Oleh; Gusti Hardiansyah
Pagi itu sebuah pesan WhatsApp masuk. Pendek. Tidak memakai kop surat, disposisi, apalagi rapat tiga ronde.
“Kami dari Rumah Sakit YARSI memerlukan air bersih karena stok sudah menipis.”
Saya membacanya dua kali.
Di tengah El Niño, kemarau panjang, karhutla dan berbagai persoalan air baku yang sedang menekan Kalimantan Barat, ternyata krisis telah mengetuk pintu yang tidak boleh terlalu lama menunggu: rumah sakit.
Kalau di rumah air berhenti sebentar, orang Pontianak masih bisa bergurau, “Hari ini mandi hemat jak.” Di rumah sakit, candaan itu berhenti. Pasien tetap harus dilayani.
Di situlah saya melihat Pak Suhadi, Ketua YARSI, bergerak.
Tidak dimulai dengan seminar. Tidak menunggu rapat berlapis. Masalahnya konkret: pasien membutuhkan air. Maka telepon bergerak, WhatsApp bergerak, dan jejaring ikut bergerak.
Informasi operasional yang saya terima dari YARSI menyebut kebutuhan air rumah sakit sekitar 8.000 liter per hari. Sebelumnya rumah sakit harus membeli air bersih sekitar Rp2,5 juta per hari. Akumulasi pengeluaran untuk pembelian air bahkan disebut telah mencapai sekitar Rp52 juta.
Tetapi cerita menjadi jauh lebih serius ketika menyentuh pasien hemodialisis atau cuci darah.
Air untuk cuci darah bukan sekadar air yang tampak jernih di mata. Air harus menjalani pengolahan khusus, termasuk melalui sistem reverse osmosis atau RO. Dalam prosesnya terdapat pula air yang terbuang. Informasi operasional yang disampaikan kepada saya menyebut kebutuhan sekitar 300 liter air RO untuk satu pasien dalam satu proses hemodialisis.
Artinya, kalau ada 10 pasien, berdasarkan angka tersebut dibutuhkan sekitar 3.000 liter untuk satu rangkaian pelayanan 10 pasien. Jika berlangsung lebih dari satu sesi, kebutuhan tentu meningkat sesuai jumlah pasien dan sesi.
Di sinilah persoalan kualitas air menjadi sangat penting.
Air baku yang payau tidak boleh begitu saja digunakan untuk kebutuhan medis. Khusus hemodialisis, kualitas air merupakan bagian kritis dari keselamatan pelayanan. Jadi persoalannya bukan lagi sekadar, “Ada air atau tidak?”
Pertanyaannya berubah menjadi:
“Airnya memenuhi persyaratan atau tidak?”
Saya kemudian mendapat cerita mengenai kebutuhan di RSUD dr. Soedarso. Dalam satu sesi cuci darah disebut dapat melayani sekitar 15 pasien, kemudian dilanjutkan sesi berikutnya. Saya belum memegang data resmi kebutuhan air harian RSUD dr. Soedarso, sehingga angka tersebut tidak saya tempatkan sebagai statistik resmi rumah sakit. Namun gambaran itu cukup untuk menunjukkan betapa besarnya ketergantungan pelayanan kesehatan terhadap air yang memenuhi persyaratan.
Kemarin Pak Abu dari PMI juga bercerita mengenai kebutuhan air bersih. Bukan hanya rumah sakit.
Rumah-rumah warga juga mulai membutuhkan.
Saya terdiam.
Berarti kita sedang berhadapan dengan persoalan yang lebih luas daripada sekadar sebuah keran yang tidak mengalir. Gangguan air baku mulai menyentuh ketahanan pelayanan dasar.
Karena itu, rumah sakit, pasien cuci darah, lansia, anak-anak, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan keluarga yang kemampuan ekonominya terbatas harus berada dalam kelompok prioritas.
Lalu jejaring kemanusiaan mulai menemukan jalannya.
Alas Kusuma ikut membantu membuka komunikasi. Kerja sama dibangun dengan Bupati Kubu Raya Sujiwo, untuk memanfaatkan sumber daya air waduk yang tersedia guna membantu pasokan. Ikhtiarnya diarahkan bukan untuk satu atau dua hari, tetapi sekitar satu bulan, dengan prioritas kepada kebutuhan kelompok rentan.
Masalah berikutnya muncul.
Sumber air ada. Rumah sakit membutuhkan.
Tetapi air, rupanya, belum pandai berjalan sendiri.
“Armada tangkinya bagaimana?”
Nah, di sinilah cerita menjadi menarik.
Pak Arief Suryono bersama Damkar Pontianak Timur ikut bergerak. Armada tangki disiapkan. Foto yang masuk ke telepon saya memperlihatkan bahkan dua unit bergerak membawa air.
