Konstruksi Sosial Solidaritas Mahasiswa Difabel Kelas Aksara Arab-Melayu

Hanif • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 14:18 WIB
Saripaini, Dosen LB IAIN Pontianak
Saripaini, Dosen LB IAIN Pontianak

Oleh: Saripaini*

Mengajar mata kuliah Sastra dan Baca Tulis Aksara Arab Melayu umumnya membawa imajanasi kita pada kegiatan mengeja 37 huruf dari alif, ba, ta, ca, ga, hingga nyadalam naskah-naskah klasik atau praktik menulis di atas kertas. Namun, di ruang kelas Manajemen Dakwah semester tiga yang saya ampu, tradisi filologi itu justru bertransformasi menjadi laboratorium sosiologis yang hidup. Di dalam ruang itu duduk empat mahasiswa tuli, satu mahasiswa tunanetra dan sebelas mahasiswa non-difabel. Alih-alih menjadi ruang yang kaku karena sekat-sekat hambatan sensosrik, kelas ini justru meruntuhkan definisi masyarakat tentang “keterbatasan”. 

Hari pertama masuk ke kelas ini sempat menghadirkan kegamaman pedagogis yang hebat di benak saya. Sebuah pertanyaan besar menghantam kesadaran saya “bagaimana mungkin saya mengajar membaca dan menulis aksara Arab Melayu kepada mereka semua secara bersamaan?”. Sebuah tarikan napas panjang sebisa mungkin saya sembunyikan di balik senyum pembuka perkuliahan. Kurikulum perguruan tinggi kerap menyiapkan dosen untuk menghadapi kelas yang homogen, namun terasa gagap ketika berhadapan dengan keragaman kondisi manusia yang nyata.

Akan tetapi, kegamaman di sesi perkenalan itu perlahan runtuh oleh dua kejutan kecil. Pertama, seorang mahasiswa tuli menyodorkan mikrofon kecil yang terhubung ke gawai milik rekan-rekan tuli, mengubah setiap ucapan lisan saya menjadi deretan teks instan (live transcribe) di layar ponsel mereka. Kedua, saya mendapati bahwa sebelas mahasiswa non-difabel di kelas itu tidak duduk sebagai penonton pasif. Ketika mahasiswa yang bertugas sebagai Juru Bahasa Isyarat (JBI) utama memberi dorongan, rekan-rekan sekelas lainnya tampak luwes saling menunjuk dan bergantian membantu menerjemahkan percakapan ke dalam bahasa isyarat.

Kematangan ekosistem kelas semester tiga ini, menjadi semakin jernih maknanya ketika saya membandingkan dengan kelas lain yang juga saya ampu di semester satu. Di kelas semester satu tersebut, terdapat pula empat mahasiswa Tuli dan dua puluh mahasiswa non-difabel. Namun, suasananya sangat kontras. Mahasiswa non-difabel masih nampak canggung, kaku, dan sepenuhnya menggantungkan jembatan komunikasi kepada satu orang JBI. Kendati demikian, di tengah kecanggungan ruang kelas semester satu itu, empat mahasiswa tuli tersebut tidak pernah sekalipun mengabaikan kesempatan yang saya berikan untuk bertanya atau menyampaikan hasil bacaan. Setiap kali jemari mereka mulai bergerak, keheningan menyergap ruangan, semua pasang mata tertuju penuh kepada mereka yang gigih mengikuti alur diskusi.

Realitas yang Diciptakan

Perbandingan kedua ruang kelas ini adalah laboratorium hidup bagi tesis sosiolog Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam The Social Construction of Reality (1966).Berger menegaskan bahwa tatanan sosial bukanlah takdir kaku yang jatuh dari langit, melainkan realitas yang diciptakan, dipelihara, dan diubah oleh manusia melalui interaksi sehari-hari. Tembok penghalang bagi penyandang disabilitas sejatinya bukanlah kondisi biologis mereka, melalinkan konstruksi sosial masyarakat yang merancang ruang hidup hanya untuk satu standar “kenormalan”.

Apa yang terjadi di kelas semester satu adalah tahap awal peruntuhan tembok tersebut, momen ketika manusia mencurahkan daya adaptasi kedunia sosial (eksternalisasi). Keberanian mahasiswa tuli semester satu untuk terus angkat bicara di tengah kecanggungan teman-temannya adalah pernyataan eksistensial. Tatapan seluruh kelas yang terpaku pada gerak tangan mereka adalah titik awal tumbuhnya kesadaran kolektif baru.

