PONTIANAK POST – Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) menggelar Hari Studi APTIK (HSA) 2026 di Ballroom Hotel Novotel Pontianak Convention Centre, 22–24 Oktober 2026.
Forum ini menjadi momentum bagi perguruan tinggi Katolik di Indonesia untuk memperkuat identitas, tata pamong, dan keberlanjutan kelembagaan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan Akal Imitasi (AI).
Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia untuk Memperkuat Identitas, Tata Pamong, dan Keberlanjutan di Era Akal Imitasi” tersebut menekankan pentingnya perubahan mendasar dalam pengelolaan perguruan tinggi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi landasan pendidikan Katolik.
Baca Juga: Pesparani Katolik II Kalbar 2026, Mempawah Andalkan Paduan Suara OMK
Ketua Yayasan Widya Dharma Pontianak (YWDP), Polycarpus Widjaja Tandra, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pengurus APTIK atas kepercayaan yang kembali diberikan kepada YWDP sebagai tuan rumah kegiatan nasional.
"Kepercayaan tersebut merupakan yang ketiga kalinya bagi YWDP," ujarnya, kamis (22/10)
Ia menilai, menjadi tuan rumah bukan sekadar menjalankan tanggung jawab organisasi, tetapi juga merupakan rahmat dan kehormatan.
Penyelenggaraan HSA 2026 sekaligus menjadi wujud solidaritas dan semangat kolaborasi di antara 27 perguruan tinggi Katolik anggota APTIK di seluruh Indonesia.
Ia juga menekankan bahwa Hari Studi APTIK memiliki makna lebih luas daripada sekadar pertemuan dan pertukaran pengetahuan.
Baca Juga: Merayakan Iman dan Persaudaraan, Pesparani II Katolik Kalbar Hadirkan Tiga Lomba Paduan Suara
"Di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat, forum menjadi ruang dialog iman sekaligus momentum untuk menegaskan kembali misi pendidikan Katolik dalam menjawab tantangan masyarakat modern, " tuturnya
Sementara itu, Minister Provinsial Ordo Kapusin Provinsi Pontianak, Pastor Dr. Faustus Bagara, OFMCap, menyoroti perubahan peran teknologi digital dalam kehidupan manusia.
Menurut Faustus, teknologi digital tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat, tetapi telah menjadi lingkungan kehidupan tempat generasi masa kini dilahirkan, bertumbuh, dan berkembang.
Kondisi ini menuntut perguruan tinggi untuk memahami perubahan digital sekaligus memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Ketua APTIK, Johanes Eka Priyatma, mengatakan perguruan tinggi swasta dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan yang semakin kompleks.
Baca Juga: Kontingen Sintang Bidik Dua Tiket Pesparani Katolik Nasional 2027, Anggaran Terbatas Tak Jadi Halang
Karena itu, tantangan yang muncul tidak cukup dijawab melalui penyesuaian administratif, penerapan teknologi baru, atau sekadar upaya mempertahankan jumlah mahasiswa.
Menurut Johanes, perguruan tinggi perlu melakukan transformasi menyeluruh yang mencakup pola kepemimpinan, pengelolaan sumber daya, pengembangan keunggulan akademik, pembangunan budaya organisasi, serta penguatan keberlanjutan kelembagaan.
APTIK juga mendorong peningkatan kolaborasi antarlembaga, baik dalam pengembangan akademik dan penelitian maupun pemanfaatan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta perluasan kemitraan nasional dan internasional.
"Perguruan tinggi Katolik diharapkan mampu merumuskan langkah strategis menghadapi perubahan zaman, meningkatkan daya saing, dan menjaga keberlanjutan institusi," harap Johanes
Baca Juga: Sarana Pembinaan Iman Kaum Muda, Gereja Katolik Anik Gelar Lomba BKSN 2026
Transformasi tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi dan tata kelola, tetapi juga tetap berakar pada identitas serta misi pendidikan Katolik. (wan)
Editor : Miftahul Khair