Cara Mengajari Anak Mengenali Modus dan Perilaku Ganjil Orang Lain

Chairunnisya • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 17:38 WIB
Ilustrasi kekerasan anak di bawah umur. (DOK PONTIANAK POST)
Ilustrasi kekerasan anak di bawah umur. (DOK PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST - Anak perlu dibekali kemampuan mengenali perilaku yang patut diwaspadai.

Pemahaman tersebut tidak hanya berlaku ketika anak bertemu orang asing, tetapi juga saat berinteraksi dengan orang yang sudah dikenal.

Psikolog Puspaga DP3APPKB Surabaya Widji Lestari SPsi MPsi Psikolog mengatakan, anak perlu mengetahui berbagai cara yang dapat digunakan seseorang untuk membujuk mereka.

Baca Juga: Kata Sandi Keluarga Bantu Anak Waspada Saat Dijemput Orang Lain

Kenali Perilaku Mencurigakan

Beberapa perilaku yang perlu diwaspadai antara lain ketika seseorang meminta anak mendekati mobil, meminta anak menyimpan sebuah rahasia, atau melakukan tindakan yang melanggar batasan tubuh anak.

’’Pelaku dapat menggunakan berbagai cara untuk membujuk anak. Iming-iming hadiah, makanan, uang, hingga berpura-pura membutuhkan pertolongan bisa menjadi modus untuk mendekati korban,’’ katanya, dikutip dari Jawapos.

Baca Juga: Ajarkan Anak Prinsip NO-GO-TELL untuk Menjaga Keselamatan Diri Sejak Dini

Widji juga menekankan pentingnya mengajarkan anak bahwa orang dewasa yang benar-benar membutuhkan bantuan seharusnya meminta bantuan kepada orang dewasa lain, bukan anak kecil.

’’Salah satu aturan yang penting ditanamkan kepada anak adalah bahwa orang dewasa yang benar-benar membutuhkan bantuan seharusnya meminta bantuan kepada orang dewasa lain, bukan anak kecil,’’ beber Widji.

Terapkan Aturan Check First

Orang tua juga dapat menerapkan aturan ’’izin terlebih dahulu’’ atau check first.

Anak dibiasakan meminta izin kepada orang tua atau pengasuh sebelum menerima hadiah, makanan, uang, maupun ajakan pergi dari siapa pun.

Baca Juga: Cegah Bullying dan Kekerasan, Kayong Utara Perkuat POKJA BSAN untuk Sekolah Aman bagi Anak

Aturan tersebut juga berlaku bagi orang yang mengaku mengenal orang tua.

’’Anak perlu memahami bahwa mereka tidak harus mengikuti atau menuruti semua permintaan orang dewasa. Keselamatan mereka jauh lebih penting daripada bersikap sopan ketika berada dalam situasi yang membuat tidak nyaman,’’ katanya.

Bangun Komunikasi Terbuka

Selain mengajarkan aturan keselamatan, komunikasi terbuka di rumah juga menjadi bekal penting. Orang tua perlu meluangkan waktu untuk bertanya tentang kegiatan dan pengalaman anak setiap hari.

Baca Juga: Usut Tuntas Kasus Kekerasan Anak, HWCI Kalbar Puji Langkah Tegas Polres Sambas

Suasana yang aman untuk bercerita perlu dibangun agar anak terbiasa melapor ketika mengalami interaksi yang mencurigakan, merasa tidak nyaman, atau menghadapi situasi yang tidak dapat mereka pahami sendiri.

Dengan komunikasi yang terbuka, anak memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman yang mereka alami tanpa merasa ragu untuk bercerita kepada orang tua. (*)

Editor : Chairunnisya
komunikasi anak modus bujukan check first keselamatan anak parenting