Oleh : Leo Sutrisno*
Langit di atas Golgota tak lagi biru. Ia berubah menjadi kelabu pekat, seolah alam sedang menahan napas dalam duka yang mencekam.
Angin bertiup membawa aroma debu dan keputusasaan, sementara bumi gemetar di bawah kayu-kayu salib yang terpancang kokoh.
Di tengah kesunyian yang menyakitkan itu, Sang Terang Dunia tergantung lemas. Tubuh-Nya adalah hamparan luka yang menceritakan kekejaman manusia.
Di kaki salib, seorang prajurit Romawi menatap dengan suara parau dan mata nanar.
“Aku telah melihat ribuan orang mati di kayu ini. Mereka mengutuk, meludah, dan berteriak ketakutan. Tetapi Orang ini… mengapa matanya masih menyimpan kedamaian di tengah badai rasa sakit?”
Yohanes merangkul Maria yang terisak. Suaranya gemetar.
“Ibu, lihatlah Dia. Dunia mencoba memadamkan Cahaya itu, tetapi mereka tidak tahu bahwa kegelapan inilah yang akan membuat cahaya-Nya bersinar selamanya. Dia tidak sedang kalah; Dia sedang menyerahkan diri.”
Penjahat di sebelah kanan berbisik pelan dengan napas yang memburu.
“Yesus… ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja. Aku hanyalah debu yang kotor, tetapi izinkan aku mati dalam bayang-bayang belas kasih-Mu.”
Maria, dengan suara yang hampir hilang namun penuh keteguhan, berkata lirih,
“Anakku… dahulu aku membuai-Mu dalam palungan yang dingin, kini aku menyerahkan-Mu pada kayu yang kasar. Biarlah kehendak-Nya genap, meski hatiku harus tertembus pedang lara ini.”
Di sana, emosi berkecamuk bagai ombak yang pecah di karang. Para imam kepala tersenyum sinis, meski di dalam hati mereka mulai digerogoti keraguan yang tersembunyi.
Para murid yang bersembunyi di kejauhan merasa dunia mereka runtuh. Harapan tentang kerajaan duniawi seakan terkubur bersama tetesan darah yang jatuh ke tanah.
Namun bagi mereka yang tetap berdiri di kaki salib, ada sebuah keheningan yang suci—sebuah duka yang melampaui tangisan. Sebuah kesadaran bahwa mereka sedang menyaksikan cinta yang paling murni menyelesaikan tugas-Nya.
Di dalam dada-Nya yang sesak, detak jantung Yesus bukan lagi tentang kelangsungan hidup, melainkan tentang denyut cinta yang tak terbatas.
Setiap tarikan napas yang menyiksa menjadi doa bagi mereka yang menghujat-Nya. Hati-Nya tidak menyimpan ruang untuk dendam. Sebaliknya, hati itu menjadi tungku api yang melelehkan segala dosa manusia.
Saat Dia menatap wajah-wajah yang penuh kebencian dan air mata di bawah-Nya, hanya ada satu arus besar yang mengalir dari kedalaman jiwa-Nya: pengampunan.
Hati-Nya berbisik dengan kelembutan yang melampaui akal,
“Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Pengampunan itu bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah pintu yang dibuka lebar bagi setiap jiwa yang terhilang.
Pada saat-saat terakhir sebelum menyerahkan nyawa-Nya, hati Yesus seakan merangkul seluruh sejarah manusia—dari Adam hingga jiwa terakhir yang akan lahir—menyapu bersih noda hitam dengan kasih yang merah membara.
Ia wafat bukan dalam kepahitan, melainkan dalam kemenangan cinta yang telah mengampuni dunia bahkan sebelum dunia memintanya. **
*) Penulis adalah pegiat literasi Kalbar dan akademisi Universitas Tanjungpura
Editor : Hanif