Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
IMAM Ahmad ibnu Athaillah As-Sakandari rahimahullah (wafat: Mesir, 709 H) menerangkan dalam kitab Al-Hikam tentang amal saleh. Roh yang mampu beramal saleh artinya yang diberi perkenan untuk beramal melewati pintu amal (babul 'amal) yang masuk ke dalam ruang amal. Ruang yang sangat besar, luas, lebar, sehingga banyak amal saleh yang tertumpuk, tersangkut, namun belum terangkut. Perlu daya angkut dan daya dorong guna terhubung dan sampai kepada alamat yang dituju dalam keadaan baik, amal yang selamat tanpa cacat, sehat tanpa sakit.
Sang Imam menyebut ada dua pintu rahasia beramal. Umumnya, umat Nabi Muhammad SAW banyak yang sanggup memasuki pintu perkenan amal. Tapi sedikit yang sanggup menembus pintu penerimaan amal (babul qabul 'amal). Mengapa? Selain seleksi yang ketat, pintunya kecil dan mempersyaratkan amal batin. Keniscayaan satu amaliah lahir harus disertai oleh sepuluh amaliah batin, untuk amal saleh sampai kepada pemiliknya (Allah SWT).
Puasa menjadi sah secara syariat dengan menjaga rukun puasa, yaitu niat dan meninggalkan makan, minum, jimak dan hal-hal yang dapat membatalkan puasa, sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Roh mereka yang sudah berada di posisi perkenan amal. Tapi masih tertahan oleh tahanan amal, tertawan oleh tawanan amal. Maksudnya, belum sanggup melewati pintu penerimaan amal, kecuali telah memenuhi sepuluh hakikat amal dan taat batin.
Diantaranya hadir hati kepada Allah SWT, tauhid, ikhlas, syukur, sabar, rida, tawadhu', khauf, raja', mahabbah, yang tidak kalah penting dari itu semua, sebagai narahubung (wasilah) antara hamba dan Tuhannya, terdapat manusia termulia yang menjadi kekasih Allah SWT yaitu Rasulullah SAW. Beliau Sang Utusan resmi dari-Nya, duta Allah yang membawa doa umat manusia untuk dikabulkan. Duta yang membawa dosa manusia untuk diampuni oleh Tuhan yang maha pengampun.
Ketahuilah, manusia paling beruntung yang pertama kali mendapat syafaat agung dari Rasulullah SAW bukan yang paling banyak salatnya, bukan yang paling rajin puasanya, bukan yang paling gemar zakatnya, bukan yang saban tahun pulang-pergi haji, atau yang paling banyak catatan travel umrahnya. Orang yang terlebih dahulu mendapat syafaat agung dari Rasulullah pada hari kiamat ialah umat Rasulullah yang paling banyak bersalamselawat kepada Rasulullah SAW. Bibirnya basah dan hatinya senantiasa dihujani, disirami oleh salam selawat.
Tidak ada jalan yang sanggup menyampaikan amal saleh, kecuali jalan Rasulullah SAW. Selain jalan Rasulullah SAW adalah jalan taghut (syaitan) dan ego hawa nafsu. Banyak ayat populer tentang zakat, namun harus disertai salam-selawat. Banyak ayat populer tentang salat, tetapi harus dibersamai salam selawat. Banyak ayat populer tentang puasa dan haji, namun harus diiringi, dikawal oleh salam-selawat kepada Rasulullah SAW. Jika tidak, maka semua amal tersebut menjadi kosong, sia-sia belaka. Roh terkatung-katung antara langit dan bumi, roh yang sakit, terikat, terbelenggu, terpenjara. Sampai roh tersebut mengenal Rasulullah SAW, bersalam-selawat atasnya. Banyak roh yang tersesat di akhirat, meskipun roh tersebut pekerja amal saleh selama hidup di dunia. Tapi "ogah" berselawat.
Sudah tiba waktunya, jangan lagi meremehkan salam-selawat. Banyak roh yang tersesat di alam barzakh, orang tua kita, saudara kita yang selama hidup meremehkan amaliah ini. Padahal Allah SWT telah menyatakan: "Jika kamu ingin dicintai Allah, maka ikutilah aku. Niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni semua dosamu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (Ali Imran:31).”
Maknanya, bersama Rasul di dunia dipastikan bersama Tuhan Allah di akhirat. Nur (cahaya) Rasulullah yang menerangi hidup di dunia yang gelap, Rasulullah bin-nurihi (dengan cahayanya) tersingkap malam kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan (82 tahun). Dengan cahayanya, alam kubur menjadi terang, pintu surga menjadi terbuka. Dengan cahayanya, pintu neraka tertutup. Dengan cahayanya sebagai pemberat amal kebaikan. Dengan cahayanya, selamat umat meniti jembatan (shirath). Dengan cahayanya, umat memasuki surga tanpa hisab. Sungguh mulia, sebuah pelimpahan agung dari Allah kepada kekasih kesayangan-Nya, habibi Muhammad SAW.
Berdirilah di bawah bendera kepemimpinan Rasulullah sang-imam. Dengan menunaikan perintah Allah dan menjauhkan larangan-Nya, sebagai tunjuk-ajar dari Rasul Muhammad SAW yang mulia. Jangan pisahkan Allah dan Rasulullah, jangan pisahkan keduanya. Siapa yang memisahkan keduanya, sama dengan memecah-belah agama. Tidak boleh taat kepada Allah tapi maksiat kepada Rasulullah. Tidak boleh rajin salat tapi mengingkari selawat. Tidak boleh beriman kepada Alquran tapi ingkar sunnah. Selaras, serasi, seimbang, seiring dalam menaati Allah dan Rasul-Nya ialah ciri agama Islam yang syamil-kamil.
Mengingat pentingnya posisi Rasulullah SAW tadi, sehingga para sahabat selalu ingin merapat kepada Rasulullah. Mereka ingin bersama, ingin mendekat, tidak mau menjauh. Sebab mereka mengenali dan memahami betapa penting kedudukan Rasulullah di sisi Tuhan Allah. Satu-satunya cara yang sah meraih surga dan serumah dengan baginda Rasulullah kelak ialah merapatkan diri kepadanya.
Kami umat yang hidup di ujung masa, berusaha untuk meraih keutamaan yang diperoleh parasahabat terdahulu. Lalu bagaimanakah caranya? Obatilah rasa cinta dengan selalu bersalam selawat atasnya. Obatilah rasa rindu dengan selalu bersalam-selawat kepadanya. Sampai akhirnya bertemu dengan baginda Rasulullah yang mulia, lahir dan batin. Sayang, kasih, cinta, doa dan perhatian baginda Rasul kepada umat dari dunia sampai akhirat. Wallahualam.**
*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.
Editor : Hanif