Kampung dan Jejak Awal Pertumbuhan Si Kritis

Hanif • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 09:22 WIB
Muhamad Radjab
Muhamad Radjab

Judul                : Semasa Kecil di Kampung

Penulis             : Muhamad Radjab

Penerbit          : Balai Pustaka & Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan           : Pertama, 2019

Tebal               : 230 halaman

ISBN                : 978-602-481-294-2

PENGALAMAN masa kecil kerap identik dengan aktivitas bermain dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Kenangan bermain sepak bola dengan teman, mandi di sungai, dan mengaji di masjid adalah sedikit dari pengalaman masa kanak-kanak yang sering kali diceritakan orang dewasa. Kendati banyak hal masa silam yang diceritakan, namun sebagian orang belum tentu menyadari bahwa pengalaman tersebut turut andil membentuk kepribadian dan cara pandang seseorang terhadap kehidupan.

Demikianlah yang ditulis Muhamad Radjab dalam buku Semasa Kecil di Kampung. Buku ini ditulis dalam bentuk autobiografi. Dalam tulisannya, Muhamad Radjab menceritakan dengan baik berbagai pengalamannya ketika menjalani masa kanak-kanak di lingkungan kampung. Ia menggambarkan lingkungan alam dan sosial Minangkabau dengan baik.

Dalam melukiskan sosoknya, Muhamad Radjab—yang dalam buku autobiografi tersebut dinamai Rijal—menyebut dirinya sebagai “Anak Danau Singkarak”. Sebutan tersebut sekaligus menjadi judul pertama dalam buku ini. Julukan tersebut digunakan penulis sebab ia dilahirkan di kampung Sumpur yang berada di ujung utara Danau Singkarak.  Kampung ini berada di lembah hijau di antara bukit barisan. Di tengahnya terbentang sawah luas, sementara rumah-rumah penduduk dikelilingi pepohonan dan rumah adat yang beratap tinggi.

Rijal dilahirkan pada pertengahan tahun 1913, saat penyakit kolera menjangkiti di seluruh daerah Minangkabau. Sejak kecil Rijal hidup dengan kondisi yang sederhana. Ia menyebut dirinya bukan termasuk golongan hartawan. Ayahnya bukan termasuk orang yang kaya raya di kampung Sumpur. Kalau anak hartawan uang sakunya bisa sampai setalen (25 sen), Rijal hanya diberi uang sebenggol (dua setengah sen).

Meski demikian, ada satu hal yang menarik dari kisah kesederhanaan keluarga Rijal. Sang ayah dikatakan oleh penulis memiliki istri yang tidak hanya satu, melainkan tiga. Kesemua istri ayah Rijal merupakan ibu tiri bagi Rijal. Sebab ibu kandungnya telah meninggal saat ia masih kecil. Kondisi yang demikian (baca: poligami) pada zaman dahulu merupakan praktik yang tidak mengherankan di kampung Sumpur.

Orang yang beristri lebih dari satu saat itu tidak harus dari golongan kaya. Melainkan juga dari golongan bangsawan, yang bergelar datuk atau sutan, atau dari golongan agamawan yang bergelar syekh atau kiai. Dalam hal ini, ayah Rijal yang merupakan guru mengaji di Kampung Sumpur tampaknya memiliki privilese dalam kedudukannya sebagai seorang agamawan. Kedudukannya tersebut membuat orang tertarik untuk menjadikannya sebagai menantu.

 

Tumbuhnya Cara Pandang Kritis

Hidup di tempat yang jauh dari pusat kota membuat Rijal tumbuh di tengah-tengah maraknya takhayul, mitos, dan pamali. Ada beberapa kepercayaan tradisional yang digambarkan dalam buku ini. Seperti halnya saat Rijal masih bocah, orang-orang enggan memuji Rijal sebagai anak yang ganteng ataupun lucu. Orang justru mengatakan sebaliknya. “Aduh, alangkah buruknya anakmu!” ucap perempuan yang bertemu Rijal saat digendong ibunya.

Di samping itu, orang sumpur juga memiliki keyakinan yang unik tentang bumi. Salah satu warga Sumpur yang bernama Lebai Saman, seorang yang sudah berusia kepala empat, berkeyakinan bahwa bumi itu datar. Tidak hanya itu, menurutnya bumi dipikul oleh seekor lembu yang berdiri di atas sebuah batu. Maka saat Sumpur dilanda gempa pada tahun 1926, orang-orang tua Sumpur beranggapan bahwa gempa terjadi karena telinga lembu sedang digigit nyamuk, sehingga bumi bergetar.

Sejak kecil Rijal tidak mudah percaya terhadap kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat Sumpur. Ia selalu berpikir kritis dan terkadang menanyakan tradisi yang sudah turun temurun tersebut. Saat Lebai Saman mengatakan bahwa bumi itu dipikul lembu, Rijal yang saat itu masih kelas 4 SD membantah. Ia mengungkapkan bahwa bumi itu berbentuk bulat dan berputar mengelilingi matahari seperti yang diajarkan guru di sekolah.

