PONTIANAK POST - Ketika anak-anak seusianya larut dalam permainan modern dan budaya populer, Tri Wiryawan memilih jalan yang berbeda. Di usia 25 tahun, pemuda asal Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya ini justru mantap memperdalam warisan budaya Jawa: gamelan dan wayang kulit. Kecintaannya terhadap seni tradisi bukan hal yang datang tiba-tiba. Sejak kecil, Wirya sapaan akrabnya—telah akrab dengan suara bonang, kendang, dan gong. Keluarganya memang memiliki darah seni yang kental. Sang nenek bahkan sempat berpesan agar kelak cucunya bisa menjadi seorang dalang.
“Sejak kecil saya suka lihat pementasan, bahkan sampai tidur-tiduran di antara gamelan,” tutur Wirya saat ditemui di kediamannya Senin (5/5).
Ketertarikan itu kian tumbuh saat ia duduk di bangku kelas 5 SD. Kepada orang tuanya, ia terus mengutarakan keinginan untuk bisa menjadi pemain seni atau dalang. Tak ingin bakat putranya sia-sia, kedua orang tua Wayan pun membulatkan tekad: menyekolahkannya ke Pulau Jawa, tempat di mana seni tradisi berkembang dengan kuat.
Perjalanan pendidikan seni Wirya bermula dari salah satu SMA di Surakarta. Lulus dari sana, ia melanjutkan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, kampus bergengsi bagi para seniman muda. Wirya diterima sebagai mahasiswa angkatan 2017 dan resmi lulus tahun 2021, dengan jurusan pedalangan. “Kuliah di ISI membuka mata saya, bahwa budaya kita sangat luar biasa. Bahkan mahasiswa dari luar negeri seperti Prancis, Jepang, dan Jerman datang jauh-jauh ke kampus hanya untuk belajar budaya lokal kita,” katanya.
Justru dari sanalah muncul keresahan di hati Wayan. Dia menyaksikan bagaimana budaya Jawa dan seni tradisi Indonesia mendapat tempat terhormat di mata orang asing, namun mulai dilupakan oleh sebagian generasi muda Indonesia sendiri. “Kalau orang luar saja tertarik dengan budaya lokal, kenapa kita sebagai putra daerah tidak tertarik belajar dan melestarikannya?” ujarnya penuh tanya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Wirya memilih kembali ke tanah kelahirannya, Kalimantan Barat. Di kampung halamannya, ia tak tinggal diam. Setahun terakhir, ia bergabung dengan komunitas pecinta seni tradisi, khususnya dari kelompok kuda lumping. Bersama mereka, ia rutin menggelar latihan gamelan dan pedalangan setiap Senin malam di rumahnya yang sederhana di Jalan Nurul Huda. Namun melestarikan seni tradisi di daerah yang minim infrastruktur bukan perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah kelengkapan alat musik gamelan. Karena tidak ada pengrajin gamelan di Kalimantan Barat, Wirya terpaksa harus mendatangkan langsung dari Pulau Jawa. Biaya pengiriman yang tinggi sering kali menjadi kendala. “Kalau butuh alat, saya harus pesan ke Jawa. Ongkos kirimnya besar, jadi kami melengkapi sedikit demi sedikit,” katanya.
Dia berharap pemerintah daerah bisa memberi ruang dan perhatian lebih kepada para pelaku seni tradisional. Menurutnya, seni budaya bukan hanya soal hiburan, tetapi juga identitas bangsa. “Banyak seniman muda di Kalbar yang ingin berkembang, tapi minim fasilitas dan dukungan. Semoga ke depan ada perhatian lebih agar budaya kita tidak punah di kampung sendiri,” pungkasnya. (ash)
Editor : Hanif