Api Karhutla Bakar Kawasan Keramat Gunung Kawi

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 23:57 WIB
KAWASAN KERAMAT TERBAKAR: Kobaran api membakar vegetasi di Gunung Kawi, Jawa Timur. Hingga Minggu (20/9), kebakaran telah melanda sekitar 385 hektare serta berdampak pada jalur pendakian dan jaringan air menuju desa wisata religi. (RADAR MALANG)
KAWASAN KERAMAT TERBAKAR: Kobaran api membakar vegetasi di Gunung Kawi, Jawa Timur. Hingga Minggu (20/9), kebakaran telah melanda sekitar 385 hektare serta berdampak pada jalur pendakian dan jaringan air menuju desa wisata religi. (RADAR MALANG)

 

PONTIANAK POST - Gunung Kawi bukan sekadar bentang alam bagi masyarakat dan peziarah. Di lereng gunung setinggi 2.551 meter di atas permukaan laut itu terdapat pesarean, petilasan, dan jalur ritual yang telah lama menjadi tujuan perjalanan spiritual.

Namun, kebakaran hutan dan lahan kini mengusik kawasan yang dikeramatkan tersebut. Hingga Minggu (20/9), api telah membakar sekitar 385 hektare kawasan Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Dampaknya tidak hanya terlihat pada vegetasi yang menghitam. Api turut merusak jalur pipa air minum menuju Dusun Sumbersari, Desa Wonosari, lokasi pusat wisata religi Gunung Kawi.

Api Dekati Pusat Ziarah

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang Purwoto mengatakan area terbakar tersebar di tiga kecamatan. Wilayah terluas berada di Kecamatan Wagir.

“Rinciannya 362 hektare di Kecamatan Wagir, 18 hektare di Kecamatan Ngajum, dan 5 hektare di Kecamatan Wonosari,” katanya.

Di Desa Wonosari terdapat Pesarean Kanjeng Kyai Zakaria II atau Eyang Djoego dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono. Kompleks tersebut menjadi salah satu tujuan utama peziarah dari berbagai daerah.

Sekitar lima kilometer di atas pesarean juga terdapat Petilasan Prabu Sri Kameswara yang dikenal dengan sebutan Keraton. Kawasan itu memiliki nilai spiritual bagi sebagian pengunjung Gunung Kawi.

Api memang lebih banyak membakar vegetasi hutan, puncak, dan jalur pendakian. Namun, rusaknya pipa air menunjukkan dampak kebakaran telah menjalar ke kebutuhan dasar warga serta pelayanan bagi peziarah.

Air Bersih untuk Beribadah

Gangguan jaringan pipa mengancam ketersediaan air di Dusun Sumbersari. Di kawasan wisata religi, air bersih dibutuhkan warga, pengelola penginapan, tempat makan, dan peziarah untuk bersuci sebelum beribadah.

Kerusakan tersebut dapat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada kunjungan wisata. Penginapan dan usaha makanan membutuhkan pasokan air agar tetap dapat melayani tamu.

Kunjungan peziarah juga dilaporkan menurun. Selain khawatir terhadap api, pengunjung mempertimbangkan paparan asap dan penurunan kualitas udara.

Ancaman tersebut terutama berisiko bagi peziarah lanjut usia serta pengunjung dengan penyakit pernapasan. Namun, belum tersedia data pengukuran kualitas udara maupun jumlah penurunan kunjungan.

Bara Bertahan di Pohon Mati

Kebakaran Gunung Kawi mulai terdeteksi pada 1 September. Hingga Senin (21/9), penyebabnya belum diketahui secara pasti.

Asap masih terlihat di sejumlah titik. BPBD menduga asap berasal dari bara yang bertahan pada pohon mati sehingga proses pemantauan dan pendinginan harus dilanjutkan.

Salah satu titik yang masih menjadi perhatian berada di kawasan Gunung Gentong Kucur. Kondisi medan dan luasnya kawasan menyulitkan petugas memastikan seluruh bara telah padam.

BPBD memetakan wilayah terdampak melalui pengumpulan titik koordinat. Data itu digunakan untuk menghitung luas kebakaran dan menentukan lokasi penanganan.

Batu Tulis Ikut Terbakar

Kebakaran juga menyentuh Puncak Batu Tulis, salah satu jalur pendakian populer di Gunung Kawi. Kawasan tersebut dikenal memiliki daya tarik alam sekaligus nilai religius bagi sebagian pengunjung.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan tim gabungan masih melakukan pemadaman dan pemetaan di kawasan tersebut.

“Pemetaan masih berlangsung, bersamaan dengan pembuatan sekat bakar di sepanjang jalur pendakian melalui Batu Tulis ke arah utara menuju puncak Gunung Pasang,” kata Sadono.

Dampak kebakaran terhadap dua destinasi itu berbeda. Pesarean Gunung Kawi menghadapi gangguan pasokan air, sedangkan Puncak Batu Tulis bersentuhan langsung dengan api di jalur pendakian.

Dipadamkan dari Udara

Penanganan kebakaran turut dilakukan melalui udara. BPBD Provinsi Jawa Timur telah mengerahkan pengeboman air di titik yang sulit dijangkau petugas darat.

“BPBD Provinsi Jawa Timur telah melakukan 12 kali water bombing dengan fokus di Blok Pitrang Barat yang masuk wilayah Kabupaten Blitar,” ujar Purwoto.

Sekat bakar juga dibuat untuk mencegah api merambat lebih luas. Sementara itu, petugas darat terus menyisir titik bara dan melakukan pendinginan.

Bagi masyarakat, kebakaran Gunung Kawi bukan hanya kehilangan tutupan hutan. Api turut mengancam sumber air, mata pencaharian, jalur ziarah, dan ruang spiritual yang telah dirawat lintas generasi.

Pemadaman harus diikuti pemulihan jaringan air dan kawasan hutan. Penyebab kebakaran juga perlu diungkap agar bencana serupa tidak kembali mengusik kehidupan warga maupun kesakralan Gunung Kawi. (/biy/dan/ttg)*

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Pesarean Gunung Kawi kawasan keramat Gunung Kawi Puncak Batu Tulis wisata religi Malang pipa air Desa Wonosari