Pemerintah Minta Otomotif Nasional Adaptasi AI dan Semikonduktor

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 20:52 WIB
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menghadiri Business Discussion Lunch bersama pelaku industri otomotif nasional dan mitra Jepang di Nagoya, Jepang, Sabtu (20/9) (ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian)
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menghadiri Business Discussion Lunch bersama pelaku industri otomotif nasional dan mitra Jepang di Nagoya, Jepang, Sabtu (20/9) (ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian)

PONTIANAK POST - Pemerintah Republik Indonesia mendorong sektor industri otomotif nasional untuk segera beradaptasi dengan lompatan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dan semikonduktor guna memperkuat daya saing manufaktur di pasar global. Langkah percepatan ini dinilai krusial seiring dengan kian tingginya ketergantungan manufaktur kendaraan modern terhadap ekosistem komponen cerdas dan perangkat lunak canggih.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menegaskan bahwa penguasaan teknologi mutakhir, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan penguatan rantai pasok merupakan fondasi utama bagi kemajuan manufaktur domestik.

“Dari rangkaian kunjungan dan pertemuan bisnis di Nagoya ini memperlihatkan satu benang merah yang jelas bahwa daya saing industri dibangun dari perpaduan antara penguasaan teknologi, penguatan sumber daya manusia, dan ekosistem rantai pasok yang kokoh,” ujar Susiwijono dalam Business Discussion Lunch bersama pelaku industri otomotif nasional dan mitra Jepang di Nagoya, dikutip di Jakarta, Minggu.

Susiwijono menjelaskan bahwa penguatan ketiga komponen tersebut menjadi prioritas strategis pemerintah demi memastikan sektor manufaktur nasional tidak tertinggal di tengah laju transformasi digital dunia.

Guna memperkuat integrasi dengan ekosistem teknologi global, Indonesia telah merealisasikan kemitraan konkret bersama raksasa teknologi ARM pada awal 2026 dan bergabung dalam World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Selain itu, pemerintah juga tengah menjajaki kerja sama strategis dengan PAX Silica untuk memperluas penetrasi teknologi cerdas di sektor manufaktur.

Teks foto: Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso saat menghadiri Business Discussion Lunch bersama para pelaku industri otomotif nasional dan mitra Jepang di Nagoya.

Perluas Akses Pasar Melalui Perjanjian Dagang

Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai platform teknologi dunia diharapkan dapat mendongkrak produktivitas ekonomi secara signifikan, khususnya dalam menjawab kebutuhan industri otomotif berbasis kecerdasan artifisial. Pemerintah meyakini kesiapan SDM serta kekuatan rantai pasok lokal akan menjadi penentu keberhasilan industri domestik dalam menangkap peluang transisi teknologi ini.

Di samping akselerasi teknologi, perluasan akses pasar internasional turut dipacu melalui akselerasi diplomasi perdagangan global. Hingga kini, Indonesia tercatat telah menandatangani 25 perjanjian perdagangan internasional, baik dalam bentuk Free Trade Agreement (FTA) maupun Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Pemerintah juga terus mempercepat proses ratifikasi sejumlah kesepakatan dagang agar dampaknya segera dirasakan para pelaku usaha dalam negeri. Salah satu langkah prioritas adalah implementasi perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang proses ratifikasinya dijadwalkan mulai November 2026, dengan target berlaku efektif pada Januari 2027.

Strategi integrasi antara penguasaan teknologi tinggi dan pembukaan akses pasar internasional ini diharapkan mampu memposisikan industri otomotif Indonesia sebagai pemain kunci yang tangguh di tingkat regional maupun global (ant).
Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
kecerdasan artifisial daya saing semikonduktor Industri Otomotif