Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
TAKDIR boleh jadi oleh sebagian orang ditakuti. Sebenarnya, datang dan pulang takdir memiliki maksud mulia. Memuliakan bagi orang yang mengerti dan menghinakan orang yang tidak paham, apalagi menyalahkan takdir. Mengingat setiap orang telah dikalungkan di lehernya, liontin takdir.
Meski berada pada lingkar takdir, manusia masih diberi kebebasan memilih (ikhtiar). Namun, pilihan manusia tidak lari dari kepungan takdir, tidak bisa melompat dari garis batas takdir. Sungguh yang diperlukan saat ini adalah bersikap lembut terhadapnya. Ibarat bagaimanapun hebat dan canggih alutsista, akan menjadi piawai bila di tangan prajurit handal.
Maksudnya, diperlukan sifat kelembutan dalam menyikapi takdir. Bila kekuatan yang mengedepan, maka Tuhan berikan lagi takdir yang keras daripada yang telah lalu. Syekh Ahmad Ibnu Athaillah (wafat: Mesir, 709 H) berkata, “Mintalah kelembutan dari Tuhanmu, dalam takdir-Nya (Allahumma inna nas'alukal-luthfa).”
Betapa banyak pasien sakit, gara-gara memikirkan takdir orang lain yang sudah pasti. Padahal, yang bersangkutan sedang menjalani takdir. Takdir taat dikomentari, takdir maksiat dicaci-maki, takdir nikmat didengki dan diiri hati, takdir bala' ditakuti. Lebih parah lagi, bila melakukan perlawanan terhadap takdir. Bukankah sama dengan melawan ketentuan diri sendiri, atau sedang menghadapi musuh tanpa objek. Tujuannya, berhentilah menyesali takdir diri, dan berhentilah menyesali takdir orang lain. Sesuatu yang telah berlalu, tidak akan mungkin datang kembali.
Masa yang telah berlalu tidak akan mungkin datang kembali. Namun, Dia masih memberi kesempatan sebelum kesempatan untuk bertaubat ditutup. Selama hayat dikandung badan, sebelum nyawa di tenggorokan. Artinya, di dalam taat terdapat pesan hati untuk selalu bersyukur. Sebab nutrisi dan gizi hati wajib selalu mendapatkan asupan yang seimbang, santapan rohani. Bukan membiarkan kerja taat tanpa kontrol. Taat yang tanpa kontrol bisa menyebabkan ahli taat menjadi seperti Bal'am bin Ba'ura. Ahli taat tidak akan diganggu dengan aktivitas taat (ibadah formal, mahdhah), tetapi diganggu oleh perasaan, pikiran dan dikacaukan radar ketuhanan. Sebab iblis datang dari segala sisi.
Iblis dapat menyerupai ahli taat yang luar biasa ('abid). Dapat menjadi ahli ilmu yang mumpuni ('alim). Menjelma menjadi manusia atau masuk ke dalam rangka tubuh manusia, sudah menjadi kodratnya. "Minal jinnati wannas" (dari bangsa jin dan manusia). Hingga ke dalam salat, iblis berbisik-bisik mengacaukan konsentrasi salat. Dia masuk ke dalam hati manusia ketika salat, was-was, keraguan, kebimbangan. Hati merupakan sentral taat dalam salat. Bacaan, gerakan, pakaian, badan, tempat ialah sisi luar salat.
Fokus gangguan jin Khannas berlokasi di akal dan di hati (fi shudurinnas). Ujung takdir mengantarkan Syekh Bal'am bin Ba'ura (seorang ahli ibadah) ke pintu neraka (kesengsaraan).
Kala lain, iblis menyerupai orang miskin yang durhaka. Padahal, manusia tertipu oleh hakekatnya sendiri. Berdiri pada barisan penista agama, sementara mereka adalah kaum terpercaya, terpelajar pula.
Nabi dan imam palsu bertebaran jumlahnya, sehingga mencapai ribuan pengikut yang siap disesatkan. Proyek Dajjal akhir zaman, dengan segala cara. Ada yang bangga dengan banyaknya jumlah jamaah yang ijtima' (berkumpul). Ada yang bangga dengan jumlah korban sapi dan sumbangan beras berton-ton. Ada yang bangga dengan jumlah rakaat salat. Bahkan, ada yang sombong dengan bolak-balik Mekah-Madinah-Pontianak.
Bila sutera halus, tipuan iblis lebih halus lagi. Bila rambut tipis, jebakan iblis lebih tipis lagi. Bila silet tajam, goresan luka dari iblis lebih tajam lagi. Tuhan menerangkan: "Godalah mereka dengan semua kemampuan yang engkau miliki (iblis), sekuat tenagamu. Hai iblis, rayu manusia dengan suara manismu yang mendayu-dayu. Hai iblis, kerahkan seluruh batalyon pasukan tempur pejalan kaki (infanteri), berkuda (kavaleri), dan bersenjata berat (artileri). Berserikatlah engkau (iblis) untuk menyesatkan manusia dengan harta dan anak keturunan. Beri mereka janji-janji. Dan tiadalah janji iblis kecuali tipuan. Sungguh terhadap hamba-hamba-Ku, kamu tidak akan sanggup merayu. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai wakil yang dapat diandalkan." (Baca: Al-Isra' ayat 61-65).
