PONTIANAK POST - Tiga helikopter raksasa CH-47 Chinook Jepang bukan sekadar datang membawa bantuan ke Kalimantan Barat. Mulai akhir pekan ini, helikopter angkut berat tersebut akan menjalankan misi yang jauh lebih menarik: memburu titik api dari udara dengan membawa ribuan liter air dalam sekali terbang.
Inilah teknologi water bombing yang akan digunakan Jepang untuk membantu Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tiga CH-47 milik Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF) tiba bersama kapal JS Kunisaki di Kalimantan Barat. Pemerintah Jepang mengerahkan sekitar 180 personel untuk mendukung operasi tersebut.
Menurut rencana yang disampaikan Kementerian Pertahanan RI, helikopter Jepang mulai digunakan untuk operasi pemadaman pada 12–19 September 2026, setelah rangkaian persiapan dan pengujian penerbangan.
Tetapi bagaimana sebenarnya Chinook memadamkan api?
Bukan menyemprot seperti mobil pemadam
Cara kerjanya sebenarnya sederhana, tetapi membutuhkan helikopter berdaya angkut besar.
Di bawah badan Chinook digantung sebuah kantong air berukuran besar yang dikenal sebagai Bambi Bucket atau perangkat sejenis untuk pemadaman udara.
Helikopter kemudian terbang menuju sumber air terdekat—bisa berupa danau, waduk atau badan air lain yang memenuhi persyaratan operasi.
Saat berada di atas sumber air, pilot menurunkan bucket hingga masuk ke air. Bucket kemudian mengisi dirinya sendiri dengan air. Setelah penuh, Chinook mengangkat bucket dan terbang menuju lokasi kebakaran.
Sesampainya di atas sasaran, air dilepaskan melalui sistem katup pada bucket. Satu kali guyuran dapat membawa sekitar lima ton air apabila menggunakan konfigurasi 5.000 liter.
Lima ribu liter berarti sekitar 5 meter kubik air. Jumlah itu kira-kira setara dengan air dalam 25 drum berkapasitas 200 liter.
JGSDF sebelumnya memang menggunakan CH-47 dengan Bambi Bucket berkapasitas sekitar 5.000 liter untuk latihan pemadaman kebakaran hutan. Perangkat yang digunakan JGSDF untuk CH-47 bahkan memiliki kapasitas maksimum sekitar 7.500 liter, tetapi dalam operasi biasanya diatur sekitar 5.000 liter.
Sekali ambil, lima ton air
Inilah keunggulan Chinook. Helikopter ini memiliki dua rotor utama yang ditempatkan di bagian depan dan belakang. Konfigurasi tersebut membuat Chinook mampu menghasilkan daya angkat besar untuk membawa muatan berat.
Dengan bucket sekitar 5.000 liter, satu kali pengambilan air berarti membawa 5.000 kilogram air ke medan kebakaran.
Setelah air dijatuhkan, helikopter tidak perlu kembali ke pangkalan untuk mengisi air. Ia dapat kembali ke sumber air terdekat dan mengulangi siklus: ambil air → terbang ke api → jatuhkan air → kembali mengambil air.
Karena itu, letak sumber air menjadi faktor yang sangat menentukan efektivitas operasi. Kementerian Pertahanan RI sebelumnya menyebut pencarian sumber air menjadi salah satu tantangan utama pemadaman karhutla. Bahkan pemerintah telah melakukan upaya pengeboran sumber air di sejumlah lokasi.
Berapa lama mengisi air?
Ini bagian yang menarik sekaligus perlu hati-hati.
Tidak ada angka resmi yang dipublikasikan Jepang untuk waktu pengisian bucket yang akan digunakan dalam operasi Kalbar. Waktu pengisian bukan angka tetap karena tergantung kedalaman air, kondisi badan air, posisi helikopter, angin, keselamatan penerbangan dan jenis bucket.
Dalam sistem Bambi Bucket, air tidak perlu dipompa dari tanah seperti mengisi tangki mobil pemadam. Bucket dicelupkan ke badan air ketika helikopter melakukan hover atau terbang sangat rendah, kemudian air masuk melalui mekanisme pengisian pada bucket.
