PONTIANAK POST – Partai Republik, pengusung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menelan kekalahan telak dalam pemilu sela (midterm election). Partai Demokrat berhasil merebut kendali atas dua majelis Kongres AS, yakni Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives).
Berdasarkan hasil penghitungan suara yang dilaporkan Associated Press (AP), The Guardian, dan CNN, Rabu (4/11), kemenangan Demokrat diwarnai fenomena blue wave atau gelombang biru. Istilah tersebut menggambarkan keberhasilan Demokrat merebut sejumlah kursi strategis yang sebelumnya dikuasai Republik.
Di Senat, Demokrat membalikkan dominasi Republik di sejumlah negara bagian, antara lain Texas, Kansas, South Carolina, North Carolina, dan Ohio.
Di Texas, politikus muda Demokrat James Talarico mencatat sejarah dengan memenangi kursi Senat. Kemenangan itu mengakhiri penantian Demokrat selama 38 tahun untuk kembali merebut kursi di negara bagian yang selama ini menjadi basis kuat Republik.
Terobosan serupa terjadi di Kansas. Adam Hamilton berhasil mengakhiri dominasi Republik selama 94 tahun di kursi Senat. Sementara itu, Abdul El-Sayed mencatat sejarah di Michigan sebagai pria muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Senat AS.
Presiden Donald Trump merespons kekalahan partainya dengan menyatakan siap menerima hasil pemilu. Dalam wawancara khusus dengan The New York Times, dia juga menyatakan terbuka untuk bekerja sama dengan Demokrat yang kini menguasai Kongres.
"Kita akan menatap ke depan untuk bekerja sama dengan mereka (Partai Demokrat). Kami tentu bisa menyelesaikan dan menyepakati sesuatu bersama," ujar Trump.
Namun, Trump memiliki penilaian tersendiri mengenai penyebab kekalahan Republik. Dia menyebut ketidakhadirannya dalam surat suara menjadi salah satu faktor yang membuat partainya kesulitan menggerakkan pemilih.
"Dan karena saya tidak ada di surat suara, kita tidak bisa menggerakkan cukup banyak pendukung untuk datang ke TPS," tambahnya.
Di Michigan, Abdul El-Sayed menyambut kemenangannya dengan pidato emosional dalam acara nonton bareng hasil pemilu sela. Dilansir USA Today, dia berterima kasih kepada para pemilih yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.
"Saya berjanji akan membawa semangat tekad, keterbukaan, dan welas asih yang sama ke Senat AS," katanya.
Gelombang kemenangan Demokrat juga merambah pemilihan gubernur di sejumlah negara bagian. Di Georgia, Keisha Lance Bottoms mencatat sejarah sebagai perempuan kulit hitam pertama yang terpilih menjadi gubernur.
Di Texas, Gina Hinojosa menjadi gubernur keturunan Latin pertama sekaligus politikus Demokrat pertama yang menduduki jabatan tersebut sejak 1990. Sementara itu, David Crowley terpilih sebagai gubernur kulit hitam pertama dalam sejarah Wisconsin.
Penguasaan Senat dan DPR membuat peta politik AS berubah signifikan. Demokrat kini memiliki kendali lebih besar dalam pembahasan anggaran dan pembentukan undang-undang. Partai oposisi itu juga berpeluang memperketat pengawasan terhadap pemerintahan Trump selama sisa masa jabatannya.
Dengan Kongres dikuasai oposisi, Trump harus menghadapi tantangan politik yang lebih besar. Dukungan lintas partai menjadi semakin penting untuk meloloskan agenda pemerintahannya.
The Guardian menyebut pemilu sela kali ini telah berubah menjadi referendum terhadap kepemimpinan dan arah kebijakan Trump. Media tersebut juga menyoroti pergeseran dukungan pemilih mengambang (swing voters) dari Republik ke Demokrat.
Pakar ilmu politik Northeastern University Kayla Wolf menilai kekalahan Republik tidak terlepas dari persoalan pencalonan internal partai. Menurut dia, kuatnya pengaruh Trump dalam menentukan kandidat melalui pemilu pendahuluan (primary elections) justru melahirkan figur-figur dengan pandangan ideologis terlalu keras. Akibatnya, mereka kesulitan menarik simpati pemilih moderat.
Kemenangan Demokrat, lanjutnya, mencerminkan persoalan serius dalam kualitas kandidat yang diusung Republik.
"Ini adalah cerminan langsung dari dominasi pengaruh Trump selama proses pemilu primer," tegas Kayla Wolf.
Kritik terhadap kepemimpinan Republik juga datang dari internal partai. Politikus senior Republik asal Texas Don Huffines menilai partainya gagal menawarkan narasi dan program kerja yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kelas bawah.
"Masyarakat sudah lelah," katanya kepada Fox News.
Menurut Huffines, para kandidat Republik gagal mengampanyekan isu-isu kebijakan yang substansial dan menyentuh kebutuhan masyarakat. (wan/oni)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro