Dalam dunia kerja, persaingan antar rekan kerja seringkali menumbuhkan rasa iri. Tidak jarang ada individu yang terjebak dalam hal ini bahkan dan rela melakukan berbagai cara, termasuk menjatuhkan koleganya. Bagaimana menyikapi hal tersebut?
Oleh : Siti Sulbiyah
RASA iri dalam antar karyawan ini bisa muncul karena berbagai faktor, seperti jabatan yang lebih tinggi, gaji yang lebih besar, bonus yang diterima, atau pencapaian lainnya. Meskipun wajar dalam situasi kompetitif, perasaan iri yang tidak ditangani dengan baik dapat merusak suasana kerja.
Wira Nugraha, M. Psi., Psikolog menjelaskan bahwa perilaku cemburu atau iri adalah respons alami yang muncul akibat sistem reward dan punishment yang ada dalam perusahaan. Menurutnya, rekan kerja yang merasa tidak mendapatkan penghargaan atau apresiasi, baik berupa bonus maupun kenaikan jabatan, dapat merasakan kekecewaan yang memicu rasa iri terhadap kolega yang mendapat perhatian lebih dari atasan.
Ia menilai seringkali muncul anggapan bahwa seseorang yang mendapatkan penghargaan atau prestasi hanya beruntung, tanpa mereka tahu betapa kerasnya perjuangan orang tersebut untuk mencapainya
“Biasanya hal yang paling sering terjadi dalam persoalan ini adalah munculnya anggapan dari rekan kerja bahwa ia beruntung memperoleh reward atau prestasi, padahal mereka tidak mengetahui bagaimana proses perjuangan untuk meraih hal tersebut selama ini.,” katanya.
Selain itu, ada juga protes dari rekan kerja yang merasa sistem target perusahaan tidak adil, atau ada ketidakpuasan terhadap pencapaian orang lain yang dianggap tidak sesuai dengan usaha yang telah dikeluarkan.
“Hal ini bisa terjadi dikarenakan pandangan rekan kerja kita yang kurang menilai sisi objektif dalam sebuah sistem di perusahaan atau tempat kerja kita,” jelasnya.
Menurut Wira, perasaan iri dapat terlihat dari perubahan sikap interpersonal yang jelas. Ciri-ciri yang paling sering muncul adalah menurunnya antusiasme, ketidaktertarikan untuk berinteraksi, atau sikap menjauh dari rekan kerja. Bahkan, perasaan iri ini dapat berkembang menjadi tindakan yang lebih merugikan, seperti menyerang kinerja orang yang diirikan dengan tujuan merendahkan atau memojokkan.
“Dan lebih parah adalah sikap-sikap yang berusaha menimbulkan konflik seperti komentar yang bersifat ejekan atau berusaha menjelekan orang lain terkadang muncul ketika seseorang mulai tidak suka terhadap rekan kerjanya,” terangnya.
Namun, Wira mengingatkan bahwa membalas perilaku negatif tersebut dengan cara yang serupa justru tidak akan menyelesaikan masalah. Ia menyarankan agar karyawan yang menjadi sasaran iri membalas dengan konsistensi kinerja yang baik, bukan dengan reaksi negatif. “Dan tentu mengorbankan waktu kita yang lebih baik kita gunakan untuk pekerjaan kita,” terangnya.
Menurutnya, tindakan yang terbaik adalah tetap bekerja dengan profesionalisme, berfokus pada kinerja yang jauh lebih baik, dan menjunjung tinggi objektivitas. Sebagai individu dewasa, sebaiknya kita mengutamakan hal-hal yang objektif dalam pekerjaan.
“Sehingga kita juga perlu berhati-hati dalam bekerja dan harus tersistematis agar orang tidak mudah menyalah artikan pekerjaan kita. Intinya sebuah kinerja baik dari karyawan akan sulit disalahartikan jika kita bekerja sesuai role dan sistem ataupun aturan yang ada,” tuturnya.
Menurutnya penting untuk tidak terpengaruh dari respon-respon negatif di lingkungan kerja tersebut. “Kalau kata orang jangan baper (bawa perasaan) dulu,” tuturnya.
Dalam hal ini, sikap sabar dan objektif menjadi kunci agar suasana kerja tetap kondusif, dan kinerja tim tetap terjaga dengan baik. Jika ada anggapan dari orang lain yang sifatnya negatif, seperti dianggap beruntung atau curang, maka sebaiknya jangan segera direspon negatif juga.
“Kita cukup bersikap merendah, artinya jangan lupa kita juga perlu sesekali memuji orang lain atau menyampaikan prestasi kita tidak lepas dari peran orang lain atau rekan kita agar atasan kita juga tahu bahwa timnya sudah bekerja dengan baik,” paparnya.
Untuk meminimalisir konflik, Wira juga menyarankan agar karyawan tidak ragu untuk berbagi penghargaan yang diterima dengan rekan kerja. Misalnya, ketika berhasil dalam suatu pekerjaan dan mendapatkan penghargaan dari atasan, tidak lupa berbagi dengan rekan kerja agar lingkungan sekitar mendapatkan dampak positif dari apa yang diperoleh orang tersebut. **
Editor : A'an