Artinya, waktu yang paling banyak menentukan produktivitas bukan hanya berapa cepat bucket penuh, tetapi juga seberapa jauh sumber air dari titik kebakaran.
Semakin dekat sumber air dengan titik api, semakin banyak siklus yang dapat dilakukan dalam satu jam.
Sebagai gambaran, operasi Chinook Singapura di Thailand pada 2015 menggunakan bucket 5.000 liter. Dua Chinook melakukan 17 sortie selama 35 jam operasi dan menjatuhkan lebih dari 200.000 liter air.
Bukan untuk mengguyur seluruh hutan
Kesalahpahaman yang menarik untuk diluruskan: water bombing bukan berarti Chinook akan mengguyur seluruh kawasan yang terbakar sampai api hilang.
Target utama biasanya adalah titik api, bagian depan rambatan api, atau area kritis yang sulit dijangkau pasukan darat.
Air dari udara digunakan untuk menurunkan intensitas api dan memperlambat penyebarannya. Setelah itu, pasukan pemadam di darat dapat masuk untuk melakukan penyisiran, pendinginan dan memadamkan bara yang tersisa.
Dalam operasi pemadaman hutan di Jepang, CH-47 juga digunakan untuk mengambil air dari bendungan atau badan air, kemudian membawanya ke lokasi kebakaran dan menyebarkannya dari udara.
Lima ton air, tetapi bukan berarti lima ton langsung mengenai api
Ada faktor lain yang sering tidak terlihat dari bawah.
Air yang dijatuhkan dari ketinggian dapat pecah menjadi butiran dan sebagian dapat terbawa angin. Karena itu pilot harus menentukan kapan dan di mana air dilepaskan.
Kecepatan helikopter, arah angin, kondisi medan, bentuk kebakaran dan posisi tim darat semuanya diperhitungkan.
Karena itu, water bombing bukan sekadar menerbangkan helikopter ke atas api lalu membuka katup. Pilot harus mampu menempatkan muatan air pada area yang paling membutuhkan.
Tantangan khusus Kalimantan
Operasi di Kalimantan memiliki persoalan tersendiri. Medan kebakaran dapat berupa hutan, lahan gambut dan kawasan yang sulit dijangkau kendaraan darat. Asap juga dapat mengganggu jarak pandang.
Selain itu, kondisi panas dan lembap di wilayah tropis dapat memengaruhi kemampuan angkut helikopter.
Karena itu, meskipun secara teori bucket dapat membawa beberapa ribu liter air, jumlah air yang benar-benar diangkut dalam setiap penerbangan dapat disesuaikan dengan kondisi operasi dan keselamatan penerbangan.
Salah satu laporan teknis mengenai operasi CH-47 Jepang juga mengingatkan bahwa suhu tinggi di wilayah tropis dapat mengurangi margin daya angkat helikopter, sehingga muatan air dan bahan bakar mungkin harus disesuaikan.
Tiga Chinook bekerja sebagai “truk air terbang”
Dengan tiga unit CH-47, konsep operasinya menjadi menarik. Bayangkan satu helikopter mengambil air, satu menuju lokasi api, sementara satu lainnya bersiap melakukan siklus berikutnya. Pengaturan sebenarnya akan mengikuti komando operasi dan kondisi lapangan.
Namun prinsipnya tetap sama: Sumber air → Chinook → titik api → kembali ke sumber air.
Semakin pendek jarak antara sumber air dan titik api, semakin cepat siklus tersebut dapat diulang.
Dan di situlah nilai strategis Chinook: bukan hanya mampu membawa banyak air, tetapi mampu membawa air dalam jumlah besar ke tempat yang tidak mudah dicapai kendaraan pemadam dari darat.
Tiga Chinook Jepang kini bersiap membuktikan kemampuan itu di Kalimantan Barat. Bagi masyarakat yang selama ini hanya melihat siluet helikopter raksasa tersebut dari kejauhan, pertanyaan menariknya kini bukan lagi “mengapa Jepang mengirim Chinook?”
Melainkan: “Berapa ton air yang bisa dijatuhkan Chinook ke api dalam satu hari?” Pertanyaan itulah yang akan menentukan seberapa besar kekuatan baru ini dalam perang melawan karhutla Kalbar.**
Editor : Salman Busrah