Mengenal Kerja Buzzer, Peluang Cuan dan Risiko di Baliknya

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 00:05 WIB
Ilustrasu buzzer sedang bekerja.
Ilustrasu buzzer sedang bekerja.

 

PONTIANAK POST — Menulis unggahan, membuat video, dan mengelola percakapan di media sosial dapat menjadi sumber penghasilan. Namun, tawaran pekerjaan yang disebut “buzzer” atau pendengung, perlu diperiksa karena dapat mencakup promosi terbuka, pengelolaan komunitas, hingga penyamaran untuk menciptakan dukungan palsu.

Di Indonesia, praktik buzzer berkembang dalam kegiatan komersial dan politik. Kajian ISEAS–Yusof Ishak Institute pada 2024 mencatat bahwa istilah tersebut awalnya banyak dikaitkan dengan promosi produk, kemudian semakin menonjol dalam persaingan politik di media sosial. 

Bagi pencari pekerjaan, hal terpenting adalah memahami tugas yang ditawarkan. Nama pekerjaan saja belum menjelaskan apakah seseorang diminta membuat materi promosi, melayani pelanggan, atau mengarang pengalaman sebagai konsumen.

Dari Promosi Produk ke Percakapan Politik

Kajian ISEAS pada 2022 menyebut buzzer politik semakin menonjol dalam industri kampanye Indonesia setelah Pilkada Jakarta 2012, terutama sejak Pilpres 2014. Temuan tersebut merupakan konteks sejarah perkembangan praktiknya, bukan gambaran otomatis seluruh pekerjaan media sosial saat ini. 

Penelitian Wijayanto dan Ward Berenschot yang dimuat Inside Indonesia pada 2021 menggambarkan jaringan dengan pembagian peran. Di dalamnya terdapat koordinator, pembuat konten, operator akun, dan influencer yang bekerja untuk memengaruhi opini publik. i

Artinya, percakapan yang tampak ramai tidak selalu berasal dari orang-orang yang bertindak sendiri. Meski demikian, kesamaan komentar atau dukungan terhadap suatu isu juga belum cukup untuk menuduh seseorang sebagai buzzer bayaran.

Buzzer, Bot, dan Influencer Tidak Sama

Bot adalah akun atau sistem yang menjalankan aktivitas secara otomatis. Sementara itu, pekerjaan memengaruhi percakapan dapat dilakukan manusia, termasuk melalui akun yang identitasnya disamarkan.

Dalam diskusi ISEAS pada 2020, peneliti Pradipa Rasidi menjelaskan bahwa praktik buzzing di Indonesia melibatkan orang nyata dalam pengoperasian akun palsu. Karena itu, akun bermasalah tidak selalu berbentuk robot yang mengirim komentar otomatis. 

Influencer juga tidak otomatis merupakan pelaku manipulasi. Kreator dapat mempromosikan produk secara terbuka dengan menjelaskan hubungan kerja sama dan menyampaikan pengalaman yang benar.

Aktivitas Pembeda utamanya
Promosi berbayar terbuka Hubungan komersial dijelaskan kepada audiens
Pengelolaan komunitas Menjawab pertanyaan dan memoderasi percakapan
Ulasan berdasarkan pengalaman Penulis benar-benar mencoba produk atau layanan
Astroturfing Dukungan terorganisasi disamarkan sebagai dukungan spontan
Testimoni palsu Pengalaman atau identitas pemberi ulasan direkayasa

“Ramai” Belum Tentu Menghasilkan Pembeli

Sebagai ilustrasi, sebuah kedai mendapat ribuan komentar “mantap” setelah promosi. Namun, jika tidak ada yang menanyakan lokasi, melihat menu, atau datang membeli, pemilik usaha belum tentu memperoleh manfaat sebanding dengan biayanya.

Karena itu, pekerjaan digital sebaiknya memiliki tujuan yang dapat diperiksa. Untuk usaha lokal, ukurannya dapat berupa pertanyaan pelanggan yang terjawab, kunjungan ke halaman pemesanan, atau penggunaan kode promosi.

Jumlah komentar tetap bisa menjadi informasi pendukung. Namun, pengelola perlu menjelaskan apa yang sebenarnya diukur, bukan sekadar menyerahkan tangkapan layar keramaian.