Di badan salah satu mobil merah-kuning itu terpasang spanduk sederhana:
“KEBUTUHAN AIR BERSIH UNTUK RSU YARSI PONTIANAK.”
Saya lama memperhatikan foto itu.
Tidak ada panggung. Tidak ada gunting pita. Tidak ada seremoni memutar keran sambil bertepuk tangan.
Yang ada hanya air, tangki, sopir, petugas, telepon yang terus berbunyi, dan orang-orang yang memilih bekerja.
Pak Suhadi menjadi simpul penting dari gerakan kecil itu. Inilah bentuk leadership gerak cepat. Pemimpin tidak berhenti setelah mengetahui masalah. Ia menghubungkan kebutuhan dengan orang yang mempunyai sumber daya, lalu memastikan bantuan bergerak sampai ke tempat yang membutuhkan.
Di situlah sebenarnya pelajaran adaptive governance bekerja dalam bentuk yang paling sederhana.
Rumah sakit menyampaikan kebutuhan. Jejaring masyarakat dan dunia usaha membantu menghubungkan sumber daya. Pemerintah daerah membuka akses. Damkar membantu mobilisasi. PMI membaca kebutuhan kemanusiaan. Orang-orang di lapangan mengerjakannya.
Tidak rumit. Tetapi bekerja.
Dan ada kritik sosial yang patut kita renungkan.
Kita sering membagi bencana berdasarkan kotak organisasi.
Karhutla dianggap urusan pemadam. Kekeringan urusan pemerintah. Air baku urusan pengelola air. Pasien urusan rumah sakit. Waduk urusan daerah. Kelompok rentan urusan sosial.
Padahal bencana tidak pernah membaca struktur organisasi kita.
El Niño, kemarau, karhutla, berkurangnya ketersediaan air tawar dan gangguan terhadap sumber air baku dapat bertemu pada satu titik yang sama: manusia yang membutuhkan air.
Karena itu penanganannya juga tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Hari ini mungkin YARSI.
Besok bisa rumah sakit lain.
Lusa mungkin sebuah kampung.
Maka pengalaman kecil ini seharusnya menjadi alarm agar kita mulai memetakan kebutuhan air bersih kelompok rentan, kapasitas sumber air alternatif, armada tangki, titik distribusi, kualitas air, serta kebutuhan rumah sakit selama periode kering ini.
Jangan menunggu telepon darurat berikutnya.
Ada pula pelajaran agama yang terasa sangat dekat.
Air bukan sekadar komoditas. Dalam kehidupan seorang Muslim, hampir setiap hari kita bersentuhan dengannya untuk bersuci. Al-Qur'an bahkan mengingatkan bahwa dari air Allah menjadikan segala sesuatu yang hidup.
Maka ketika seseorang membantu menghadirkan air bagi pasien yang sedang cuci darah, orang yang sedang dioperasi, keluarga yang kesulitan mendapatkan air, atau petugas kesehatan yang sedang menjaga pasien, persoalannya sudah melampaui urusan logistik.
Ia menjadi ikhtiar kemanusiaan.
Saya kembali melihat foto mobil tangki merah-kuning itu.
Mesinnya mungkin tua. Catnya tidak mengilap seperti kendaraan baru. Tetapi pagi itu nilainya sulit dihitung dengan rupiah.
Sebab yang dibawanya bukan hanya beberapa ribu liter air.
Ia membawa pesan bahwa ketika keadaan menjadi sulit, kita masih mempunyai satu sumber daya yang tidak boleh ikut mengering: kepedulian.
Ya Allah.
Di tengah El Niño, karhutla, panas, air yang semakin sulit, pasien yang harus tetap menjalani pengobatan, dan petugas yang terus bekerja, semoga Engkau menjaga mereka semua.
Semoga Pak Suhadi dan keluarga besar YARSI, Pak Sujiwo dan jajaran Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, Alas Kusuma, Pak Arief dan kawan-kawan Damkar, Pak Abu dan keluarga besar PMI, para tenaga kesehatan, pengemudi mobil tangki, relawan, dunia usaha, serta seluruh masyarakat yang saling membantu* selalu berada dalam limpahan rahmat dan perlindungan Allah SWT.
Semoga hujan segera turun membawa keberkahan.
Dan semoga ketika hujan nanti kembali memenuhi parit, waduk, dan sungai kita, pengalaman hari-hari sulit ini tidak ikut hanyut.
Karena pagi itu saya belajar sesuatu dari sebuah mobil tangki merah-kuning.
Kepemimpinan kadang tidak memerlukan kalimat panjang.
Ada orang membutuhkan air.
Ada sumber air.
Ada kendaraan.
Lalu seseorang mengangkat telepon dan berkata:
“Jangan tunggu. Kita antar sekarang.”
Penulis;
#Guru Besar Universitas Tanjungpura #Ketua ICMI Orwil Kalbar #JYM Satupena #Karhutla