Hilirisasi Kratom Ditargetkan Maret 2027, Kalbar Punya Peluang Besar

Uray Ronald • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:45 WIB
ILUSTRASI KRATOM — Petani memetik daun kratom di kawasan perkebunan Kalimantan. Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai mendorong hilirisasi kratom atau kedemba sebagai komoditas ekspor unggulan baru dengan potensi nilai ekonomi mencapai miliaran rupiah per hektare per tahun.
ILUSTRASI KRATOM — Petani memetik daun kratom di kawasan perkebunan Kalimantan. 

 

PONTIANAK POST - Pemerintah menyiapkan hilirisasi kratom dan kemenyan yang ditargetkan diluncurkan pada Maret 2027. Rencana ini membuka peluang pengembangan nilai tambah kratom di Kalimantan Barat, terutama Kabupaten Kapuas Hulu, yang menjadi sumber penghidupan bagi ribuan orang.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Presiden Prabowo Subianto direncanakan meresmikan pusat riset yang berfokus pada pengurutan genom (genome sequencing) di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.

Pusat riset tersebut menjadi bagian dari rencana pengembangan hilirisasi kedua komoditas.

“Ada dua yang akan hilirisasi dari pertanian yaitu satu adalah kratom, yang kedua yang ada banyak di Kalimantan yang bisa menjadi obat. Kedua adalah mengenai kemenyan,” kata Luhut dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10).

Menurut Luhut, kratom dan kemenyan memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

Pemerintah masih mempersiapkan pengembangan kedua komoditas tersebut dengan mempertimbangkan potensi pasar.

“Dua barang ini saya pikir kami melihat market, bisa beberapa miliar atau berapa puluh miliar downstreaming-nya,” ujarnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo Setujui Proyek Hilirisasi Kratom, Kalbar sebagai Penghasil Terbesar Diuntungkan

Luhut menilai hilirisasi kratom dan kemenyan dapat memperluas pengembangan industri pengolahan dari sektor mineral ke sektor pertanian. Ia membandingkan rencana tersebut dengan pengembangan hilirisasi nikel yang mulai didorong sekitar satu dekade lalu.

“Ini sama seperti nikel waktu kita mulai 10 tahun yang lalu. Sekarang era Presiden Prabowo ada dari pertanian yaitu hilirisasi kratom, hilirisasi tadi kemenyan,” kata Luhut.

Ia menambahkan, persiapan pengembangan hilirisasi kedua komoditas tersebut masih berlangsung. Peresmian oleh Presiden Prabowo pada Maret 2027 akan dilakukan apabila seluruh persiapan berjalan sesuai rencana.

Potensi Hilirisasi Kratom Kalimantan Barat

Kalimantan Barat memiliki potensi pengembangan kratom, terutama di Kabupaten Kapuas Hulu.

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyebut sedikitnya 18 ribu orang menggantungkan penghidupan pada komoditas tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah kegiatan akselerasi ekspor kratom dan arwana di Pontianak pada 30 September 2025. 

Titiek juga mendorong validasi data petani, luas lahan, dan nilai ekonomi kratom sebagai dasar pengembangan industri hilir.

Sebelumnya, Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan menyebut terdapat 18.120 petani kratom di wilayahnya berdasarkan data yang disampaikan pada September 2021. 

Pemerintah daerah bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kemudian menggelar koordinasi untuk mengonfirmasi data dan mengkaji pengembangan kratom dari sektor hulu hingga hilir pada Juni 2026.

Namun, publikasi kegiatan tersebut belum memuat angka terbaru jumlah petani atau warga yang bergantung pada kratom.

Baca Juga: Pekrindo Minta Raperda Tata Kelola Kratom Tak Bebani Petani dan Pelaku Usaha

Ekspor Kratom dari Pontianak

Potensi ekspor kratom Kalimantan Barat terlihat dari pengiriman ke India pada 2025. Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu melaporkan ekspor sebanyak 343,5 ton senilai Rp15,4 miliar yang dilepas melalui Pelabuhan Dwikora Pontianak pada 30 September 2025.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan mencatat ekspor kratom produksi CV Cahaya dari Pontianak pada 28 Februari 2025 mencapai 351 ton atau 13 kontainer, dengan nilai US$1,05 juta. Produk yang dikirim saat itu berbentuk bubuk kratom.

Dari sisi hulu, Badan Narkotika Nasional mencatat 18.120 petani kratom dan 44.491.317 pohon kratom di Kabupaten Kapuas Hulu pada Juli 2022.

Angka tersebut menunjukkan skala kegiatan budidaya yang pernah tercatat, tetapi belum dapat digunakan sebagai jumlah petani aktif terbaru.

Dalam laporan Pemkab Kapuas Hulu pada Oktober 2025, Bupati Fransiskus Diaan menyatakan pengolahan kratom di daerahnya masih berupa bahan mentah atau daun yang dipanen dan dikeringkan.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan pengolahan dan mutu produk agar petani dapat memperoleh nilai tambah lebih besar.

Baca Juga: Raperda Tata Kelola Kratom Dikebut, DPRD Kalbar Pastikan Tak Bebani Petani

Hilirisasi dan Tantangan Pengembangan Kratom

Rencana hilirisasi kratom berpotensi membuka ruang pengembangan industri pengolahan di Kalimantan Barat.

Bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada komoditas tersebut, peningkatan nilai tambah dapat menjadi peluang ekonomi apabila manfaatnya menjangkau petani dan pelaku usaha lokal.

Namun, pemerintah masih menyiapkan pengembangan hilirisasi kratom dan kemenyan. Target peluncuran pada Maret 2027 juga masih bergantung pada kesiapan seluruh tahapan yang direncanakan.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
Kratom Kalimantan Barat hilirisasi kratom kratom Kapuas Hulu ekspor kratom Pontianak luhut binsar pandjaitan