Demikian pula dalam dosa. Orang yang terlanjur berbuat dosa, jangan terus dilanjutkan. Bila terus melakukan dosa, sama dengan memperolok-olok yang Maha Pemaaf. Cepat segera hentikan dosa, berlarilah menuju yang maha pengampun. Sehingga orang yang bertaubat dari dosanya, sama dengan orang yang tidak pernah berbuat dosa. Ini menunjukkan stok ampunan sang Tuhan lebih banyak daripada dosa hamba-Nya. Maknanya, dengan sifat kemaafan, Dia hapus dosa hamba-Nya. Dengan sifat keampunan, Dia ganti perbuatan jahat dengan perbuatan baik hingga akhir hayat si hamba.
Namun si hamba jangan sampai terlena dengan sifat keampunan dan kemaafan. Lalu dengan sengaja berbuat dosa. Untuk faktor kesengajaan tersebut, sangat besar dosa dan sangat perih siksa dari yang maha kuasa. Imam Ahmad Ibnu Athaillah Assakandari (wafat: Mesir, 709 H) menganjur untuk beradab baik kepada sang maha penyayang dalam perilaku taat dan maksiat.
Syekh Ibnu Athaillah memberi petuah cara hakekat beradab kepada yang Maha Pemurah dalam menyikapi taat. Yakni, menyerahkan semua taat hamba kepada yang Maha Pemurah. Diyakini ketaatan terbit semata-mata karena pertolongan dari-Nya. Bukan kekuatan dari si hamba. Justru yang Maha Pemurah akan berkata, “Hai hamba-Ku, taatmu adalah usahamu, Aku hanya meridhai. Berbahagialah dengan taat yang tidak disusupi oleh kesombongan. Bergembiralah karena engkau tidak merasa baik dan mulia saat beribadah kepada-Ku. Sifat baik dan mulia ialah selendang-Ku. "Keagungan adalah selendang-Ku. Siapa yang mencuri selendang-Ku, Aku campakkan ke neraka yang menyengsarakan selamanya." (Hadis Qudsi).
Sebaliknya, dalam menyikapi maksiat (dosa), hakekat adab adalah pengakuan atas dosa pribadi (i'tiraf), tersungkur, bersujud dan menangis. Maha Pengampun akan menyapa lembut, “Hai hamba-Ku, kedurhakaan yang engkau buat, adalah takdir-Ku atasmu. Berbahagialah saat engkau tidak menyalahkan Aku dalam perbuatan dosamu. Hai hamba-Ku, dosa merupakan rantai-rantai ujian jiwa. Untuk mengujimu dengan dosa. Apakah engkau semakin jauh atau semakin dekat dengan-Ku? Padahal Aku bukan jauh dan Aku bukan dekat. Aku adalah diri sejati. Diri sejati dialah Aku.”
Masih ada dua lagi, menyikapi takdir musibah (ujian) nikmat dan musibah (ujian) bala',
Ibnu Athaillah mengajak untuk menggunakan akal sehat dan hati yang hening. Supaya tercapai
puncak keserasian. Bala' dan nikmat ibarat dua sisi koin yang sama penting. Keduanya hanya
dipisahkan oleh seutas benang. Jika salah menyikapi nikmat, maka nikmat menjadi bala'.
Takdir nikmat wajib disyukuri dengan perilaku ketundukan yang tulus. Bukan berpura-pura dalam bentuk pamer taat dan pamer nikmat. Tidak sekadar ajakan taat, tetapi ajakan taat telah bisa melukai hati yang diajak, bukan berpahala. Terlebih yang diajak ialah orang miskin yang sangat sensitif (halus) perasaan batinnya. Nikmat yang diberikan oleh sang penyayang bertujuan menjaga diri sendiri dari dosa, bukan menjaga orang lain. Sebab setiap orang akan bertanggungjawab terhadap diri masing-masing (nafsi-nafsi).
Takdir bala' (derita, bencana) wajib disikapi dengan sabar. Sikap sabar dalam menerima ujian derita, pasti yang maha pengasih akan menyediakan promo pahala besar-besaran (big sale). Berupa ampunan, kenaikan pangkat dan derajat, royalti pahala yang tiada putus, hingga masuk surga tanpa hisab. Keagungan pahala sabar dalam menerima musibah derita, sakit, kematian, tidak bisa ditebus dengan pahala salat, zakat, puasa sepanjang tahun. Sebab mereka yang sabar menerima musibah bala' merupakan puncak iman, yaitu berbaik sangka kepada yang maha pengasih. Sebuah bentuk penerimaan tulus.
Simpulan hikmah beriman kepada takdir ialah, membuat seseorang lebih tenang, lebih damai. Mampu menstabilkan kerja otak dan saluran saraf (neurotransmitter) menjadi lebih normal. Unsur kimia kognisi bekerja lebih teratur dan nyaman. Kenyamanan akan memantik kebahagiaan. Penerimaan takdir dengan damai dapat meningkatkan hormon dopamin (konsentrasi) lebih terfokus. Mood dan motivasi menjadi lebih terarah dan terkontrol. Banyak lagi hikmah yang dapat dipetik dari keimanan kepada takdir yang sudah pasti ditetapkan dan dijalani. Wallahualam.**
Editor : Hanif