Oleh: Adimas Nuur Syaifullah, S.Sos*
CAPAIAN Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sambas sebesar 72,08 pada 2025 menjadi kabar baik sekaligus momentum untuk mengevaluasi arah pembangunan daerah. Prestasi ini patut diapresiasi. Namun, di balik angka yang membanggakan tersebut, ada pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: sejauh mana kemajuan pembangunan manusia benar-benar membuka peluang masa depan bagi generasi muda Sambas?
Bagi daerah perbatasan seperti Sambas, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari peningkatan indikator statistik. Pembangunan juga harus tercermin dalam terbukanya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan masyarakat, tumbuhnya wirausaha muda, serta hadirnya kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang tanpa harus meninggalkan kampung halamannya.
Penilaian capaian IPM yang tinggi harus menjadi pijakan untuk memperkuat kebijakan pembangunan yang lebih konkret, khususnya dalam menjawab kebutuhan generasi muda.
IPM yang tinggi tentu membanggakan. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah apakah anak muda benar-benar merasakan dampaknya. Setelah lulus, apakah mereka mendapatkan pekerjaan yang layak? Apakah mereka memiliki ruang untuk membangun usaha dan masa depan di Sambas?
Jangan Berhenti pada Angka
IPM merupakan salah satu indikator penting untuk melihat kualitas pembangunan manusia. Namun, angka tersebut tidak dengan sendirinya menggambarkan seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk tantangan anak muda dalam memperoleh pekerjaan, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan.
Karena itu, capaian IPM Sambas perlu dibaca sebagai modal awal untuk melangkah lebih jauh, bukan alasan untuk merasa bahwa pekerjaan pembangunan telah selesai. Peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup harus berjalan beriringan dengan penciptaan peluang ekonomi. Sebab, pendidikan yang semakin baik idealnya membuka akses terhadap pekerjaan yang lebih layak. Begitu pula peningkatan keterampilan harus memberi kesempatan bagi anak muda untuk menghasilkan pendapatan dan membangun kemandirian ekonomi.
Pemerintah daerah perlu menggeser orientasi kebijakan kepemudaan dari kegiatan yang sebatas seremonial menuju program yang memiliki sasaran jelas, berkelanjutan, dan dapat diukur hasilnya. Seminar, pelatihan, dan kegiatan motivasi tetap dibutuhkan. Namun, manfaatnya akan lebih besar apabila diikuti pendampingan, akses permodalan, kesempatan magang, pembukaan jaringan pemasaran, hingga penempatan kerja.
“Anak muda tidak cukup diberi seminar dan pelatihan sesaat. Mereka membutuhkan akses terhadap pekerjaan, modal, pasar, teknologi, dan jejaring.” Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan kepemudaan tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah kegiatan. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa program pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan anak muda dan menghasilkan perubahan nyata.
Membangun Ekosistem bagi Pemuda
Tantangan yang dihadapi generasi muda Sambas membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Pemerintah daerah perlu membangun ekosistem yang memungkinkan anak muda mengembangkan potensi, mendapatkan pekerjaan, maupun merintis usaha secara mandiri.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah memperkuat sistem informasi pasar kerja. Informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja, kompetensi yang dibutuhkan perusahaan, serta peluang kerja di dalam dan luar daerah perlu tersedia secara lebih mudah dan terintegrasi.
Dengan demikian, lulusan sekolah menengah maupun perguruan tinggi dapat mempersiapkan diri sesuai kebutuhan dunia kerja. Pemerintah juga dapat menggunakan informasi tersebut untuk merancang pelatihan yang lebih relevan, bukan sekadar menyelenggarakan program berdasarkan rutinitas tahunan.
Di sisi lain, inkubasi usaha pemuda perlu dikembangkan secara serius. Anak muda yang memiliki ide bisnis harus mendapatkan pendampingan mulai dari penyusunan rencana usaha, pengelolaan keuangan, pengembangan produk, pemasaran digital, hingga akses pembiayaan.
Kemitraan antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan dunia usaha juga perlu diperkuat. Kolaborasi tersebut dapat membuka kesempatan magang, pelatihan berbasis kebutuhan industri, penyerapan tenaga kerja, serta perluasan pasar bagi usaha rintisan anak muda.
Kebijakan semacam ini akan memberikan dampak yang lebih berkelanjutan dibandingkan program yang hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Keberhasilan pembangunan pemuda tidak cukup dilihat dari jumlah peserta pelatihan atau banyaknya kegiatan yang terlaksana. Pemerintah perlu mengukur berapa banyak peserta yang memperoleh pekerjaan, berapa usaha yang bertahan dan berkembang, serta berapa banyak anak muda yang mampu meningkatkan pendapatannya.
Desa Harus Menjadi Ruang Tumbuh
Pembangunan masa depan anak muda Sambas juga tidak boleh hanya berpusat di kawasan perkotaan. Desa harus ditempatkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan kesempatan kerja dan kewirausahaan. Kabupaten Sambas memiliki potensi di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, UMKM, dan ekonomi kreatif. Berbagai sektor tersebut dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha apabila didukung teknologi, akses pasar, pembiayaan, dan pendampingan yang memadai.
Anak muda desa, misalnya, dapat didorong untuk mengembangkan produk pertanian bernilai tambah, mengolah hasil perikanan, membangun usaha berbasis potensi lokal, serta memanfaatkan pemasaran digital untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Dengan pendekatan tersebut, generasi muda tidak hanya diposisikan sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pencipta lapangan kerja di lingkungannya sendiri.
Merantau tentu bukan sesuatu yang keliru. Pengalaman bekerja dan belajar di luar daerah bahkan dapat memperkaya pengetahuan serta keterampilan generasi muda. Namun, Sambas perlu memiliki daya tarik ekonomi agar mereka yang ingin pulang dapat mengembangkan karier dan usaha di daerah sendiri. Dengan kata lain, yang perlu dibangun bukanlah pembatas bagi anak muda untuk keluar daerah, melainkan alasan yang kuat bagi mereka untuk tetap tinggal atau kembali membangun Sambas.
Perbatasan Harus Menjadi Keunggulan
Posisi geografis Sambas sebagai kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia juga menyimpan peluang yang perlu dikelola secara terarah. Kawasan perbatasan tidak semestinya hanya dipandang sebagai wilayah terluar, tetapi juga sebagai ruang strategis untuk mengembangkan perdagangan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan produk lokal.
Peluang tersebut membutuhkan kesiapan sumber daya manusia. Anak muda perlu dibekali keterampilan kewirausahaan, penguasaan teknologi, kemampuan pemasaran, serta pemahaman terhadap standar produk dan kebutuhan pasar.
Pemerintah daerah juga perlu memperkuat dukungan terhadap pelaku usaha lokal agar produk yang dihasilkan masyarakat memiliki daya saing dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, potensi geografis tidak akan otomatis berubah menjadi kesejahteraan. Tanpa infrastruktur yang memadai, kepastian regulasi, kemudahan akses modal, dan pendampingan usaha, peluang ekonomi di kawasan perbatasan berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.
Karena itu, strategi pembangunan pemuda perlu dihubungkan dengan agenda pengembangan ekonomi daerah. Generasi muda harus memperoleh ruang untuk terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan, bukan sekadar menjadi sasaran program.
Mengukur Keberhasilan dari Perubahan Nyata
Ke depan, Pemkab Sambas perlu memiliki indikator pembangunan pemuda yang lebih konkret dan dapat dipantau publik. Indikator tersebut dapat mencakup tingkat penyerapan kerja lulusan, jumlah usaha rintisan yang mampu bertahan, pertumbuhan usaha milik anak muda, akses terhadap pembiayaan, serta peningkatan pendapatan generasi muda.
Data tersebut penting untuk mengetahui apakah program yang dijalankan benar-benar memberikan hasil. Jika sebuah program tidak menghasilkan perubahan yang berarti, pemerintah perlu mengevaluasi pendekatannya dan memperbaiki pelaksanaannya.
Transparansi juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Masyarakat perlu mengetahui target yang ditetapkan, hasil yang dicapai, serta tantangan yang masih harus diselesaikan. Dengan begitu, pembangunan kepemudaan tidak berhenti sebagai agenda administratif, tetapi menjadi upaya bersama yang dapat dipertanggungjawabkan.
Capaian IPM Sambas sebesar 72,08 harus menjadi awal dari komitmen yang lebih besar untuk memastikan bahwa pembangunan benar-benar membuka kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda. IPM 72,08 harus menjadi titik awal, bukan titik akhir. Ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya berapa banyak program yang dibuat, tetapi berapa banyak kehidupan masyarakat yang benar-benar berubah.
Sebagai generasi muda, dirinya juga berharap diberikan ruang yang lebih luas untuk menyampaikan gagasan, mengembangkan potensi, dan ikut menentukan arah pembangunan daerah. Sebab, kebijakan yang menyangkut masa depan pemuda akan lebih efektif apabila disusun dengan memahami kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi.
Pada akhirnya, predikat IPM tertinggi di Kalimantan Barat, jika merujuk pada capaian yang disampaikan, patut menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Tantangan berikutnya adalah memastikan kemajuan tersebut membuka lebih banyak pintu bagi generasi muda untuk memperoleh pekerjaan layak, membangun usaha, meningkatkan kesejahteraan, dan mengambil bagian dalam kemajuan daerah. Sebab, keberhasilan pembangunan Sambas pada masa mendatang tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi angka IPM yang dicapai hari ini, tetapi juga oleh seberapa besar kesempatan yang tersedia bagi anak mudanya untuk membangun masa depan.**
*Penulis adalah tokoh pemuda Kabupaten Sambas.
Editor : Hanif