Santri dan Kebermanfaatan

Hanif • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:23 WIB
Najihus Salam
Najihus Salam

Oleh: Najihus Salam*

MENURUT Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah santri memiliki setidaknya dua pengertian. Pertama, santri merujuk pada seseorang yang mempelajari dan memperdalam ajaran agama Islam. Kedua, santri dapat dimaknai sebagai orang yang tekun menjalankan ibadah atau dikenal sebagai pribadi yang saleh.

Dalam penggunaan sehari-hari, istilah santri umumnya ditujukan kepada mereka yang sedang maupun pernah menempuh pendidikan dan mendalami ilmu agama Islam di lingkungan pesantren.

Istilah santri kerap dikaitkan dengan kata pesantren yang diyakini oleh sebagian kalangan sebagai salah satu asal-usul penyebutan tersebut. Namun, sejarah dan etimologi kata santri masih memiliki beragam versi.

Sejumlah pendapat bahkan menyebut bahwa tradisi nyantri telah berkembang di Nusantara sebelum kedatangan Islam, terutama pada masa ketika agama Hindu dan Buddha masih memiliki pengaruh kuat.

Sebagaimana dikutip dari Wikipedia, salah satu teori menyebut bahwa kata santri memiliki keterkaitan dengan bahasa Sanskerta. Istilah tersebut diduga berasal dari kata sastri, yang bermakna “melek huruf” atau “mampu membaca”. Pendapat ini memiliki hubungan dengan pandangan C.C. Berg yang menjelaskan bahwa istilah santri berasal dari kata shastri, sebuah istilah dalam bahasa India yang merujuk pada seseorang yang mempelajari kitab-kitab suci dalam tradisi agama Hindu.

Hakikat santri menurut tokoh pembaharu Islam, Ahmad Dahlan bukan sekadar pandai membaca atau menghafal Al-Qur’an, tetapi mampu memahami dan mengamalkan pesan agama dalam kehidupan nyata. Sebagaimana kisah pengajian Surah Al-Ma’un yang sudah dikenal luas, Ahmad Dahlan berulang kali meminta santrinya membaca surat tersebut hingga mereka mempertanyakan alasannya.

Beliau kemudian menekankan bahwa Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca, tetapi harus dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam tindakan, terutama kepedulian terhadap anak yatim dan kaum miskin.

Karena itu, santri bagi Ahmad Dahlan adalah pribadi yang menjadikan ilmu agama sebagai dasar untuk beramal dan memberi manfaat bagi masyarakat. Santri tidak hanya berhenti di ruang pengajian, tetapi hadir menjawab persoalan sosial melalui pendidikan, pelayanan, pemberdayaan, dan amal nyata.

Sejak 2015, pemerintah Indonesia menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan tersebut berkaitan dengan Resolusi Jihad yang dicetuskan K.H. Hasyim Asy’ari melalui Nahdlatul Ulama sebagai seruan kepada para ulama dan santri untuk berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa revolusi nasional.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa santri sejak dahulu tidak hanya hadir sebagai pembelajar agama, tetapi juga memiliki peran dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

 

Santri dan Tantangan Zaman

Jika dahulu santri memiliki peran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, lalu bagaimana dengan santri di tengah perubahan zaman hari ini? Tantangan yang dihadapi memang berbeda. Santri kini hidup di tengah perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, perubahan sosial, serta berbagai persoalan kemanusiaan. Karena itu, semangat menuntut ilmu perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membaca realitas dan menghadirkan jawaban atas persoalan masyarakat.

Dalam buku Islam Berkemajuan: Kisah Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah Masa Awal karya K.H. Syuja’ (murid Ahmad Dahlan), tergambar bagaimana Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mendorong para santrinya untuk mandiri, bekerja keras, dan mengabdikan ilmu bagi masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial, semangat tersebut tetap relevan. Menjadi santri bukan sekadar memiliki pengetahuan agama, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sesama. Semangat mengaji harus berjalan bersama semangat mengabdi, pemahaman terhadap Al-Qur’an harus melahirkan amal, dan kesalehan pribadi perlu diwujudkan dalam kepedulian sosial.

Sebagaimana spirit Al-Ma’un yang diajarkan Ahmad Dahlan, ilmu agama menemukan maknanya ketika mampu menggerakkan seseorang untuk membantu mereka yang membutuhkan. Santri pada akhirnya adalah pribadi yang menyatukan ilmu, iman, dan amal untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

 

Santri Hari Ini

Santri hari ini hidup dalam ruang yang jauh lebih luas daripada sekadar lingkungan pesantren. Mereka berhadapan dengan perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, perubahan sosial, serta berbagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan jawaban. Karena itu, semangat menuntut ilmu perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membaca realitas. Ilmu agama tidak hanya menjadi bekal untuk memperbaiki diri, tetapi juga menjadi landasan untuk menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.

Menjadi santri berarti memiliki tanggung jawab untuk terus belajar sekaligus memberi manfaat. Ia dapat hadir sebagai pendidik, dai, penulis, akademisi, aktivis sosial, profesional, maupun dalam berbagai bidang kehidupan lainnya.

Di mana pun berada, nilai-nilai yang dipelajari selama menjadi santri semestinya tercermin dalam akhlak, kepedulian, dan kontribusi nyata. Sebab, ukuran kebermanfaatan seorang santri tidak hanya terletak pada seberapa banyak ilmu yang dikuasai, tetapi juga seberapa jauh ilmu tersebut mampu memberi dampak bagi kehidupan orang lain.

Menjadi santri bukan sekadar tentang tempat seseorang belajar atau seberapa banyak ilmu agama yang dikuasai. Lebih dari itu, santri adalah tentang bagaimana ilmu tersebut membentuk pribadi yang berakhlak, peduli, dan mampu memberi manfaat bagi kehidupan. Semangat inilah yang tercermin dalam keteladanan Ahmad Dahlan. Memahami agama tidak cukup hanya dengan membaca dan menghafalnya, tetapi harus diwujudkan dalam amal nyata.

Karena itu, di mana pun seorang santri berada, semangat menuntut ilmu dan menebar manfaat harus tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Ilmu agama tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus melahirkan pengabdian, kepedulian, dan perubahan. Santri belajar bukan hanya untuk menjadi pribadi yang berilmu, tetapi juga untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain.**

 

*Penulis adalah Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah.

Editor : Hanif
makna santri Ahmad Dahlan asal-usul kata santri sejarah Resolusi Jihad Hari santri nasional