PONTIANAK POST — Kebakaran hutan dan lahan melanda sekitar 10 hektare kawasan nilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV) PT KALE PT Kayung Agro Lestari bagian dari First Resources (FR) Group di Dusun 2, Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Sabtu (19/9).
Areal yang terbakar merupakan bagian dari kawasan HCV seluas 1.323 hektare yang dikelola perusahaan. Api membakar tumbuhan paku, dedaunan, dan pepohonan pada lahan bertanah mineral dengan lapisan gambut tipis.
Kapolres Ketapang AKBP Putra Pratama memimpin pemadaman yang dimulai sekitar pukul 14.30 WIB. Operasi melibatkan kepolisian, TNI, personel BKO Brimob Polda Bali, dan tim pemadam perusahaan.
“Kondisi cuaca panas, angin kencang, serta minimnya sumber air menjadi tantangan dalam proses pemadaman,” kata Putra.
Api Diduga Kembali Membesar
Hasil pemeriksaan awal menduga api berasal dari area yang sebelumnya telah terbakar. Bara diduga kembali membesar akibat tiupan angin dan tumpukan dedaunan kering.
Dugaan tersebut masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui sumber awal kebakaran. Belum dijelaskan kapan area itu pertama kali terbakar maupun penyebab munculnya api.
Polsek Matan Hilir Utara dan tim pemadam perusahaan masih melakukan pemeriksaan lapangan, pemadaman, serta pendinginan. Penyisiran dilakukan untuk memastikan bara tidak tersimpan di balik vegetasi maupun lapisan gambut tipis.
Puluhan Selang Dikerahkan
Pemadaman melibatkan enam personel Polsek Matan Hilir Utara, personel Polres Ketapang, Koramil Matan Hilir Utara, Yonif Teritorial Pembangunan, tiga personel BKO Brimob Polda Bali, serta tim pemadam PT KALE/FR Group.
Tim mengerahkan satu mobil pemadam dan dua mobil tangki milik PT KALE, satu mobil pemadam TNI, serta dua mesin pemadam milik Polsek Matan Hilir Utara. Sebanyak 40 gulung selang dan lima nosel digunakan untuk menjangkau titik api.
Minimnya sumber air menjadi kendala di lapangan. Kondisi itu membuat dukungan mobil tangki diperlukan untuk menjaga suplai air selama operasi.
Bara Terus Disisir
Setelah kobaran api dipadamkan, personel tidak langsung meninggalkan lokasi. Pendinginan dilanjutkan karena angin kencang dapat menghidupkan kembali bara yang tersisa.
“Kami memastikan setiap titik yang berpotensi menyimpan bara benar-benar padam. Ini penting untuk mencegah api kembali muncul dan meluas,” ujar Putra.
Belum dijelaskan kapan kawasan dinyatakan benar-benar aman. Luas kebakaran sekitar 10 hektare juga masih berupa perkiraan awal berdasarkan pengecekan di lapangan.
Fungsi HCV Harus Diperiksa
Kawasan HCV ditetapkan untuk mempertahankan nilai penting, seperti keanekaragaman hayati, fungsi ekologis, kebutuhan masyarakat, atau nilai budaya tertentu. Kebakaran di kawasan tersebut memerlukan pemeriksaan dampak ekologis selain penghitungan luas lahan.
Belum terdapat keterangan mengenai jenis nilai konservasi di lokasi kebakaran, kondisi satwa dan vegetasi, maupun rencana pemulihan kawasan. Perusahaan juga perlu menjelaskan sistem pencegahan, patroli, sumber air, serta kesiapan sarana pemadam di areal HCV.
Pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk memastikan api tidak kembali muncul sekaligus menentukan pertanggungjawaban atas kebakaran. Statusnya sebagai kawasan bernilai konservasi tinggi membuat pemulihan lingkungan tidak dapat berhenti pada pemadaman dan pendinginan.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro