanol per tahun. Angka tersebut jauh lebih besar dibanding kapasitas bioetanol fuel grade yang saat ini tersedia, sehingga rencana pembangunan 30–50 pabrik etanol yang disampaikan Presiden Prabowo menjadi bagian dari upaya menutup kesenjangan pasokan domestik.
Baca Juga: Indonesia Wajibkan Penggunaan BBM Bioetanol E10-E20 Mulai 2027
Belajar dari India dan Brasil
Presiden mencontohkan sejumlah negara yang telah lebih dahulu mengembangkan penggunaan etanol sebagai bahan bakar.
Menurutnya, India telah menerapkan BBM E20, sedangkan Brasil bahkan telah menggunakan E100, yakni bahan bakar berbasis etanol murni. Pengalaman kedua negara tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah bahwa Indonesia juga mampu mencapai target penggunaan E20.
Dorong Kemandirian Energi Nasional
Prabowo menegaskan pemerintah terus mempercepat berbagai program untuk mewujudkan kemandirian energi.
Ia mencontohkan peresmian Proyek LNG Abadi Masela pada Kamis (16/7) setelah sempat tertunda selama 28 tahun. Selain itu, Indonesia juga menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50, yaitu bahan bakar campuran solar dengan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit.
"Kita sekarang hasilkan solar dari kelapa sawit. Jadi, dari mulai bulan Juli ini kita tidak impor solar lagi dari luar negeri," jelas Presiden.
Ajak Seluruh Pihak Dukung Program Strategis
Dalam kesempatan tersebut, Presiden mengajak seluruh unsur bangsa terus berkolaborasi untuk mencapai target pembangunan yang telah ditetapkan pemerintah.
Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya mencakup kemandirian energi, tetapi juga ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, serta pengembangan inovasi teknologi.
Baca Juga: Pemerintah Wajibkan Mandatori Bioetanol pada 2027, E5 Dimulai Juli 2026
Motor Listrik Nasional Segera Diluncurkan
Presiden juga menyinggung rencana peluncuran motor listrik nasional dalam beberapa pekan mendatang.
Ia berharap kehadiran kendaraan tersebut dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat, khususnya petani, dengan menyediakan sarana transportasi yang lebih efisien.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara