Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
CEMAS terhadap diri sendiri dan cemas terhadap orang lain, itulah gempa pada diri. Kecemasan yang melanda semua orang menyatakan kiamat telah terjadi. Merata gempa, bukan sebatas Gunung Merapi, Galunggung, atau Rinjani. Manusia saling bertengkar tanpa ruang untuk saling mengerti dan memahami. Ego yang mengemuka, marah yang mengedepan. Lalu, untuk apa diskusi?
Memang, bagi sebagian orang ada yang menjalani hidup dengan payah, menggapai asa dengan susah, dan meraih sukses berbalut lelah. Meraup cita-cita penuh luka. Namun bagi sebagian orang, semua yang diasa, diharap, dan dicita mudah diraih. Sejak kecil, muda, hingga tua penuh berkelimpahan, berkebahagiaan, dan berketenangan; ditutup dengan husnulkhotimah dan masuk surga. Bukan ilmu dan amal yang salah, melainkan citra diri dalam membangun relasi dengan Tuhan, manusia, dan semesta secara aman, damai, serta bahagia. Artinya, hidup bukan ditentukan oleh orang lain dan semua faktor eksternal.
Orang lain dan seluruh faktor eksternal hanya dampak ikutan dari jiwa diri yang memproteksi, memproyeksi, dan mempersepsi edukasi.Ibaratnya, jika ingin menjadi langit biru dan tidak berharap menjadi awan kelabu, jangan berharap kepada doa orang lain. Tuntaskan diri dengan Tuhan Allah Yang Maha Esa. Bukan berharap, tidak mendamba, dan haram mengiba kepada makhluk ciptaan, meski mereka "orang suci." Maksud isyarat ini adalah: tidak memuji orang baik, tidak menghina orang jahat.
Sikap netral sangat diperlukan untuk berpikir tenang, berpikir tengah; berperasaan bahwa diri bahagia tanpa memerlukan support kebahagiaan dari orang lain dan lingkungan. Stabilitas temperatur batin yang didata dengan tidak "merah" kalau dipuji, dan tidak marah kalau dimaki. Biasa-biasa saja, bersikap dewasa saat kaya, dan bersikap dewasa saat menderita. Orang yang demikian sudah tuntas dengan dirinya. Tidak lagi diombang-ambingkan oleh lingkungan sekitar. Biar berjalan sendiri dalam kebenaran daripada berombongan yang sesat dan tidak tahu arah.
Kini diri ditinggalkan oleh manusia yang dahulu dibela, disayang, dan dicinta. Pada saat yang bersamaan, Tuhan datang merapat supaya diri menjadi langit biru dan meninggalkan awan kelabu. Bukankah diri yang sekarang berbeda dengan diri yang dahulu? Variabel diri yang dahulu sangat kuat ketergantungannya kepada makhluk—ketergantungan kepada bank-bank konvensional dan bank syariah. Diri yang dahulu sangat berkepentingan terhadap ilmu, iman, dan amal.
Diri yang dahulu sangat mendamba sanggup menjawab pertanyaan Munkar-Nakir di kubur; diri yang diiming-imangi dengan surga dan ditakut-takuti dengan neraka. Variabel antaranya adalah menjawab: siapa diri yang diiming-imangi, ditakuti, dan mendamba sanggup tersebut? Jangan hidup bergantung kepada suami, sebab suami pasti mati. Jangan berpegang kepada anak, sebab anak akan melepasmu dan pergi bersama pasangan hidupnya. Pepatah tidak berlebihan sekiranya dikatakan bahwa "hidup adalah bayang-bayang awan, kasih-kasih embun."
Berikan apa yang telah diberi. Lepaskan apa yang sudah dilepas. Tolong lupakan apa yang telah ditolong. Hanya ada satu kata: ikhlaskan! Jangan diingat lagi, kecuali hanya menyisakan perih penyesalan. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Hidup berbahagia hari ini, sekarang, dan di sini (here and now). Jangan menjadi orang masa lalu karena sudah lewat. Jangan menjadi orang masa depan karena belum digarap.
Orang yang tuntas dengan dirinya bukanlah yang bergelar jenderal, kiai, profesor, maha, atau sakti. Orang yang sudah tuntas dengan dirinya adalah ketika tidak lagi terseret dengan perdebatan atas-bawah. Meskipun gelar nabi mempersyaratkan adanya umat, kiai menunjukkan disparitas dengan santri, dan profesor menunjukkan gelar penghormatan akademik tertinggi, hakikat semuanya ada di dalam yang satu (syuhudul katsrah fil wahdah).
Dan hakikat yang satu adalah semua (syuhudul wahdah fil katsrah).Diharapkan setiap orang memahami diri dan lingkungan supaya dirinya tidak terjebak oleh lingkungan. Lingkungan sudah jauh berubah, sementara ia masih menerapkan pola-pola lama yang telah usang dalam anggapan banyak orang.
Tipe dan watak zaman selalu berubah. Sekarang, banyak orang mencari sensasi dan gengsi daripada mencari esensi. Tidak diikuti, akan tertinggal oleh generasi yang sudah berbeda 30 tahun yang lalu. Diikuti, artinya mengikuti watak zaman kekinian yang belum tentu selaras dengan nilai zaman dahulu. Gamang di persimpangan jalan, gampang tersesat dari jalan lurus. Bila tetap berjalan di garis lurus, siap-siap tidak disenangi (dibenci). Sikap mencemooh, dengki-mendengki, jatuh-menjatuhkan, menyebar hoaks, dan perundungan menjadi berita harian.
Seruan kembali kepada kitab Allah (Al-Qur'an) dan Sunah Rasulullah di akhir zaman sekarang merupakan seruan penting di tengah hiruk-pikuk, riuh, dan gaduhnya kehidupan. Memahami dan menyelami makna, hikmah (kebijaksanaan), serta jauhari (mutiara) kalam Tuhan bisa menenangkan hati. Bila tidak, manusia tidak pernah berkompromi dengan situasi dan kondisi sekitar. Ujian datang bertubi-tubi. Kini, hal yang tidak diinginkan justru hal itulah yang datang. Di antaranya, banyak ibu yang melahirkan tuannya. Artinya, sulit menemukan anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Jika orang tua kaya, anak jadi raja diraja. Jika orang tua miskin, orang tua jadi hamba sahaya. Dari jadwal mengasuh anak sampai jadwal mengasuh cucu, kapan waktu istirahat dan beribadah secara tenang tanpa diburu waktu?
Ajakan untuk bersikap ikhlas sangat mendesak ketika merespons situasi. Bila tidak, waktu terbuang percuma, investasi kesehatan terkuras, tenaga habis, kerugian finansial terjadi, hingga merenggut nyawa. Apa yang wajib dilakukan hari ini adalah bersyukur terhadap apa yang ada. Jangan besar pasak daripada tiang. Mimpi manis masa depan tidak semanis realitas. "Kemponan" artinya mati oleh ambisi pribadi karena apa yang telah dikeluarkan tidak sesuai dengan pendapatan yang masuk.
Pepatah mengatakan: "Seberat-berat mata memandang, lebih berat bahu memikul."Ajaran qana'ah, yaitu merasa cukup terhadap pemberian Allah, hari ini mulai digemakan karena kebutuhan lebih besar daripada pendapatan. Bagi orang yang hidupnya terbiasa berstandar tinggi, sulit menyesuaikan antara harga pasar dan harga diri yang sama-sama mahal. Harga diri yang tinggi menuntut pelayanan yang lebih terhormat: rumah bergaya hotel, mobil bermerek, pakaian berkelas, jalan-jalan (traveling) tiap bulan, olahraga bergengsi, serta kolega "papan atas". Minum kopi di kafe, makan camilan di restoran, belanja ke luar negeri hingga di hypermart internasional, umrah saban tahun, serta wisata religi setiap semester.
Ajaran rida mendidik jiwa untuk kuat menghadapi hal yang tidak diinginkan karena yang menolak penderitaan itu adalah keinginan diri (hawa nafsu). Nafsu ingin kaya, tidak mau miskin. Nafsu ingin terhormat, tidak mau terlaknat. Nafsu ingin tercepat, tidak mau terlambat. Nafsu ingin banyak, tidak mau sedikit. Nafsu ingin di depan, tidak mau di belakang. Ternyata, ibadah dapat diselimuti oleh hawa nafsu.Ujungnya, hidup hanya sebatas menjadi awan lalu hilang.
Jangan mau diombang-ambingkan oleh pemahaman kebanyakan manusia. Kebanyakan manusia tidak memahami, artinya sedikit sekali yang paham. Misal, hari ini banyak manusia yang tidak bisa merasa untuk membedakan mana suasana tahniah (ucapan selamat) dan mana suasana takziah. Keduanya tampak sama, seakan-akan pesta (makan dan minum). Kebanyakan manusia tidak bersyukur, artinya sedikit sekali yang bersyukur. Bila syukur bermakna terbuka, kufur diartikan sebagai ketertutupan hati—hati yang menolak hidayah. Wallahu a'lam.**
*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.
Editor : Hanif