PONTIANAK POST — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat tajam. Sebanyak 1.323 titik panas berkepercayaan tinggi terdeteksi di Indonesia hingga Sabtu (19/9) pukul 23.59 WIB, melonjak 142 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang berjumlah 546 titik.
Pemerintah mengerahkan 64 pesawat dan 54.394 personel gabungan untuk memadamkan api, mencegah kebakaran meluas, serta melindungi masyarakat dari kabut asap. Kalimantan Tengah menjadi wilayah paling mengkhawatirkan dengan 1.035 titik panas atau sekitar 78 persen dari total nasional.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan kenaikan terbesar terjadi di Kalimantan Tengah. Jumlah titik panas di wilayah itu melonjak dari 166 menjadi 1.035 titik.
Kenaikan juga terjadi di Sumatera Selatan dari 100 menjadi 112 titik. Kalimantan Barat bertambah dari 39 menjadi 107 titik, sedangkan Kalimantan Selatan meningkat dari 12 menjadi 55 titik.
Di Jambi, titik panas bertambah dari sembilan menjadi 14 titik. Sebaliknya, Riau tidak mencatat titik panas berkepercayaan tinggi setelah sehari sebelumnya terdeteksi empat titik.
| Provinsi | 18 September | 19 September | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Kalimantan Tengah | 166 | 1.035 | Naik 869 |
| Sumatera Selatan | 100 | 112 | Naik 12 |
| Kalimantan Barat | 39 | 107 | Naik 68 |
| Kalimantan Selatan | 12 | 55 | Naik 43 |
| Jambi | 9 | 14 | Naik 5 |
| Riau | 4 | 0 | Turun 4 |
Kementerian Kehutanan menegaskan titik panas merupakan anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Data tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah kejadian kebakaran atau luas lahan yang terbakar.
Satu kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas. Setiap temuan karena itu harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan atau ground check.
64 Pesawat Perangi Api
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan pemerintah telah mengerahkan 64 pesawat sejak Agustus 2026. Armada itu terdiri atas 55 pesawat BNPB dan sembilan pesawat TNI.
“Dari udara hingga darat, seluruh kekuatan terus bergerak. Semua dilakukan untuk memadamkan api, mengurangi dampak asap, dan yang terpenting, melindungi masyarakat dari ancaman karhutla,” kata Teddy dalam keterangan resmi, Minggu (20/9).
Armada tersebut digunakan untuk patroli, pengeboman air atau water bombing, dan operasi modifikasi cuaca. Pengerahannya disesuaikan dengan lokasi kebakaran, ketebalan asap, jarak pandang, potensi awan, serta keselamatan penerbangan.
Data Kementerian Kehutanan secara khusus mencatat 55 unit armada udara yang sedang mendukung pengendalian karhutla di Sumatera dan Kalimantan. Angka ini mencakup helikopter patroli, helikopter water bombing, dan pesawat CASA untuk operasi modifikasi cuaca.
Kalbar Kerahkan Personel Terbanyak
Operasi udara didukung 54.394 personel gabungan dari TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, BNPB, BPBD, Manggala Agni, relawan, dan masyarakat.
Kalimantan Barat memperoleh dukungan personel terbanyak, yakni 14.759 orang. Riau dan Kepulauan Riau diperkuat 14.382 personel, disusul Sumatera Selatan sebanyak 11.026 personel.
Sebanyak 5.984 personel ditempatkan di Jambi, 4.686 orang di Kalimantan Tengah, dan 3.557 orang di Kalimantan Selatan.
“Sejak Agustus, 64 pesawat telah dikerahkan untuk melakukan water bombing, didukung 54.394 personel gabungan yang terus bergerak di lapangan,” ujar Teddy.
Menurut dia, luas wilayah dan karakter lahan gambut menjadi tantangan utama. Api dapat menjalar di bawah permukaan meskipun kobaran di atas tanah telah padam.
Bara Gambut Sulit Dipadamkan
Penanganan kebakaran gambut tidak berhenti setelah api di permukaan berhasil dipadamkan. Petugas masih harus melakukan pembasahan, penyekatan, pendinginan, dan mopping up untuk memastikan tidak ada bara tersisa.
Bara di bawah permukaan dapat bertahan lama dan kembali menyala ketika tanah mengering atau angin menguat. Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja lebih lama di lokasi yang sulit dijangkau.
Petugas Manggala Agni harus melakukan pembasahan dan pendinginan berulang karena bara di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan meski api di atas tanah telah padam. Pemadaman dapat berlangsung lama, terutama ketika sumber air terbatas dan lokasi kebakaran sulit dijangkau.
Paparan asap, hawa panas, dan jam kerja panjang juga meningkatkan risiko gangguan pernapasan, dehidrasi, serta kelelahan bagi petugas. Karena itu, penggunaan alat pelindung diri dan pergantian personel diperlukan selama operasi pemadaman.
Asap Ganggu Penerbangan
Kabut asap masih mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan. Jarak pandang di Palangka Raya sempat turun menjadi sekitar 350 meter pada Sabtu pagi dan berdampak terhadap penerbangan.
Di Pontianak, jarak pandang juga sempat berada di bawah satu kilometer. Kondisinya dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah angin, kelembapan, hujan, dan perkembangan kebakaran.
Kualitas udara di Indonesia turut menunjukkan kondisi beragam. Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan berbahaya di beberapa lokasi.
Kota Pontianak, misalnya pada Minggu (20/9) kualitas udaranya memburuk hingga masuk kategori berbahaya dan mengancam kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Pantauan pada pukul 16.00 WIB menunjukkan indeks kualitas udara atau AQI Pontianak mencapai 958. Konsentrasi polutan PM2.5 tercatat 555,5 mikrogram per meter kubik.
Kabut asap tampak semakin pekat di sejumlah kawasan Pontianak sejak akhir pekan. Jarak pandang berkurang, sementara sebagian warga masih menjalankan aktivitas di luar rumah.
Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat terhirup hingga masuk jauh ke saluran pernapasan. Paparannya menjadi ancaman lebih besar bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas
Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara berada pada kategori berbahaya. Kelompok rentan perlu mendapat perlindungan lebih ketat agar tidak terpapar kabut asap secara langsung.
Warga yang terpaksa keluar rumah disarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikulat halus. Pintu dan jendela dapat ditutup ketika asap semakin pekat untuk mengurangi masuknya udara luar.
Masyarakat juga perlu mewaspadai keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, sakit tenggorokan, atau memburuknya penyakit pernapasan. Pemeriksaan medis diperlukan apabila keluhan menetap atau semakin berat.
Karhutla Masih Mengancam
Memburuknya kualitas udara terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Asap dapat berpindah mengikuti arah dan kecepatan angin sehingga sumber pencemaran tidak selalu berada di dalam Kota Pontianak.
Kondisi ini membuat kualitas udara dapat berubah dalam hitungan jam. Masyarakat diminta memantau informasi kualitas udara dan mengikuti imbauan pemerintah sebelum beraktivitas di luar rumah.
Kelompok Rentan Terancam
Dampak karhutla tidak hanya terlihat dari luasan lahan atau jumlah titik panas. Partikel halus dalam kabut asap berisiko memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Masker perlu digunakan apabila aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari.
Dokter spesialis paru RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak, Nur Anissa, mengatakan dampak kabut asap dipengaruhi konsentrasi polutan, lama paparan, ukuran partikel, aktivitas, dan kondisi kesehatan setiap orang.
“Kabut asap memberikan dampak bagi kesehatan kita. Tingkat risikonya dipengaruhi konsentrasi polutan, lamanya paparan, ukuran partikel, aktivitas seseorang, serta kerentanan individu terhadap asap,” jelasnya.
Menurut Nur Anissa, paparan berkepanjangan dapat memengaruhi fungsi paru dan meningkatkan reaktivitas saluran pernapasan. Risiko gangguan kesehatan semakin besar ketika konsentrasi polutan meningkat dan masyarakat terpapar dalam waktu lama.
Pengguna jalan juga diminta mengurangi kecepatan, menyalakan lampu, dan menjaga jarak aman saat jarak pandang menurun.
Masyarakat dapat melaporkan titik api atau pembakaran kepada Posko Karhutla Kementerian Kehutanan melalui telepon 021-5704618, WhatsApp 0813-1003-5000, atau surel posko.karhutla@kehutanan.go.id.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro