Oleh: Thamrin Usman*
Di ambang pintu waktu yang mulai terhias cahaya, kita dihadapkan pada sebuah kerinduan yang tak lagi asing. Bukan rindu pada sekadar nama, melainkan pada samudra makna yang akan segera membasahi jiwa. Ramadan, wahai jiwa-jiwa yang merindu, bukanlah bulan biasa. Ia adalah madrasah keimanan, sebuah stasiun kereta api takdir yang melintasi rel-rel kehidupan, membawa para penumpangnya menuju satu tujuan mulia: derajat taqwa.
Allah SWT berfirman dalam Alquran, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183). Sebuah konfirmasi agung bahwa lapar dan dahaga yang kita rengkuh dari fajar hingga senja bukanlah sekadar ritual menahan diri. Ia adalah proses peleburan jiwa, di mana Allah SWT sendiri yang akan mengangkat derajat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Di dunia, ia akan meraih ketenangan hati; di akhirat, ia akan menempati singgasana kemuliaan di sisi-Nya.
Bulan ini adalah museum mukjizat terbesar. Saat Sang Maha Kasih menurunkan Alquran Karim, hudan lin-nās, petunjuk bagi manusia. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang seringkali menyesatkan, Alquran hadir sebagai kompas abadi. Lebih dari itu, di dalamnya tersimpan sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatul Qadar. Malam yang menjadi jawaban atas doa, di mana nilai sebuah ketaatan dilipatgandakan melebihi rentang usia manusia biasa. Siapa yang mampu mengukur nilainya? Hanya Allah yang Maha Tahu.
Namun, rindu pada Ramadan tak hanya berhenti pada magnifikasi pahala semata. Di era sains modern, para ilmuwan dari Negeri Sakura, Jepang, melalui berbagai penelitian, menemukan fakta menakjubkan tentang puasa intermiten. Selama kurang lebih 12 hingga 13 jam kita menahan diri dari makan dan minum, tubuh memasuki mode "daur ulang" yang dikenal sebagai autofagi.
Dalam proses yang elegan ini, sel-sel yang sehat akan "memangsa" dan membersihkan sel-sel yang rusak, tua, bahkan yang ganas. Puasa Ramadan, dengan izin Allah, menjadi terapi regeneratif paling alami, membersihkan tubuh dari "sampah" biologis yang selama ini mungkin bersemayam. Tubuh ini adalah amanah; dan dengan berpuasa, kita tengah melakukan perawatan terbaik atasnya.
Ramadan adalah orkestrasi ilahi yang mengubah ritme biologis kita. Ketika perut dalam keadaan kosong, ego perlahan meluruh. Dinding-dinding hati yang tadinya keras karena gemerlap dunia, mulai menipis, membuka ruang untuk cahaya empati. Di sinilah letak keajaiban sosialnya. Rasa lapar yang kita rasakan secara sadar membangun jembatan emosional dengan mereka yang seringkali tak mampu mengenyangkan perutnya. Rasa empati itu tumbuh subur, menumbuhkan tunas-tunas kemanusiaan: sedekah yang mengalir deras, uluran tangan yang tak lagi hitung-hitungan, dan senyuman yang menjadi sedekah paling mudah. Ramadan mengajarkan bahwa menjadi manusia sejati adalah ketika kita bisa merasakan denyut nadi saudara kita.
Maka, wajar jika rindu itu terus ada. Ia adalah panggilan jiwa untuk kembali ke fitrah, untuk membersihkan raga dan mencerahkan akal. Ramadan 1447 H yang akan segera mengetuk pintu hati kita adalah kesempatan emas untuk menyatukan kembali ikatan spiritual dengan Sang Pencipta, merawat kesehatan jasmani dengan ilmu pengetahuan, dan menguatkan kembali tali persaudaraan sesama makhluk.
Selamat datang, wahai bulan yang dirindu. Mari kita sambut dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih, karena di dalam dirimu, kami temukan resep keselamatan dunia dan akhirat. Selamat Menyambut Ramadan 1447 H.**
*Penulis adalah Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura; Ketua Majelis Mustasyar & Pakar Dewan Masjid Indonesia(DMI) Kalbar.
Editor : Hanif