Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cara Menyikapi Anak Menghadapi Pubertas Dini dengan Bijak

Miftahul Khair • Rabu, 11 Desember 2024 | 15:54 WIB
Ilustrasi: Peran seorang ayah sangat penting untuk menemani anak yang mengalami pubertas dini.
Ilustrasi: Peran seorang ayah sangat penting untuk menemani anak yang mengalami pubertas dini.

Pubertas dini, atau yang sering disebut sebagai pubertas yang dimulai lebih awal dari usia normal. Tidak hanya berdampak pada perubahan fisik anak, tetapi juga dapat menimbulkan sejumlah masalah psikologis dan sosial. Anak-anak yang mengalami pubertas dini mungkin merasa tidak nyaman dengan perubahan tubuh mereka.

Oleh : Siti Sulbiyah

Pubertas dini adalah kondisi ketika seorang anak mengalami perubahan fisik dan hormonal yang biasanya terjadi pada masa remaja lebih awal dari waktunya. Perubahan tersebut meliputi pertumbuhan payudara pada anak perempuan, pertumbuhan rambut kemaluan, perubahan suara, hingga perkembangan organ reproduksi. Pada anak laki-laki, pubertas dini dapat ditandai dengan pembesaran testis dan penis, serta pertumbuhan rambut tubuh.

Menyadur Article in Journal Of The Indonesian Medical Association yang dirilis pada September 2024 berjudul ‘Menarche dan Pubertas Dini: Kajian Terbaru tentang Penyebab Pubertas Dini serta Dampaknya terhadap Kesehatan Perempuan’, disebutkan bahwa pubertas dini mencakup dampak fisik, psikologis, dan sosial.

Dalam kajian tersebut diketahui bahwa Di Indonesia, selama pandemi COVID-19, dokter anak melaporkan peningkatan kasus pubertas dini pada anak perempuan, dengan banyak yang mengalami menstruasi pertama sebelum usia 10 tahun.

Melonjaknya kasus menstruasi pertama (menarche) dini perlu mendapat perhatian serius dikarenakan hal ini terkait dengan beberapa masalah kesehatan di kemudian hari. Menarche didefinisikan sebagai periode menstruasi pertama kali pada seorang remaja perempuan.

Selain berdampak pada kesehatan tubuh, menarche dini akan berdampak terhadap kehidupan pribadi dan sosial seorang perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang memulai pubertas “sangat dini” memiliki tingkat tekanan psikologis yang jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan yang mengalami pubertas di waktu yang normal (tepat waktu). Hubungan yang ditemukan antara pubertas dini dan tekanan psikologis dimediasi oleh disforia citra tubuh dan hubungan negatif dengan sahabat dan dimoderasi oleh gejala

Dalam webinar yang bertajuk “Pubertas Dini Bukan Tabu: Mari Bicara Terbuka!”, Psikolog Klinis Novy Yulianty mengatakan usia ideal untuk seorang anak mengalami pubertas adalah antara 10-14 tahun untuk perempuan, dan 12-16 tahun untuk laki-laki. 

Menurutnya, jika anak mengalami pubertas lebih awal dari rentang usia tersebut, maka hal itu tidak selalu berarti buruk. “Ini bisa jadi bisa buruk dan bisa juga sebetulnya tidak menjadi hal yang buruk, asalkan kita sebagai orang tua bisa mendampingi dan mendeteksi apakah ini termasuk pubertas dini atau bukan,” ujarnya dalam webinar yang diadakan baru-baru ini.

Novy menjelaskan, pubertas dini dapat berdampak buruk secara fisik maupun psikologis jika tidak dikelola dengan baik. Secara fisik, anak yang mengalami pubertas dini bisa saja memiliki tubuh yang lebih besar dari teman-temannya yang seusia. Ini dapat menimbulkan perasaan minder atau rendah diri karena merasa "berbeda". 

Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang sudah memiliki payudara lebih besar atau seorang anak laki-laki yang suaranya mulai berubah lebih cepat dibandingkan teman-temannya bisa merasa cemas. “Ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan diri anak, mungkin saja anak bisa mendapatkan perlakuan bullying,” imbuhnya. 

Sebagai orang tua, penting untuk mendampingi anak dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Orang tua harus memastikan anak merasa nyaman dan diterima meski mengalami perubahan fisik lebih cepat daripada teman-temannya.

"Jelaskan pada anak bahwa semua orang akan mengalami hal ini, hanya waktunya yang berbeda-beda,” tuturnya. Selanjutnya, tekankan kepada anak-anak bahwa perbedaan pertumbuhan dengan teman-temannya karena setiap orang mengalami perkembangan yang berbeda satu sama lain.

Meskipun pubertas dini sebagian besar dipengaruhi oleh faktor genetika dan ketidakstabilan hormon, Novy menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat untuk mengurangi risiko terjadinya pubertas dini. Pola makan yang sehat, olahraga teratur, dan pembatasan paparan gadget dapat membantu menjaga kestabilan hormon anak.

Novy menyebut, salah satu tantangan besar bagi anak yang mengalami pubertas dini adalah tekanan dari teman sebaya. Anak yang mengalami perubahan fisik lebih cepat sering kali menjadi sasaran ejekan atau bullying. Untuk itu, ia menyarankan orang tua untuk mengajarkan anak cara mengatasi tekanan tersebut dengan bijak.

 "Ajar anak untuk mengatakan dengan tegas jika mereka tidak suka diejek," jelasnya. Selain itu, penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak agar berani melaporkan kepada guru jika perundungan terus berlanjut. 

Di sisi lain, orang tua harus siap memberikan dukungan psikologis kepada anak agar mereka tidak merasa cemas atau malu. Orang tua juga bisa berbagi pengalaman kepada anak agar anak mengetahui bahwa apa yang terjadi padanya juga terjadi orang lain.

Ayah Harus Berperan

Baca Juga: Cara Membuat Tahu Saus Padang ala Devina Hermawan: Masakan Murah Meriah, Rasa Lezat

Dalam proses pengasuhan anak, terutama bagi anak yang mengalami pubertas dini, maka peran ayah sangat penting. Menurut Psikolog Klinis Novy Yulianty, pengasuhan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga ayah. 

Ketika anak perempuan mengalami pubertas dini, kedekatan emosional dengan ayah dapat memberikan rasa aman dan nyaman, serta membuka ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya.

Novy menekankan bahwa jika anak perempuan merasa dekat secara emosional dengan ayah, mereka akan merasa lebih percaya diri untuk berbicara tentang perubahan fisik yang mereka alami. 

Selain memberikan dukungan emosional, ayah juga memiliki peran besar dalam mengajarkan nilai-nilai penting seperti keberanian, disiplin, dan tanggung jawab. “Mengajarkan anak untuk berani, disiplin, tanggung jawab itu adalah tugas ayah,” kata Novy.

Komunikasi yang baik antara ayah dan anak sangat penting dalam mendukung anak yang mengalami pubertas dini. Novy mengingatkan agar orang tua, khususnya ayah, diberikan kesempatan untuk berbicara dengan anak-anak mereka secara terbuka.

Bagi ayah yang mungkin merasa belum terlalu dekat atau kesulitan berkomunikasi dengan anak, Novy menekankan bahwa ini bisa dilatih. "Memang, jika ayah belum terlalu dekat dengan anak, ini bisa dilatih. Beri kesempatan pada ayah untuk berbicara dengan anak, dan setelah itu, jangan lupa memberi apresiasi kepada ayah agar dia merasa dihargai,” tuturnya. (**)

Editor : Miftahul Khair
#mendampingi #pubertas dini #cara #peran orang tua