Belajar dari Gontor Setelah Satu Abad

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 10:50 WIB
Ilustrasi Pondok Pesantren. (Jawa Pos)
Ilustrasi Pondok Pesantren. (Jawa Pos)

Oleh: M. Hermayani Putera*

ADA sesuatu yang menarik ketika sebuah lembaga pendidikan memasuki usia 100 tahun. Perhatian biasanya tertuju pada pencapaian, jumlah alumni, luas jaringan, atau bangunan yang berhasil diwariskan. Namun umur panjang sebuah lembaga pendidikan semestinya mengajak melihat pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang membuat sebuah lembaga mampu bertahan melewati perubahan zaman tanpa kehilangan alasan mengapa lembaga itu didirikan?

Pondok Modern Darussalam Gontor baru saja melewati satu abad perjalanan. Gontor didirikan pada 20 September 1926 oleh tiga bersaudara yang kemudian dikenal sebagai Trimurti, yaitu K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannanie, dan K.H. Imam Zarkasyi. Memasuki abad kedua, Gontor tetap menempatkan pendidikan sebagai pusat pengabdiannya.

Dalam resepsi kesyukuran satu abad pada 19 September 2026, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan satu kalimat yang layak direnungkan, “Pondok ini memilih, menetapkan, memutuskan untuk memilih pendidikan.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan pilihan yang tidak kecil. Selama satu abad, Gontor telah melahirkan alumni yang kemudian mengabdi di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pemerintahan, dunia usaha, diplomasi hingga organisasi masyarakat. Ruang pengabdian para alumni terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman, sementara Gontor sebagai lembaga tetap menempatkan pendidikan sebagai jalan utama pengabdiannya.

Pilihan semacam itu tidak mudah dipertahankan selama satu abad. Gontor melewati zaman kolonial, perjuangan kemerdekaan, perubahan politik, Orde Baru, Reformasi hingga era digital. Dunia di sekelilingnya berubah berkali-kali, sementara pendidikan tetap menjadi pusat gravitasi.

Pelajaran pertama mungkin terletak di sini: lembaga yang ingin bertahan panjang perlu mengetahui nilai apa yang harus dijaga, sekaligus memiliki keberanian untuk terus memperbarui cara mencapainya.

Gontor menarik bukan karena seluruh praktiknya harus diikuti. Justru pengalaman Gontor menunjukkan bahwa tradisi dan pembaruan dapat berjalan bersama. Azyumardi Azra, melalui kajiannya tentang modernisasi pendidikan Islam, banyak membahas kebutuhan pesantren untuk merespons perubahan zaman tanpa kehilangan fungsi dasarnya sebagai lembaga pendidikan Islam. Dalam kajian tentang pemikiran Azra, modernisasi pesantren tidak dipahami sekadar sebagai penambahan pelajaran umum, tetapi sebagai perubahan kelembagaan, kurikulum, manajemen, dan cara pesantren berhubungan dengan perkembangan masyarakat.

Gontor menjadi salah satu pengalaman penting dalam percakapan tersebut. Sejak 1936, misalnya, Gontor menyelenggarakan Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), dengan pendidikan yang menggabungkan pembentukan keilmuan, karakter, bahasa, olahraga, kesenian, organisasi dan berbagai aktivitas kehidupan santri.

Pendidikan di Gontor tidak berhenti di ruang kelas. Santri belajar mengurus organisasi, menjaga kebersihan, menggunakan bahasa Arab dan Inggris, mengelola kegiatan, hidup bersama, menyelesaikan persoalan, dan menjalankan tanggung jawab. Hal-hal yang dalam sistem pendidikan lain sering dianggap sebagai kegiatan tambahan justru menjadi bagian dari proses pendidikan.

Pengamat pesantren asal Belanda, Martin van Bruinessen, pernah menulis secara khusus mengenai Gontor melalui kajian Divergent Paths from Gontor: Muslim Educational Reform and the Travails of Pluralism in Indonesia. Perhatian Bruinessen menarik karena tidak hanya melihat Gontor sebagai sebuah lembaga, tetapi juga mengikuti perjalanan para alumninya yang kemudian bergerak ke berbagai arah dalam kehidupan pendidikan dan keislaman Indonesia.