Saat menginjak usia remaja, pikiran Rijal semakin gelisah. Ia selalu mempertanyakan hal-hal yang menurutnya tidak rasional. Dalam tulisan yang berjudul Mengaji di Pesantren, Rijal yang kala itu mulai mengaji di Surau bawah mulai mempelajari berbagai ilmu-ilmu agama dan ilmu alat, seperti ilmu fikih, tafsir, dan gramatika Arab. Saat belajar ilmu nahwu, Rijal heran mengapa dirinya diharuskan belajar ilmu tersebut, padahal ia tidak paham kosakata Arab sepatah pun. 

Pernah suatu ketika saat paman Rijal menjelaskan tentang langit dan bumi, paman Daud menerangkan bahwa langit pertama terbuat dari tembaga, langit kedua dari perak dan seterusnya. Pikiran Rijal yang berkecamuk lantas mendorongnya bertanya kepada pamannya, “Mengapa tembaga yang tebal bisa tembus cahaya matahari, sedangkan genteng yang tipis tidak?” Pamannya kemudian menjawab bahwa hal tersebut sudah menjadi kehendak Allah dan tidak perlu dipertanyakan.

Sikap kritis Rijal ini mengajarkan kita untuk tidak menerima begitu saja informasi yang datang. Kita patut bersikap kritis untuk menanyakan kebenaran dan alasan logis dibalik penjelasan yang kita terima. Sebab, dewasa ini banyak bermunculan berita-berita hoax yang tidak jelas kebenarannya. Bahkan terkadang berita bohong tersebut oleh sebagian orang dianggap sebagai informasi yang benar. Maka bersikap kritis menjadi suatu hal yang penting, karena dalam bermedia sosial kita sering kali disuguhkan informasi yang belum tentu benar sepenuhnya.

 

Meninggalkan Kampung, Membuka Jalan Perubahan

Pada masa ketika teknologi belum berkembang seperti sekarang, masyarakat Sumpur memperoleh informasi melalui surat kabar, buku, atau cerita dari orang-orang yang mengalaminya secara langsung. Rijal remaja yang memiliki rasa ingin tahu tinggi kerap mengais informasi dunia luar Sumpur dari cerita pedagang-pedagang yang pulau dari rantau. Ia juga membaca buku untuk mengetahui berbagai hal yang belum pernah ditemuinya secara langsung.

Pengetahuan yang didapat Rijal tidak lantas membuat ia puas. Justru dirinya semakin penasaran dengan apa yang ada di luar Sumpur. Keinginannya untuk merantau dari kampung semakin kuat. Terlebih teman-teman kecilnya dahulu banyak yang teah pergi merantau. Selain itu Rijal ingin menambah pengalaman dan pengetahuannya di daerah lain. Ia juga ingin mengerti secara langsung tentang Jawa, Bandung, Solo, dan Malang. Seperti yang diceritakan orang-orang padanya.

Namun, nyatanya pergi merantau tidak semudah yang ia bayangkan. Ayahnya tidak memberikan izin kepada Rijal untuk pergi meninggalkan kampung. Sang ayah ingin Rijal berdiam di Sumpur dan kelak akan menggantikannya sebagai guru mengaji di surau atas.  Keinginan Rijal yang semakin kuat lantas mendesak ayahnya untuk mengizinkannya merantau. Pada akhirnya sang ayah membolehkan Rijal merantau. Namun dengan syarat hanya ke kota Padang saja, itupun untuk bersekolah. Bukan berdagang seperti kebanyakan orang Sumpur.

Atas kegigihannya dalam merantau dan mencari pengetahuan, kelak bocah kampung Sumpur itu tumbuh jadi sosok yang tersohor. Namanya kini dikenal sebagai jurnalis, wartawan, serta penulis buku yang cukup produktif. Meskipun telah meninggal 50 tahun yang lalu, nama Muhamad Radjab tetap harum berkat sumbangsihnya dalam dunia jurnalistik dan kepenulisan. Melalui tulisan-tulisannya, ia tidak hanya merekam berbagai peristiwa pada zamannya, tetapi juga meninggalkan catatan yang dapat dibaca oleh generasi setelahnya.

Pada akhirnya buku ini memberikan gambaran mengenai kondisi sosial-budaya masyarakat Indonesia sebelum kemerdekaan. Khususnya masyarakat Sumatera Barat. Melalui pengalaman masa kecil Muhamad Radjab, pembaca dapat melihat bagaimana masyarakat menjalani kehidupannya sehari-hari, seperti memegang adat-kepercayaan dan cara berinteraksi sosial. Berbagai cerita yang tampak sederhana justru menjadi jendela untuk memahami kehidupan masyarakat pada zamannya. Buku ini tidak hanya menghadirkan kenangan seorang anak tentang kampung halaman, tetapi juga merekam perubahan cara pandang, kebiasaan, dan kehidupan sosial yang pernah berkembang di tengah masyarakat.**

 

*Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan (alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta & Guru MA Anwar Futuhiyyah Sleman)

Editor : Hanif
Muhamad Radjab Semasa Kecil di Kampung ulasan buku budaya Minangkabau sastra indonesia