PONTIANAK POST - Banyak orang tua merasa gelisah ketika anak mulai beranjak remaja dan menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis. Pertanyaan yang sering muncul: kapan sebenarnya anak siap menjalin hubungan romantis?
Menurut Cania Mutia, M.Psi., Psikolog, usia bukanlah patokan utama dalam menentukan kesiapan anak untuk berpacaran. Justru, kesiapan emosional dan psikologis jauh lebih menentukan dibanding sekadar angka usia.
“Indikator yang lebih relevan adalah regulasi emosi, kecerdasan emosional, kemampuan komunikasi, self-esteem, identitas diri, serta kontrol diri,” jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Regulasi emosi berkaitan dengan kemampuan remaja mengenali dan mengelola perasaan seperti marah, cemburu, sedih, atau takut dalam hubungan. Remaja yang belum mampu mengatur emosi cenderung bereaksi impulsif saat menghadapi konflik.
Baca Juga: Cara Tepat Orang Tua Lindungi dan Pulihkan Anak Korban Grooming
Sementara itu, kecerdasan emosional mencakup kemampuan memahami perasaan orang lain, berempati, dan menyelesaikan konflik secara dewasa.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa remaja dengan kecerdasan emosional yang baik memiliki risiko lebih rendah mengalami kekerasan dalam pacaran.
Kemampuan komunikasi yang sehat juga menjadi fondasi penting. Remaja perlu belajar menyampaikan kebutuhan dan ketidaknyamanan tanpa menyerang atau justru menarik diri.
Selain itu, rasa percaya diri (self-esteem) dan identitas diri yang kuat akan membantu mereka memilih hubungan yang sehat.
Baca Juga: Pola Asuh Overprotektif Bisa Hambat Kemandirian Anak Sejak Dini
Kenali Perbedaan Rasa Suka dan Keterikatan Emosional
Lalu, bagaimana membedakan rasa suka yang wajar dengan keterikatan emosional yang lebih dalam?
Cania menjelaskan, rasa kagum biasanya bersifat ringan dan tidak mengubah identitas diri. Perasaan ini datang dan pergi tanpa memicu kecemasan berlebihan, serta tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sebaliknya, keterikatan emosional yang lebih dalam ditandai dengan perasaan “tidak lengkap” tanpa pasangan. Hubungan mulai memengaruhi prestasi belajar, suasana hati, hingga pola tidur, bahkan dapat memicu stres akibat konflik yang intens.
Baca Juga: Tips Psikolog Mengasuh Anak Kandung dan Anak Angkat agar Tetap Adil
Risiko Jika Anak Belum Siap Pacaran
Pacaran tanpa kesiapan emosional membawa berbagai risiko.
Mulai dari perubahan suasana hati, meningkatnya stres dan kecemasan, terganggunya hubungan dengan teman sebaya, hingga potensi kekerasan dalam pacaran dan kehamilan yang tidak diinginkan.
Meski begitu, tidak semua hubungan romantis berdampak negatif. Dengan pendampingan yang tepat, pacaran justru bisa menjadi sarana belajar membangun relasi yang sehat.
“Hubungan romantis dapat menjadi lahan belajar sosial yang penting, terutama untuk membangun empati, kepercayaan, dan komunikasi,” ujarnya.
Baca Juga: Cara Menghadapi Anak Gen Alpha yang Jago Debat dan Sering Asal Bunyi
Peran Orang Tua: Dampingi, Bukan Sekadar Melarang
Sayangnya, banyak orang tua memilih jalan pintas dengan melarang anak berpacaran. Padahal, larangan justru sering berdampak sebaliknya.
“Larangan bisa mendorong anak bersikap sembunyi-sembunyi, menutup diri, dan tidak belajar dari kesalahan,” kata Cania.
Pendekatan yang dianjurkan dalam psikologi perkembangan adalah pendampingan dan komunikasi terbuka.
Orang tua diharapkan menjadi pendengar yang empatik, membantu anak memahami perasaannya, sekaligus memberikan batasan yang jelas tanpa menghakimi.
Baca Juga: Tips Parenting: Memahami Emosi Anak Lewat Bahasa Tubuh dan Komunikasi
Orang tua juga perlu waspada terhadap tanda bahaya dalam hubungan anak, seperti menurunnya minat belajar, konflik yang tak kunjung selesai, ketergantungan emosional ekstrem, hingga perilaku manipulatif atau menarik diri dari lingkungan.
Jika tanda-tanda tersebut muncul, orang tua disarankan segera turun tangan dengan pendekatan suportif. Dialog yang aman dan terbuka menjadi kunci agar anak mau berbagi.
Selain itu, penting bagi orang tua dan anak untuk menyepakati batasan bersama, mulai dari waktu bertemu, perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan, hingga cara menyelesaikan konflik.
“Batasan ini bukan untuk mengontrol, tetapi membantu anak membangun hubungan yang sehat, bertanggung jawab, dan saling menghormati,” pungkasnya. (*)
Editor : Chairunnisya