Oleh: Sholihin HZ*
Adakah musibah dipandang sebagai nikmat? Jawabannya ada. Kapan? Musibah dipandang sebagai nikmat dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, musibah yang menimpa diterima sebagai ketentuan Allah SWT dan rida dengan keputusan-Nya. Lantas, jika manusia tidak rida dengan mengeluh dan memaki, apakah musibah akan lari dan menjauh? Tentu tidak.
Karenanya, sesungguhnya yang berat bukanlah musibah itu sendiri, tetapi cara penyikapan manusia terhadap musibah yang datang. Kecewa, sedih berurai air mata, panik, dan sangat kehilangan adalah manusiawi. Namun, jika dipahami sebagai ketentuan Allah SWT, maka musibah itu sebagai cara Allah SWT memberikan nikmat lainnya. Bukankah setiap kebaikan pasti berbalas kebaikan juga dan rida adalah termasuk kebaikan yang diajarkan oleh Islam?
Kedua, musibah yang diterima adalah cara Allah SWT untuk menggugurkan dosa-dosa hamba-Nya. Disebutkan: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa, melainkan dosa-dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim).
Musibah pasti akan dialami setiap manusia yang masih hidup. Karenanya, ia sebuah keniscayaan. Sebuah pepatah menyebutkan, jangan salahkan gelap ketika ia datang, tetapi carilah lilin agar sekelilingmu menjadi terang. Keluh atas keadaan tidak menyelesaikan masalah.
Munajat dan doa adalah di antara perilaku yang diajarkan dalam Islam dengan filosofis menyadari sepenuhnya bahwa: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.’”
Di sinilah letaknya pengaruh iman. Muslim yang sebenar-benarnya adalah mereka yang dinyatakan Allah SWT dalam QS Al-Anfal/8: 2–4.
Ayat 2: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.”
Ayat 3: “(Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”
Ayat 4: “Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Bagi mereka derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.”
Firman Allah SWT di atas menggambarkan secara detail seorang mukmin yang sebenar-benarnya. Mereka adalah yang hatinya selalu diliputi dengan memuliakan asma-Nya sehingga kala disebutkan ayat-ayat Allah SWT, maka bergetar dan efeknya bertambah keimanan mereka. Ini tentu melewati proses sehingga sensitif terhadap ayat-ayat Allah SWT.
Kriterianya lainnya adalah mereka adalah orang-orang yang konsisten dengan penegakan salatnya, yang kemudian dibarengi dengan wujud nyata keimanan, yakni dengan zakat, infak, dan sedekah. Mukmin yang paripurna adalah yang tidak hanya fokus dengan amalan individu, namun sejalan dengan semangat menjadikan dirinya bermanfaat dan dibutuhkan orang lain.
Tidak hanya itu, seorang mukmin yang paripurna adalah mukmin yang kalau ditimpa musibah mereka mengatakan: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji‘uun’ (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).” (QS Al-Baqarah/2: 156).
Pertanyaan retorisnya, apa sesungguhnya yang menjadi milik kita? Harta, jabatan, popularitas, anak dan keluarga, bahkan diri kita, hakikatnya adalah hanya memiliki hak guna pakai yang suatu saat Sang Pemiliknya pasti akan mengambilnya.
Jika demikian, apanya yang harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya? Jawabannya adalah perbanyak amal dengan harapan ada amal kita dipandang Allah SWT sebagai pemberat mizannya kelak di hari penghisaban. Semoga.**
*Penulis adalah mahasiswa Program Doktoral Unisma dan Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat.
Editor : Rafael B. Junior