Di sini terdapat pelajaran penting. Pendidikan yang kuat tidak selalu menghasilkan keseragaman. Justru sebuah tradisi pendidikan dapat memberi bekal kepada alumninya untuk memasuki ruang sosial yang berbeda, membawa pengalaman dan nilai yang diperoleh selama belajar, lalu mengembangkannya sesuai konteks masing-masing.

Kemandirian menjadi bagian lain yang menonjol. Dalam Panca Jiwa Gontor terdapat nilai berdikari. Nilai tersebut tidak berhenti sebagai semboyan. Gontor membangun berbagai unit usaha yang menopang kehidupan pondok sekaligus menjadi ruang pembelajaran ekonomi bagi santri. Penelitian Unida Gontor pada 2025 mencatat lebih dari 40 unit usaha yang mencakup sektor konsumsi, layanan, pendidikan, kesehatan dan keuangan. Penelitian lain juga melihat unit usaha pesantren sebagai laboratorium kewirausahaan sekaligus salah satu penopang kemandirian lembaga.

Yang menarik bukan sekadar jumlah unit usahanya. Yang lebih penting adalah cara ekonomi ditempatkan dalam pendidikan. Santri tidak hanya diajarkan bagaimana mencari penghasilan, tetapi juga belajar mengenai tanggung jawab, pelayanan, kerja bersama, pengelolaan sumber daya dan keberlanjutan lembaga.

Dalam Warta Dunia (Wardun) 1445/2024, laporan tahunan Pondok Modern Darussalam Gontor, pengelolaan wakaf ditempatkan sebagai bagian dari Khizanatullah, yang berkaitan erat dengan upaya membangun kemandirian ekonomi pondok. Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM) mengelola dan mengembangkan aset wakaf melalui pertanahan, pertanian, dan berbagai unit usaha agar kekayaan wakaf tetap produktif dan dapat menopang keberlanjutan pendidikan.

Pada peringatan satu abad, K.H. Hasan Abdullah Sahal mengingatkan kembali makna wakaf para pendiri Gontor. Bukan hanya tanah dan bangunan yang diwakafkan, tetapi juga “ide, nilai, sistem, lembaga, dan cinta kepada bangsa Indonesia.”

Kalimat tersebut penting karena keberlanjutan lembaga tidak cukup ditopang oleh aset. Tanah dapat diwariskan, bangunan dapat diperbesar, bahkan uang dapat dikumpulkan. Tetapi tanpa nilai, sistem, kaderisasi dan budaya organisasi, sebuah lembaga akan kesulitan melewati generasi.

Kesederhanaan kepemimpinan juga menjadi bagian penting dalam pesan K.H. Hasan Abdullah Sahal. Dalam pidatonya pada resepsi satu abad Gontor, beliau menyampaikan bahwa jika makanan, pakaian, kendaraan, dan rumah pimpinan lebih mewah dibandingkan milik santri, maka santri berhak memprotes. Pesan tersebut sederhana, tetapi menunjukkan betapa keteladanan pemimpin ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan sehari-hari di Gontor.

Pernyataan tersebut bukan sekadar cerita tentang gaya hidup. Ada pesan tentang keteladanan. Lembaga pendidikan berbicara mengenai nilai setiap hari, tetapi nilai itu akan kehilangan daya ketika tidak terlihat dalam kehidupan orang-orang yang memimpinnya.

Pandangan tentang pendidikan Gontor juga muncul dari tokoh nasional. Dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026, Jusuf Kalla menyebut pendidikan holistik sebagai upaya mendidik manusia secara utuh: head, heart and hand.

Gagasan tersebut terasa dekat dengan pengalaman pendidikan pesantren. Anak tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga dibentuk hatinya, keterampilannya, kebiasaan hidupnya, kemampuan bekerja bersama dan tanggung jawab sosialnya.

Lalu, apa yang bisa dipelajari oleh pesantren dan lembaga pendidikan Islam lain dari pengalaman Gontor? Tentu bukan dengan menyalin seluruh bentuk dan sistem yang sudah dibangun selama satu abad. Setiap lembaga tumbuh dalam sejarah dan lingkungan yang berbeda, dengan tradisi keilmuan, karakter masyarakat, serta sumber daya yang tidak selalu sama. Tradisi salaf memiliki kekayaan dan kekuatannya sendiri, sementara lembaga yang tumbuh di tengah kota berhadapan dengan persoalan yang berbeda dengan yang berkembang di pedesaan. Karena itu, pengalaman Gontor lebih tepat dibaca sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran, terutama dalam hal kaderisasi, kemandirian ekonomi, pengelolaan wakaf, disiplin kelembagaan, dan pendidikan yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

Yang lebih mungkin dipelajari adalah prinsipnya: pendidikan sebagai kehidupan, kaderisasi yang serius, kepemimpinan yang memberi teladan, pengelolaan wakaf secara produktif, kemandirian ekonomi, disiplin kelembagaan, penguatan alumni, serta kemampuan membaca perubahan tanpa kehilangan identitas.

