Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Catatan Haji 2026 Berakhir: Perjalanan Menjadi Pribadi yang Lebih Baik Baru Dimulai

Hanif • Senin, 22 Juni 2026 | 10:27 WIB
Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng.
Dr. Ir. H. Feira Budiarsyah Arief, M.Si., IPM., ASEAN Eng.

Oleh: Feira Budiarsyah Arief

Kemarin Minggu, 21 Juni 2026, menjadi hari penuh syukur sekaligus haru bagi umat Islam di Kalimantan Barat. Hari itu menandai berakhirnya proses pemulangan jemaah haji asal Kalimantan Barat dari Tanah Suci.

Sehari sebelumnya, Sabtu, 20 Juni 2026, Kelompok Terbang (Kloter) BTH-18 yang terdiri atas jemaah Kalimantan Barat serta sebagian jemaah dari Provinsi Riau dan Jambi mendarat di Bandara Internasional Hang Nadim Batam sebagai Debarkasi Batam. Selanjutnya, seluruh jemaah Kalimantan Barat melanjutkan perjalanan menuju Pontianak dan disambut haru oleh keluarga serta kerabat yang telah menanti kepulangan mereka.

Dengan tibanya Kloter BTH-18 di Pontianak, berakhir pula seluruh rangkaian operasional pemulangan jemaah haji Kalimantan Barat musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Meski secara nasional operasional penyelenggaraan ibadah haji Indonesia masih berlangsung hingga 1 Juli 2026 seiring kepulangan kloter-kloter terakhir dari berbagai embarkasi, bagi masyarakat Kalimantan Barat musim haji tahun ini telah resmi memasuki penghujungnya.

Selesai sudah sebuah perjalanan panjang yang sesungguhnya dimulai jauh sebelum para jemaah mengenakan pakaian ihram di Tanah Suci.

Perjalanan itu diawali dengan penetapan jemaah berhak lunas, dilanjutkan pemanggilan jemaah cadangan tahap pertama dan kedua. Bahkan pada musim haji tahun ini dilakukan optimalisasi kuota untuk mengisi kursi yang kosong akibat adanya jemaah yang batal berangkat karena alasan kesehatan, administrasi, maupun sebab lainnya.

Namun tidak semua jemaah cadangan yang telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) memperoleh kesempatan berangkat tahun ini. Sebagian harus kembali bersabar karena kuota telah terpenuhi. Insya Allah, mereka akan menjadi prioritas pada musim haji tahun 2027.

Semua itu mengingatkan bahwa berhaji bukan semata persoalan kemampuan fisik atau kesiapan finansial. Haji adalah panggilan Allah SWT.

Betapa banyak orang telah lama menabung, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan segala sesuatunya, namun belum juga mendapat kesempatan menjadi tamu Allah. Sebaliknya, ada yang tidak pernah menyangka dapat berangkat lebih cepat melalui mekanisme optimalisasi kuota.

Sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj [22]: 27).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa yang mengundang bukanlah manusia. Yang memanggil adalah Allah SWT.

Kini seluruh rangkaian ibadah telah usai. Ihram telah dilepas. Talbiyah tak lagi bergema di bibir para jemaah. Thawaf dan sa'i telah dituntaskan. Wukuf di Arafah menjadi kenangan yang akan terus hidup sepanjang hayat. Mabit di Muzdalifah dan Mina telah berlalu. Lontaran jumrah telah usai. Air mata perpisahan saat thawaf wada' pun telah mengering.

Pesawat yang membawa para tamu Allah satu per satu telah mendarat kembali di tanah air. Namun sesungguhnya ada satu perjalanan yang baru saja dimulai: perjalanan menjaga kemabruran haji.

Di tengah masyarakat, seseorang yang pulang dari Tanah Suci akan memperoleh sapaan baru: "Haji" atau "Hajjah". Sebuah panggilan yang lahir dari penghormatan atas keberhasilannya menunaikan rukun Islam kelima.

Namun, benarkah gelar itu yang paling penting?

Tentu tidak.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad).

Hadis tersebut mengingatkan bahwa misi utama diutusnya Rasulullah SAW adalah membentuk manusia yang berakhlak mulia. Karena itu, kemabruran haji tidak diukur dari gelar yang disandang, banyaknya foto yang diunggah, ataupun oleh-oleh yang dibawa pulang.

Kemabruran akan tampak dalam perubahan sikap dan perilaku setelah kembali ke tengah masyarakat.

Apakah seseorang menjadi lebih jujur, lebih sabar, lebih amanah, lebih santun dalam bertutur kata, lebih ringan menolong sesama, lebih menghormati tetangga, lebih menjaga salat berjamaah, serta lebih berhati-hati mencari rezeki yang halal?

Jika perubahan-perubahan itu mulai tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, di situlah tanda-tanda kemabruran mulai bersemi.

Rasulullah SAW juga memberikan kabar gembira:

"Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Namun hanya Allah SWT yang mengetahui siapa di antara para tamu-Nya yang benar-benar kembali dengan predikat haji mabrur. Mabrur bukanlah gelar yang diberikan manusia, melainkan penilaian Allah SWT.

Akhirnya, seluruh rangkaian Catatan Haji 2026 sampai pada penghujungnya. Mulai dari proses penetapan jemaah, manasik haji, keberangkatan menuju Tanah Suci, pelaksanaan ARMUZNA, perjalanan menelusuri jejak Rasulullah SAW di Makkah, Madinah, Taif, dan Hudaibiyah, hingga kepulangan para jemaah ke tanah air, semuanya memberikan satu pelajaran besar: ibadah haji bukan sekadar perjalanan menuju Baitullah.

Haji adalah perjalanan menuju perubahan diri. Perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih rendah hati, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Semoga seluruh jemaah haji Indonesia, khususnya jemaah asal Kalimantan Barat, kembali ke tengah keluarga dalam keadaan sehat, menjadi teladan di lingkungan masing-masing, serta mampu menjaga kemabruran hajinya hingga akhir hayat.

Bagi saudara-saudara kita yang tahun ini belum memperoleh kesempatan memenuhi panggilan Allah, jangan pernah berputus asa. Teruslah memperbaiki niat, ikhtiar, kesehatan, dan doa. Sebab apabila Allah telah menetapkan seseorang menjadi tamu-Nya, tidak ada satu pun yang mampu menghalanginya.

Pada akhirnya, semua perjalanan pasti akan berakhir. Pesawat akan mendarat. Koper akan dibuka. Oleh-oleh akan dibagikan. Pakaian ihram akan kembali tersimpan rapi.

Namun semoga satu hal tidak pernah berakhir, yakni semangat menjaga kemabruran haji dalam setiap langkah kehidupan.

Sebab perjalanan menuju Baitullah telah selesai, tetapi perjalanan menuju ridha Allah SWT akan terus berlangsung hingga akhir hayat.

Labbaikallahumma Labbaik.

Wallahu a'lam bish-shawab. (**)

 

*) Penulis adalah jemaah haji 2026 asal Pontianak

Editor : Hanif
#refleksi #Jemaah Haji Kalbar #haji #pemulangan jemaah haji #syukur