PONTIANAK POST--Sembahyang Rebut bukan tradisi baru bagi masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat. Dokumentasi dan pemberitaan menunjukkan ritual tersebut telah berlangsung lama di Pontianak dan Kubu Raya.
Salah satu bukti terdokumentasi terdapat di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. ANTARA Foto merekam pelaksanaan Sembahyang Rebut Chio Sik Kow di kawasan pemakaman Yayasan Bhakti Suci pada 14 Agustus 2011.
Dalam dokumentasi tersebut, masyarakat terlihat mengikuti prosesi perebutan sesaji setelah ritual sembahyang.
Baca Juga: Kemeriahan Ritual Sembahyang Rebut di Sungai Pinyuh
Tradisi di Sungai Raya
Empat tahun kemudian, ANTARA kembali memberitakan pelaksanaan Sembahyang Rebut di Kompleks Pemakaman Yayasan Bhakti Suci, Sungai Raya, Kubu Raya.
Dalam pemberitaan tersebut pada 2015 Sembahyang Rebut dilaksanakan setiap tanggal 15 bulan ketujuh Imlek sebelum pembakaran kapal Wangkang.
Masyarakat menyiapkan makanan dan buah-buahan untuk persembahan kepada leluhur. Setelah doa dan ritual selesai, sesaji tersebut kemudian diperebutkan.
Keterangan yang disampaikan kepada ANTARA, tradisi tersebut merupakan tradisi yang telah dilakukan sejak dahulu.
Sembahyang Rebut di kawasan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian ritual sebelum pembakaran Wangkang.
Baca Juga: Fakta Menarik Rumah Hakka di Kubu Raya, Seluruh Bangunannya Terbuat dari Bata Tanpa Plester
Ada di Pontianak
Jejak Sembahyang Rebut juga terlihat di Kota Pontianak.
ANTARA Foto mendokumentasikan tradisi Sembahyang Rebut di Vihara Paticca Samuppada, Pontianak, pada 22 Agustus 2021.
Baca Juga: Cara Menuju Rumah Hakka di Kubu Raya, Simak Rute dan Lokasi Lengkapnya
Dalam keterangan foto, ritual tersebut disebut Chit Gwee Pua dan dilaksanakan pada tanggal 15 bulan ketujuh Imlek. Warga melakukan ritual dengan berbagai persembahan makanan, sayuran dan buah-buahan.
Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk doa bagi arwah dan bagian dari rangkaian ritual bulan ketujuh.
Berkaitan dengan Wangkang
Di Kubu Raya, Sembahyang Rebut memiliki hubungan erat dengan ritual pembakaran Wangkang.
ANTARA mencatat pembakaran kapal Wangkang menjadi salah satu bagian dari rangkaian Sembahyang Kubur masyarakat Tionghoa.
Sebelum Wangkang dibakar, masyarakat melakukan Sembahyang Rebut dan memberikan persembahan kepada leluhur.
Baca Juga: Jarang Terekspos, Begini Penampakan Isi Rumah Hakka di Kubu Raya yang Sangat Megah
Kapal yang dibuat dari kertas tersebut kemudian dibakar bersama sejumlah perlengkapan yang dipercaya menjadi bekal bagi arwah.
Sudah Menjadi Tradisi Kalbar
Pada 2015, ANTARA juga memuat keterangan bahwa Sembahyang Rebut atau sembahyang rampas merupakan tradisi yang telah turun-temurun dilakukan masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak.
Baca Juga: Hadiri Peresmian Rumah HAKKA Kalbar, Didi : Simbol Persatuan dan Kerukunan
Namun demikian, sumber-sumber tersebut belum menjelaskan secara pasti kapan Sembahyang Rebut pertama kali masuk ke Kalimantan Barat.
Yang dapat dipastikan dari dokumentasi adalah tradisi tersebut sudah berlangsung di Kalbar setidaknya sejak 2011 dan terus dijalankan pada tahun-tahun berikutnya.
Sembahyang Rebut akhirnya menjadi salah satu bagian dari kekayaan budaya masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat, khususnya di Pontianak dan Kubu Raya.
Editor : Silvina