Prinsip tersebut bahkan relevan untuk dibicarakan dalam konteks program Makan Bergizi Gratis (MBG). Perbandingan langsung antara biaya makan Gontor dengan MBG tentu tidak tepat. Gontor merupakan komunitas pendidikan berasrama dengan pola konsumsi yang lebih terkonsentrasi, sistem pengadaan internal dan pengelolaan makanan yang berada dalam satu ekosistem pondok. MBG bekerja dalam skala nasional dengan persoalan distribusi, keamanan pangan, standar gizi, data penerima dan karakter wilayah yang sangat beragam.

Namun pengalaman Gontor memperlihatkan satu hal yang menarik: makanan dapat ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan dan pengelolaan komunitas, bukan sekadar urusan konsumsi. Dapur, pengadaan bahan pangan, pembagian makanan, kebersihan, disiplin makan dan pengelolaan sisa makanan dapat menjadi bagian dari pembelajaran. Dalam skala yang lebih luas, program pangan sekolah juga dapat dihubungkan dengan petani, peternak, nelayan, koperasi dan UMKM lokal.

Dengan begitu, makanan bergizi tidak berhenti sebagai program distribusi, tetapi sekaligus membuka ruang bagi pendidikan, ekonomi lokal dan ketahanan pangan. Di sinilah pengalaman Gontor menjadi relevan bagi Indonesia. Bukan untuk mengatakan bahwa semua sistem harus dibuat seperti Gontor, tetapi untuk melihat bagaimana sebuah lembaga pendidikan membangun ekosistemnya sendiri secara bertahap.

Seratus tahun juga memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak lahir dari satu program. Gontor memiliki pendidikan, kaderisasi, wakaf, unit usaha, jaringan alumni, budaya organisasi dan nilai yang saling menopang. Masing-masing bagian bekerja dalam satu ekosistem.

Pelajaran seperti ini penting bagi banyak lembaga pendidikan di Indonesia. Sekolah dan pesantren tidak cukup hanya menghasilkan anak yang pintar mengerjakan soal. Pendidikan perlu memberi ruang bagi anak untuk belajar mengurus kehidupan, bekerja bersama, mengambil tanggung jawab, menghargai orang lain, mengelola sumber daya dan memahami bahwa ilmu memiliki konsekuensi sosial.

Karena itu, memasuki abad kedua, Gontor menarik untuk dilihat bukan semata sebagai pesantren yang telah berusia 100 tahun, tetapi sebagai sebuah pengalaman panjang tentang bagaimana nilai diterjemahkan menjadi sistem, sistem membentuk manusia, dan manusia kemudian membawa nilai tersebut kembali ke tengah masyarakat.

Gontor sendiri sudah menyatakan pilihannya: tetap berada di jalan pendidikan. Pilihan itu terdengar sederhana. Namun mempertahankannya selama satu abad membutuhkan lebih daripada sekadar ketekunan. Semua itu tidak lahir dalam semalam. Nilai yang ditanamkan para pendiri harus terus hidup dalam keseharian, kaderisasi harus terus berjalan, dan cara mengelola pondok perlu terbuka terhadap perubahan zaman.

Mungkin di situlah pelajaran penting Gontor setelah satu abad. Zaman terus berubah, dan pendidikan tidak bisa berdiri di tempat yang sama. Namun pendidikan juga punya tugas yang lebih jauh: menyiapkan manusia agar mampu membaca perubahan, mengambil sikap, dan ikut menentukan ke mana zaman akan dibawa.**

 

*Penulis adalah penggiat sosial lingkungan, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PW Muhammadiyah Kalbar, aktif di Gerakan Pembaharu (Gaharu) Pontianak.

Editor : Rafael B. Junior
pesantren 100 tahun Gontor Pondok Gontor kemandirian pesantren pendidikan islam