Benih yang ditanam di semester satu itulah yang saya panen dalam wujud matang di kelas semester tiga. Setelah melewati interaksi intensif selama berbulan-bulan, tindakan saling menopang tersebut telah menjadi sebuah kebiasaan dan pelembagaan (objektivasi). Solidaritas tidak lagi canggung atau menunggu komando dosen, melainkan telah menjadi struktur sosial yang bekerja otomatis.

Selasa, 20 Oktober 2026 dalam sesi diskusi kelas semester tiga, orkestrasi sosial itu tampil begitu memukau. Seorang mahasiswa tuli tampil di depan kelas sebagai pemakalah, membahas tentang persamaan huruf latin dengan huruf aksara Arab Melayu melalui gerak tangan. Di sebelahnya, mahasiswa tunanetra memegang kendali diskusi sebagai moderator. Sementara itu, seorang mahasiswa non-difabel juga bertugas sebagai penyaji sekaligus pemegang mickrofon kecil agar suara moderator dapat dimengerti oleh mahasiswa tuli. Di sisi lain, ada JBI yang membantu menerjemahkan isyarat mahasiswa tuli agar dimengerti oleh Dosen. Di luar ruang kuliah pun, pemandangan serupa kerap terjadi. Mahasiswa tuli menjadi penunjuk jalan bagi rekan tunetra dalam menaiki tangga dan menelusuri lorong kampus.

Dalam kacamata sosiologi Emile Durkeheim, kelas ini telah melampaui rasa iba menuju solidaritas organik, yakni kesatuan yang lahir dari ketergantungan fungsional. Mahasiswa tuli “meminjamkan” matanya untuk menuntun langkah sang tunanetra. Sementara di ruang diskusi mahasiswa tunanetra “meminjamkan” kepekaan telinga serta artikulasi suaranya sebagai moderator untukmenyambung gagasan rekannya yang tuli.

Titik Makna Baru

Puncak paling menggetarkan dari proses kontruksi sosial ini terjadi Ketika nilai-nilai inklusivitas tersebut diserap Kembali ke dalam batin tiap individu (internalisasi). Di kelas semester tiga itu, kerap kali nampak menggerakkan jari-jemarinya menggunakan Bahasa isyarat saat menyapa, memberi salam, dan menyelipkan beberapa kosa kata diiringi dengan gerakan tangan, dengan harapan teman tuli juga dapat mengerti.

Bayangkanlah, seorang tunanetra yang tidak pernah melihat wujud visual dari gerakan tangannya sendiri, rela meraba udara untuk memproduksi simbol visual demi menyapa dunia sunyi sahabatnya. Sebagaimana digagas filsuf sosial George Herbert Mead, kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain (taking the role of the other) adalah fondasi tertinggi kemanusiaan. Di kelas ini, bahasa isyarat telah bertransformasi dari sekadar alat bantu teknis menjadi bahasa empati kolektif.

Pengalaman di dua ruang kelas ini memberi pelajaran berharga bagi kebijakan pendidikan tinggi inklusif di Indonesia. Kampus inklusif tidak cukup dibangun hanya dengan menyediakan jalur landai (ramp), kuota penerimaan, atau tumpukan regulasi di atas kertas. Inklusivitas sejati membutuhkan ruang perjumpaan yang membiarkan mahasiswa lintas kondisi indrawi berinteraksi, mengalami kecanggungan bersama di semester awal, hingga akhirnya menemukan bahasa solidaritas mereka sendiri. Diiringi dengan pembenahan kesiapan tenaga pengajar untuk tidak menjadi tamu dalam ruang inklusif ini.

Mempelajari aksara Arab Melayu pada hakikatnya adalah mempelajari kearifan leluhur Nusantara dalam memodifikasi abjad Arab menambahkan titik-titik baru pada huruf “ca” (چ), “nga” (ڠ), “pa” (ڤ), “nya” (ڽ), “ga” (ڬ)agar tak ada bunyi lokal yang terbungkam. Dari balik mikrofon kecil di meja dosen, saya menyadari bahwa keenam belas mahasiswa saya sedang menulis ulang sejarah akulturasi tersebut. Mereka menambahkan "titik-titik makna baru" di ruang kuliah agar tak ada satu pun manusia yang tertinggal di luar percakapan.

Semoga bermanfaat…

 

*Penulis adalah Dosen LB IAIN Pontianak, Mahasiswa S3 Program Doktor Studi Islam Pascasarjana IAIN Pontianak

Editor : Hanif
Aksara Arab Melayu Mahasiswa Disabilitas Kesetaraan Pendidikan Sosiologi Pendidikan pendidikan inklusif