Telinga Sering Berdenging? Kenali Tinitus dan Terapi yang Bisa Membantu

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 15:12 WIB
Ilustrasi telinga berdenging. (Freepik)
Ilustrasi telinga berdenging. (Freepik)

PONTIANAK POST - Suara berdenging, berdengung, mendesis, atau bunyi lain yang muncul tanpa sumber suara dari luar dikenal sebagai tinitus. Kondisi ini dapat muncul sesekali maupun terus-menerus dan pada sebagian orang bisa mengganggu aktivitas hingga waktu tidur.

Dikutip dari The Guardian, sekitar seperempat populasi pernah mengalami tinitus pada suatu waktu dalam hidupnya. Namun, dampaknya sangat bervariasi. Sebagian orang dapat beradaptasi sehingga suara tersebut semakin jarang diperhatikan, sementara sebagian lainnya mengalami gangguan yang cukup berat.

Hingga kini, tinitus belum memiliki satu pengobatan yang dapat menyembuhkan seluruh kasus. Namun, sejumlah pendekatan dapat membantu mengurangi gangguan dan membuat penderitanya lebih mampu beradaptasi dengan suara tersebut.

Baca Juga: Cara Menjalani Hidup Sehat, 7 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dilakukan Setiap Hari

Mengapa Tinitus Bisa Terjadi?

Menurut audiolog Dr Emma Laird dari La Trobe University, salah satu teori yang paling banyak didukung saat ini berkaitan dengan perubahan aktivitas pada jalur pendengaran.

Saraf dalam jalur pendengaran dapat menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi dari seharusnya. Aktivitas tersebut kemudian dipersepsikan otak sebagai suara, meskipun sebenarnya tidak ada sumber suara dari lingkungan.

Gangguan pendengaran juga menjadi salah satu kondisi yang sering berkaitan dengan tinitus, terutama setelah seseorang terpapar suara keras.

Karena itu, pemeriksaan pendengaran menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui kondisi yang mendasari tinitus.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Rumah Tetap Bersih, Sehat, dan Bebas dari Kuman

Terapi CBT untuk Mengurangi Gangguan Tinitus

Salah satu pendekatan yang memiliki bukti cukup baik adalah Cognitive Behavioural Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif.

CBT tidak bertujuan menghilangkan suara tinitus secara langsung. Terapi ini membantu mengubah cara seseorang memandang dan merespons suara tersebut.

Ketika tinitus dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya atau sangat mengancam, tubuh dapat memberikan respons stres. Kondisi tersebut justru dapat membuat seseorang semakin memperhatikan tinitus.

Melalui CBT, pasien dibantu memutus pola tersebut dan belajar menganggap suara tinitus sebagai sesuatu yang tidak perlu terus-menerus menjadi pusat perhatian. NHS juga mencantumkan CBT sebagai salah satu pendekatan untuk membantu mengurangi kecemasan dan mengelola tinitus.

Baca Juga: Kebiasaan Pakai Earphone Saat Belajar dan Bermain Game Picu Risiko Gangguan Pendengaran pada Siswa Hingga Turunkan Prestasi Akademik

Terapi Suara Bisa Membantu Otak Beradaptasi

Pendekatan lainnya adalah sound therapy atau terapi suara. Metode ini menggunakan suara tertentu untuk membantu seseorang lebih terbiasa dengan tinitus.

Suara dari lingkungan atau perangkat tertentu dapat digunakan sebagai pengayaan suara sehingga tinitus tidak terlalu dominan, terutama ketika berada di lingkungan yang sangat sunyi.

NHS menyebut terapi suara sebagai salah satu pilihan untuk membantu penderita tinitus menjadi kurang menyadari suara tersebut. Pendekatan ini biasanya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing orang.

Alat Bantu Dengar untuk Tinitus yang Disertai Gangguan Pendengaran

Bagi orang yang mengalami tinitus sekaligus gangguan pendengaran, alat bantu dengar dapat menjadi salah satu pilihan penanganan.

Alat tersebut membantu memperjelas suara dari lingkungan sehingga perhatian seseorang tidak terlalu terpusat pada tinitus. Pada sebagian penderita, peningkatan kemampuan mendengar juga dapat membuat suara tinitus menjadi lebih mudah diabaikan.

Namun, penggunaan alat bantu dengar perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan pendengaran dan kondisi masing-masing pasien.

Masalah Rahang dan Leher Juga Bisa Diperhatikan

Pendekatan fisioterapi juga dibahas dalam artikel The Guardian, terutama ketika terdapat ketegangan pada area leher atau rahang.

Fisioterapis Dr Peter Selvaratnam menangani kondisi tersebut melalui sejumlah pendekatan, termasuk teknik yang berkaitan dengan tekanan pada titik tertentu, posisi lidah, dan mindfulness.

Hal ini menunjukkan bahwa penanganan tinitus tidak selalu sama untuk setiap orang. Faktor yang menyertai kondisi tersebut perlu diperiksa sebelum menentukan pendekatan yang sesuai.

Kapan Tinitus Perlu Diperiksa?

Tinitus sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai gangguan ringan, terutama jika muncul bersama gejala lain.

Pemeriksaan medis penting dilakukan untuk mencari kemungkinan penyebab yang mendasarinya. Dalam artikel The Guardian, gejala seperti sakit kepala atau perubahan penglihatan menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Tinitus yang hanya muncul pada satu telinga atau terdengar mengikuti denyut jantung juga perlu mendapat evaluasi medis karena dapat berkaitan dengan kondisi tertentu.

Pada akhirnya, tujuan penanganan tinitus bukan selalu menghilangkan suara tersebut sepenuhnya. Terapi dapat diarahkan untuk mengurangi tingkat gangguan, mengelola respons terhadap tinitus, dan membantu seseorang kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman. (*)

Editor : Rafael B. Junior
tinitus kesehatan telinga telinga berdenging terapi tinitus gangguan pendengaran