Peluang Kerja untuk Pemula

Keterampilan yang sering dibutuhkan dalam promosi dapat dikembangkan menjadi layanan profesional: menulis caption, menyunting video, membuat desain, menjawab pelanggan, dan menyusun laporan kinerja.

Dalam konteks Pontianak, misalnya, pengelola dapat menawarkan paket konten kepada usaha kuliner, toko, penyelenggara kegiatan, atau penyedia jasa. Contoh tugasnya adalah memotret produk, membuat video demonstrasi, dan menyusun jawaban untuk pertanyaan pelanggan.

Untuk memulai, siapkan portofolio sederhana berupa tiga caption, satu video pendek, dan kalender konten sepekan. Jika materi dibuat sebagai latihan, beri keterangan bahwa itu contoh portofolio.

Saat menerima proyek, sepakati jumlah materi, tenggat, batas revisi, hak penggunaan, serta jadwal pembayaran. Identitas pemberi kerja dan penanggung jawab persetujuan konten juga perlu jelas.

Berapa Bayarannya?

Tidak ada satu tarif yang dapat mewakili seluruh pekerjaan yang disebut buzzer. Penulisan caption, produksi video, pengelolaan akun, dan kampanye dengan banyak pihak memiliki beban berbeda.

Penelitian Inside Indonesia pada 2021 menyebut adanya pembayaran sekitar Rp4 juta per proyek per bulan untuk sebagian pekerjaan dalam jaringan yang diteliti. Angka historis tersebut bukan standar tarif 2026 atau jaminan pendapatan pemula. 

Sebagai simulasi penentuan harga, honor Rp500 ribu untuk pekerjaan sepuluh jam setara Rp50 ribu per jam sebelum biaya. Jika revisi membuat pekerjaan menjadi 20 jam, nilainya turun menjadi Rp25 ribu per jam.

Perhitungan sederhana itu membantu pekerja menilai tawaran berdasarkan tenaga dan pengeluaran, bukan hanya angka honor di awal.

Waspadai “Kerja Like” yang Meminta Deposit

Risiko lain datang dari penipuan berkedok pekerjaan digital. Satgas PASTI pernah mengingatkan tentang tawaran tugas like dan subscribe yang berlanjut menjadi permintaan deposit.

Dalam pola yang dijelaskan OJK, korban diminta menambah setoran untuk pekerjaan berikutnya. Setelah uang terkumpul, pelaku menghilang. 

OJK juga memublikasikan penghentian kegiatan Snapboost, yang diduga menawarkan skema deposit untuk mengerjakan tugas seperti memberi tanda suka pada konten media sosial. Kasus tersebut menunjukkan pentingnya memeriksa tawaran yang mengharuskan pencari kerja menyetor uang terlebih dahulu. 

Sebelum menyetujui pekerjaan, tanyakan siapa pemberi tugas, bagaimana pembayaran dilakukan, dan mengapa setoran diperlukan. Jangan menyerahkan kata sandi atau kode OTP untuk kepentingan rekrutmen.

Promosi Berbayar Perlu Dibedakan dari Pengalaman Palsu

Di Amerika Serikat, Federal Trade Commission memiliki aturan yang melarang sejumlah praktik menipu terkait ulasan dan testimoni, termasuk jual beli ulasan palsu. Ketentuan tersebut berlaku sejak 21 Oktober 2024. 

Di Tiongkok, otoritas internet memasukkan pemasaran palsu, persona rekaan, dan penyalahgunaan AI dalam aktivitas jaringan pengaruh sebagai sasaran penertiban pada 2025. 

Kedua contoh itu tidak dapat langsung dijadikan kesimpulan hukum untuk semua pekerjaan di Indonesia. Namun, keduanya menunjukkan persoalan yang sama: publik dapat dirugikan ketika informasi komersial disajikan seolah-olah pengalaman independen.

Bagi pekerja digital, pertanyaan praktis sebelum menerima tugas adalah: apakah isi konten benar, identitas yang digunakan jujur, dan hubungan berbayarnya dapat dijelaskan kepada audiens?

Pekerjaan dengan jawaban yang jelas lebih mudah dipertanggungjawabkan kepada klien maupun publik.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
kerja buzzer Indonesia peluang kerja media sosial penipuan kerja like testimoni palsu promosi digital