Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Senja Kala Dunia Layar Kaca

Miftahul Khair • Selasa, 17 Juni 2025 | 14:26 WIB
Warga Desa Sukabangun, Kabupaten Bengkayang dapat menikmati hiburan di televisi semenjak listrik hadir di desa mereka.
Warga Desa Sukabangun, Kabupaten Bengkayang dapat menikmati hiburan di televisi semenjak listrik hadir di desa mereka.

Oleh: Dea Citra Rahmatika*

 

Air mata presenter Kompas TV, Gita Maharkesri, tak mampu tertahan ketika menyampaikan salam perpisahan dalam episode terakhir Kompas Sport Pagi, 30 April 2025. Potongan video ini viral dan mengundang keprihatinan banyak pihak. Seolah membuka mata publik, bahwa frasa senja kala industri televisi memang nyata di depan mata.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan jumlah penonton televisi sebesar 3,25 persen dalam periode 2018 – 2021. Dulu layar kaca menjadi pilihan pertama ketika mencari informasi dan hiburan. Kini, pemirsa berpaling pada layar ponsel; yang memiliki layar lebih kecil, namun daya jelajah lebih luas.

Industri penyiaran nasional bukannya tak berbenah. Dalam ekspos Indeks Kualitas Program Siaran Televisi (IKPSTV) pada bulan Agustus lalu, secara umum Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyebut, indeks kualitas program siaran mengalami perbaikan dibanding periode sebelumnya. Namun, kualitas saja nyatanya tidak cukup. Kehadiran media sosial hingga platform streaming dengan algoritmanya, membuat pemirsa bebas memilih informasi yang mereka kehendaki.

Dulu, kita akan mengingat jadwal tayang program favorit di televisi. Sekarang, kita bebas memilih tayangan yang kita sukai, di jam yang kita atur sendiri. Begitu pula soal kecepatan. Untuk menghadirkan satu berita di televisi, diperlukan beberapa tahap produksi sebelum tayang. Sementara di media sosial, informasi peristiwa dapat cepat disebarluaskan. 

Biaya produksi konten digital juga lebih murah dibanding biaya produksi televisi. Untuk sebuah konten video talkshow di Youtube misalnya. Hanya dengan satu pembawa acara, satu juru kamera, dan satu editor, video sudah dapat ditayangkan. Sementara untuk program talkshow di televisi, umumnya diperlukan sejumlah divisi. Mulai dari divisi produksi, yang terdiri dari produser, asisten produser, pembawa acara, tim juru kamera, serta editor. Setelah program siap untuk ditayangkan, ada fase kontrol kualitas dan penayangan yang menjadi tanggung jawab Control Room.

Rumitnya proses produksi berdampak pada tarif iklan di televisi. Umumnya, biaya iklan di platform digital lebih rendah. Sehingga usaha dengan skala kecil dan menengah cenderung menggunakannya sebagai alternatif promosi. Keunggulan lain, iklan digital dapat lebih fokus tertuju pada audiens yang sesuai dengan jenama tertentu yang berpotensi besar membeli. Lagi-lagi dengan kekuatan bernama algoritma.

Bisnis yang melemah, memaksa sejumlah stasiun televisi mengambil langkah efisiensi. Desember lalu, PT. Cakrawala Andalas Televisi (ANTV) mengaku melakukan PHK pada 57 orang karyawan di Divisi Produksi. Sementara stasiun televisi milik MNC Group, INews TV, menutup semua biro daerahnya mulai 30 April lalu. Penutupan biro daerah ini disertai pemutusan hubungan kerja pada 400 orang karyawan dari berbagai divisi.

Salah satu biro yang ditutup adalah INews TV Biro Pontianak. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Barat, M.Y.I Deddy Malik, menyatakan, INews TV Pontianak telah menyampaikan surat resmi untuk pamit dari Kalimantan Barat. KPID Kalbar menyatakan menghargai keputusan yang diambil manajemen INews. Namun KPID Kalbar juga mengajak lembaga penyiaran tidak patah semangat di tengah tantangan disrupsi digital.

Jika ditilik kebelakang, kehadiran lembaga penyiaran lokal khususnya televisi, dimulai saat pelaksanaan Sistem Stasiun Jaringan (SSJ). Sistem yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, Melalui SSJ, Stasiun TV Nasional harus bekerja sama dengan stasiun TV lokal dengan skema berjaringan. Stasiun TV lokal wajib menyiarkan konten lokal sekurang-kurangnya 10 persen dari total waktu siaran dan ditayangkan pada jam produktif.

Di Kalimantan Barat, sistem ini membuat kita mengenal KompasTV Pontianak (jaringan KompasTV), INews TV (MNC Group), PonTV (Jawa Pos), TvOne Pontianak, dan lain sebagainya.

Kehadiran TV lokal lebih dari sekadar alternatif kanal siaran. Kehadiran lembaga penyiaran lokal diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat atas informasi dan hiburan bernuansa daerah. Sederhananya, ketika menyaksikan buletin berita berdurasi 60 menit di tv nasional, mungkin pemirsa akan menemukan satu atau dua berita tentang Kalimantan Barat. Sementara di TV lokal, kita bias menyimak berita dari Kalimantan Barat secara utuh dalam program berdurasi 30 hingga 60 menit. 

Televisi lokal juga menjadi wadah bagi talenta-talenta lokal untuk menyalurkan bakatnya di industri penyiaran. Jika kita mengingat kembali masa 2007 – 2015, industri televisi di Kalimantan Barat tumbuh pesat. TV lokal hadir dan memberikan warna di tengah masyarakat. Menjadi oase ketika konsumsi media arus utama saat itu didominasi pemberitaan dari Pulau Jawa.

Kini, televisi mulai membangun kanal digital mereka, mencoba peruntungan di medan yang berbeda, namun menawarkan kualitas yang sama. Hal yang mungkin selama ini luput dari perhatian khalayak, bahwa selama ini ada standar kualitas yang dipegang dan dijaga televisi namun belum tentu bisa diterapkan oleh semua kreator konten di luar sana. Bagaimana rambu-rambu dalam Kode Etik Jurnalistik hingga Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), menjadi panduan insan televisi menghasilkan karya mereka.

Dalam sejumlah kesempatan, KPID Kalbar,pun mengajak para pemangku kepentingan bekerja sama dengan Lembaga Penyiaran (LP). Pertemuan ini bertujuan memberikan gambaran tentang kelebihan LP, dan mengajak instansi pemerintah mengutamakan kerja sama dengan Lembaga Penyiaran dalam iklan hingga sosialisasi program mereka.

Seperti senja yang pasti hadir untuk menuju pergantian hari, perubahan tidak pernah bisa dihindari. Kemampuan adaptasi insan televisi diuji. Menyisakan satu kata kunci: agility. ***

 

*Penulis adalah praktisi komunikasi yang berkecimpung lebih dari 15 tahun di televisi dan radio.

Editor : Miftahul Khair
#opini #televisi