Indonesia Kaya Hayati, tetapi Miskin Kepedulian?

Hanif • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:06 WIB
Ilustrasi bendera Merah Putih Indonesia.
Ilustrasi bendera Merah Putih Indonesia.

Oleh: Aliffahannisa Ajzahra Roka*

INDONESIA sering dibanggakan sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Hutan tropis, mangrove, terumbu karang, satwa endemik, hingga beragam tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pangan dan obat merupakan bagian dari kekayaan alam yang tidak dimiliki semua negara. Dari Sumatra hingga Papua, setiap wilayah memiliki karakteristik flora, fauna, dan ekosistem yang berbeda. Kekayaan itu bukan sekadar daftar panjang nama spesies, melainkan penyangga kehidupan manusia.

Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar seberapa kaya Indonesia: sampai kapan kekayaan itu dapat dipertahankan? Di tengah deforestasi, perubahan penggunaan lahan, perdagangan satwa liar, pencemaran, eksploitasi sumber daya, dan perubahan iklim, kekayaan hayati Indonesia menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Karena itu, persoalan keanekaragaman hayati tidak semestinya berhenti sebagai materi pelajaran biologi atau slogan tentang “negara megabiodiversitas”. Ia harus menjadi persoalan publik yang menyangkut pangan, kesehatan, ekonomi, budaya, dan masa depan masyarakat.

 

Keanekaragaman Hayati Bukan Sekadar Banyaknya Spesies

Ketika berbicara tentang biodiversitas, perhatian masyarakat sering berhenti pada hewan yang menarik seperti orangutan, harimau Sumatra, komodo, atau burung cenderawasih. Padahal, keanekaragaman hayati jauh lebih luas. Ia mencakup keragaman genetik, spesies, dan ekosistem yang saling berhubungan.

Keragaman genetik memungkinkan suatu populasi memiliki variasi sifat untuk menghadapi perubahan lingkungan. Keragaman spesies membentuk komunitas dengan fungsi ekologis yang berbeda, sedangkan keragaman ekosistem menyediakan berbagai habitat bagi kehidupan. Kehilangan satu bagian dapat memberikan konsekuensi terhadap bagian lainnya.

Inilah alasan mengapa membicarakan biodiversitas tidak cukup dengan menghitung berapa banyak spesies yang masih tersisa. Kita juga perlu bertanya apakah habitatnya masih berfungsi, apakah populasinya mampu berkembang biak, dan apakah keragaman genetiknya tetap terjaga.

Kekayaan hayati juga hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pangan, bahan obat, hasil pertanian, perikanan, hingga berbagai pengetahuan tradisional masyarakat memiliki hubungan dengan sumber daya biologis. Dengan kata lain, biodiversitas bukan sesuatu yang jauh di dalam hutan. Ia ada di meja makan, lingkungan tempat tinggal, bahkan dalam berbagai kebutuhan manusia.

 

Kekayaan yang Terus Ditekan

Masalahnya, kekayaan tersebut berada di tengah tekanan yang tidak sederhana. Perubahan penggunaan lahan dan fragmentasi hutan dapat membuat habitat semakin terpecah. Perburuan dan perdagangan ilegal dapat menekan populasi satwa. Pencemaran mengubah kualitas air, tanah, dan udara, sementara perubahan iklim dapat menggeser persebaran spesies dan mengganggu hubungan ekologis.

Kerusakan habitat menjadi persoalan penting karena spesies tidak dapat dipisahkan dari tempat hidupnya. Menyelamatkan seekor satwa, tetapi membiarkan habitatnya terus rusak, pada akhirnya hanya menyelesaikan sebagian kecil persoalan. Kajian mengenai fragmentasi hutan di Indonesia juga menunjukkan bahwa perubahan dan keterpecahan habitat merupakan isu penting dalam strategi konservasi biodiversitas (Gunawan et al., 2024).

Ancaman tersebut juga tidak berdiri sendiri. Kerusakan habitat dapat membuat spesies lebih rentan terhadap perubahan iklim. Eksploitasi berlebihan dapat memperkecil populasi dan mengurangi kemampuan alam untuk melakukan regenerasi. Pencemaran dapat memperburuk kondisi ekosistem yang sebelumnya sudah mengalami tekanan.

Karena itu, kita perlu mengubah cara pandang. Konservasi tidak boleh hanya muncul ketika seekor satwa menjadi viral atau ketika sebuah kawasan mengalami kerusakan besar. Perlindungan biodiversitas harus menjadi bagian dari cara kita mengelola ruang, sumber daya alam, dan aktivitas ekonomi.

