PONTIANAK POST – Rencana pembangunan jalur kereta Trans Kalimantan kembali menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto meminta PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Kementerian Perhubungan menyiapkan proyek tersebut. Di tengah rencana jaringan sepanjang 2.772 kilometer itu, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mendatangi Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis siang.
Bobby tiba sekitar pukul 14.40 WIB mengenakan seragam putih bertuliskan KAI. Kepada wartawan, dia mengatakan kedatangannya atas panggilan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
“Dipanggil, dipanggil, di-call sama Seskab,” ujarnya singkat.
Bobby mengaku belum mengetahui agenda pembicaraan dalam pertemuan tersebut. Dia kemudian bergegas masuk ke Kompleks Istana Kepresidenan tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.
Belum diketahui apakah pertemuan tersebut membahas rencana pembangunan kereta Trans Kalimantan. Namun, proyek perkeretaapian di Pulau Borneo kembali mendapat perhatian setelah Prabowo secara terbuka meminta agar pembangunan jalur kereta tidak hanya berfokus di Sumatra.
“Habis Trans Sumatra, nanti Trans Kalimantan. Kalau bisa bersamaan, kita mulai,” kata Prabowo saat meresmikan hasil renovasi tahap pertama bangunan cagar budaya Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, akhir Juli lalu.
Presiden menyebut jalur Trans Sumatra direncanakan menghubungkan Bakauheni di bagian selatan hingga wilayah paling utara Pulau Sumatra. Proyek tersebut menjadi target yang harus diwujudkan KAI bersama Kementerian Perhubungan.
Pernah Dijanjikan Sejak 2016
Rencana kereta Trans Kalimantan sebenarnya bukan gagasan baru. Lebih dari satu dekade lalu, pemerintah pernah menargetkan pembangunan sedikitnya 2.000 kilometer rel yang menghubungkan Pontianak hingga Samarinda melalui Banjarmasin.
Pada Maret 2015, Menteri Perhubungan saat itu, Ignasius Jonan, menyebut pembangunan direncanakan dimulai pada 2016. Kebutuhan anggarannya diperkirakan sekitar Rp25 triliun dengan skema pembangunan lima tahun.
Namun, target tersebut tidak terealisasi sesuai jadwal. Hingga 2026, jaringan kereta yang menghubungkan kota-kota besar di Kalimantan belum terwujud.
Rencana kemudian berkembang menjadi jaringan sepanjang 2.772 kilometer yang dirancang menghubungkan wilayah Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Proyek ini diproyeksikan memperkuat konektivitas dan distribusi logistik antardaerah.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut pembangunan jaringan kereta logistik Kalimantan akan ditawarkan kepada investor swasta, termasuk KAI. Skema tersebut dirancang tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pemerintah ingin meniru model angkutan batu bara berbasis rel di Sumatera Selatan yang dinilai mampu berjalan secara komersial. Data KAI menunjukkan, angkutan batu bara mencapai 47,78 juta ton sepanjang Januari–Oktober 2025 atau sekitar 83 persen dari total angkutan barang perusahaan.
Kalbar Bisa Hubungkan Perbatasan dan Pelabuhan
Bagi Kalimantan Barat, jaringan kereta api berpotensi membuka jalur distribusi baru bagi komoditas unggulan. Sawit, bauksit, alumina, hasil pertanian, hingga produk industri dapat diangkut dari sentra produksi menuju kawasan industri dan pelabuhan.
Salah satu gagasan yang pernah disampaikan pemerhati ekonomi-politik Kalbar, Agus Teladjan, adalah menghubungkan kawasan perbatasan Aruk di Kabupaten Sambas dengan Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah.
Dalam konsep tersebut, Aruk menjadi pintu pergerakan barang dari kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia, sedangkan Kijing menjadi simpul distribusi melalui jalur laut. Jaringan selanjutnya berpotensi terhubung ke pusat-pusat ekonomi di Kalimantan bagian tengah dan timur.
Gagasan itu bukan rute resmi yang telah ditetapkan pemerintah. Namun, konsep tersebut memperlihatkan bagaimana kereta dapat menjadi penghubung antara kawasan perbatasan, sentra produksi, kawasan industri, dan pelabuhan.
Kereta juga tidak hanya ditujukan untuk mengangkut penumpang. Moda ini dapat membawa barang dalam jumlah besar dengan jadwal lebih teratur, sehingga berpotensi menekan biaya distribusi jarak jauh.
Selama ini, pergerakan barang di Kalimantan masih banyak bergantung pada jalan raya dan transportasi sungai. Biaya angkutan hasil perkebunan dan pertanian dari daerah pedalaman menuju kota maupun pelabuhan menjadi salah satu tantangan logistik.
Kalimantan Pernah Punya Kereta
Ada satu fakta yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat. Kalimantan sebenarnya pernah memiliki jalur kereta api pada masa kolonial Belanda.
Di Kalimantan Selatan, jalur rel pernah digunakan untuk mengangkut batu bara menuju pelabuhan ekspor sejak akhir abad ke-19. Sementara di Balikpapan, Kalimantan Timur, jejak rel dan lokomotif juga pernah digunakan untuk mendukung aktivitas industri minyak dan pertambangan pada awal abad ke-20.
Jalur-jalur tersebut bukan jaringan kereta penumpang antarkota seperti yang dikenal masyarakat di Pulau Jawa. Rel dibangun terutama untuk kebutuhan industri dan pengangkutan hasil tambang.
Kini, setelah melewati berbagai wacana dan perubahan target, pembangunan kereta Trans Kalimantan kembali menjadi agenda yang dinantikan. Tantangannya bukan hanya membangun rel, tetapi memastikan trase, pembiayaan, teknologi konstruksi, dan manfaat ekonominya benar-benar terukur.
Bagi masyarakat Kalimantan Barat, harapan itu sederhana: kereta api bukan lagi sekadar rencana yang berulang kali diumumkan, melainkan moda transportasi yang benar-benar bisa digunakan untuk bepergian dan mengangkut hasil produksi daerah.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro