Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Orang Tua Sering Bertengkar Bisa Picu Depresi Pada Anak

Chairunnisya • Rabu, 8 April 2026 | 20:06 WIB
Ilustrasi anak menutup telinga saat mendengar orangtuanya bertengkar (freepik.com)
Ilustrasi anak menutup telinga saat mendengar orangtuanya bertengkar (freepik.com)

PONTIANAK POST – Konflik merupakan bumbu yang lumrah dalam kehidupan rumah tangga. Namun, jika tidak dikelola dengan kepala dingin, perselisihan tersebut dapat memicu pertengkaran hebat yang terjadi di mana saja, bahkan di hadapan anak. Tanpa disadari, kebiasaan ini membawa dampak sistemik yang buruk bagi perkembangan mental buah hati.

Psikolog Yeni Sukarini, S.Psi, menjelaskan bahwa pada dasarnya anak memiliki ambang toleransi tertentu. Jika mereka hanya sesekali melihat orang tuanya berselisih pendapat, hal itu mungkin belum menjadi masalah besar.

“Terlebih jika setelah bertengkar orang tua bisa menormalkan kembali suasana dan memberikan penjelasan atau pelajaran positif bagi anak,” ujar Yeni.

Namun, situasinya akan menjadi alarm bahaya jika intensitas pertengkaran tergolong sering, apalagi jika orang tua membiarkan anak dalam kebingungan tanpa memberikan penjelasan pascapertengkaran.

Menghambat Perkembangan dan Memicu Kebencian

Menurut Yeni, dampak pertama yang paling nyata adalah terhambatnya perkembangan psikologis anak yang akan terbawa hingga usia remaja dan dewasa. Anak cenderung merasa terjepit dan bingung harus memilih berpihak kepada siapa di antara kedua orang tuanya.

Dampak kedua, anak berisiko menumbuhkan rasa benci kepada salah satu atau kedua orang tuanya. 

“Misalnya, jika sang ayah melakukan kekerasan fisik kepada ibunya. Padahal, anak diajarkan bahwa memukul itu salah,” ungkap Yeni.

Bagi anak kecil, seseorang yang melakukan perbuatan tidak baik akan dicap sebagai sosok yang jahat, meskipun itu orang tuanya sendiri.


Rumah Tak Lagi Jadi Tempat yang Nyaman

Dampak ketiga adalah hilangnya rasa nyaman di dalam rumah. Pertengkaran yang terus-menerus membuat anak merasa rumah bukan lagi pelindung bagi mereka. Akibatnya, anak akan mencari pelarian dengan memilih tinggal di rumah kerabat lain, seperti rumah nenek.

Lebih mengkhawatirkan lagi, ketidaknyamanan ini bisa mendorong anak mencari kesenangan di luar rumah melalui perilaku negatif. 
“Anak bisa menjadi arogan, terlibat perkelahian, mencoba merokok, atau melakukan kenakalan remaja lainnya sebagai bentuk pelampiasan,” jelas Yeni.

Risiko Depresi Hingga Gangguan Kepribadian

Dampak kelima yang sangat serius adalah gangguan kesehatan mental. Melihat pertengkaran terus-menerus, terutama jika disertai kekerasan, dapat membuat perkembangan otak anak tidak sehat. Anak akan selalu merasa cemas, tidak percaya diri, hingga mengalami depresi yang bisa bermanifestasi pada gangguan fisik.

Bentuk depresi ini bisa berujung fatal. Yeni memperingatkan adanya risiko anak meniru tindakan ekstrem yang mereka temui di internet, seperti bunuh diri. 

“Karena tidak kuat menahan beban emosional, anak mungkin menganggap mengakhiri hidup adalah cara untuk menyelesaikan masalah,” tambahnya.

Trauma Terhadap Pernikahan

Dampak jangka panjang lainnya adalah munculnya krisis kepercayaan terhadap lawan jenis dan institusi pernikahan. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik akan berpikir bahwa menikah adalah hal yang menyakitkan.

“Tidak menutup kemungkinan, saat mereka dewasa dan berumah tangga, mereka akan mengulangi pola yang sama seperti orang tua mereka, bahkan bisa menunjukkan perilaku ganda,” tutup Yeni. (uni)

Editor : Chairunnisya
#psikolog #anak #tumbuh kembang anak #Depresi Anak #pertengkaran