 

Konservasi Tidak Cukup dengan Melarang

Konservasi sering dipahami secara sederhana sebagai larangan: jangan menebang, jangan berburu, jangan mengambil, jangan menjual. Larangan memang diperlukan untuk melindungi spesies dan habitat, tetapi konservasi tidak akan berjalan kuat jika hanya mengandalkan papan peringatan dan aturan tertulis.

Ada dua pendekatan penting yang dapat berjalan berdampingan, yaitu konservasi in situ dan ex situ. Konservasi in situ mempertahankan spesies di habitat alaminya sehingga proses ekologis dan evolusi tetap berlangsung. Sementara itu, konservasi ex situ dapat dilakukan melalui kebun botani, kebun koleksi, bank benih, bank gen, maupun fasilitas penyimpanan sumber daya genetik. Keduanya dapat saling melengkapi, terutama ketika populasi di alam menghadapi tekanan.

Namun, konservasi juga harus mempertimbangkan manusia yang hidup di sekitar kawasan. Masyarakat lokal sering berinteraksi langsung dengan hutan, sungai, pesisir, dan sumber daya hayati. Jika konservasi hanya dipahami sebagai pembatasan akses tanpa mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, konflik kepentingan dapat muncul. Karena itu, perlindungan alam perlu berjalan bersama dengan kepentingan sosial dan ekonomi masyarakat lokal (Zhou et al., 2016). Konservasi seharusnya bukan berarti memisahkan manusia dari alam, melainkan mengatur hubungan manusia dengan alam agar pemanfaatan tidak menghancurkan sumber daya yang menjadi tumpuan kehidupan.

 

Masyarakat Bukan Penonton

Pertanyaan berikutnya: siapa yang bertanggung jawab menjaga biodiversitas? Jawabannya tentu bukan hanya pemerintah atau lembaga konservasi. Masyarakat memiliki posisi penting karena keputusan sehari-hari juga memengaruhi keberlangsungan keanekaragaman hayati.

Tidak membeli satwa dan tumbuhan yang dilindungi, mengurangi konsumsi yang menghasilkan limbah berlebihan, menjaga habitat di sekitar tempat tinggal, serta menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab merupakan bagian dari konservasi. Pada tingkat yang lebih luas, masyarakat juga dapat terlibat dalam pemantauan lingkungan, pendidikan biodiversitas, dan kegiatan citizen science.

Pengetahuan masyarakat lokal juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Banyak komunitas memiliki pengalaman panjang dalam memanfaatkan tumbuhan, mengenali lingkungan, dan mengelola sumber daya. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bagian dari strategi konservasi apabila dipadukan dengan penelitian ilmiah dan pengelolaan yang tepat.

Pendidikan juga perlu diubah dari sekadar hafalan nama-nama spesies menjadi pemahaman mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Anak muda perlu mengenal biodiversitas yang berada di sekitar mereka, bukan hanya spesies yang muncul dalam buku pelajaran. Penggunaan teknologi dan kegiatan citizen science dapat membantu masyarakat mengenali sekaligus memantau keanekaragaman hayati (Chozas et al., 2023).

Pada akhirnya, keberhasilan konservasi sangat bergantung pada apakah masyarakat merasa memiliki hubungan dengan lingkungan yang dilindungi. Sesuatu yang tidak dikenal akan sulit dihargai; sesuatu yang tidak dihargai akan lebih mudah diabaikan.

Indonesia tidak kekurangan kekayaan hayati. Yang menjadi tantangan adalah memastikan kekayaan tersebut tidak berhenti sebagai kebanggaan di atas kertas. Biodiversitas memiliki nilai ekologis, ekonomi, pangan, kesehatan, sosial, dan budaya yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan manusia. Karena itu, kehilangan biodiversitas berarti kehilangan sebagian dari fondasi kehidupan itu sendiri.

Konservasi perlu bergerak dari sekadar melindungi spesies menuju perlindungan habitat, pemulihan ekosistem, pengamanan sumber daya genetik, penegakan hukum, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Pemerintah, peneliti, organisasi konservasi, dunia usaha, dan masyarakat memiliki peran masing-masing.

Yang paling penting, masyarakat perlu berhenti melihat alam hanya sebagai sesuatu yang tersedia untuk dimanfaatkan. Hutan bukan sekadar kayu, sungai bukan sekadar sumber air, dan satwa bukan sekadar objek tontonan. Di dalamnya terdapat sistem kehidupan yang menopang manusia.

Kita boleh bangga menyebut Indonesia kaya biodiversitas. Namun, kebanggaan itu baru memiliki arti jika generasi berikutnya masih dapat menemukan kekayaan yang sama. Menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya menyelamatkan alam; kita sedang menjaga ruang hidup kita sendiri.**

 

*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura.

Editor : Hanif
keanekaragaman hayati Indonesia konservasi biodiversitas deforestasi Indonesia perlindungan habitat pelestarian lingkungan