PONTIANAK POST - Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) memperkuat kemampuan menghadapi ancaman pesawat nirawak atau drone di medan perang.
Mereka menyiapkan kombinasi amunisi khusus yang dapat ditembakkan dari senapan standar dan perangkat peperangan elektronik untuk melumpuhkan drone lawan.
Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya penggunaan drone dalam konflik modern. Perang Rusia-Ukraina menjadi salah satu contoh bagaimana pesawat nirawak berukuran kecil, termasuk yang digunakan secara berkelompok, dapat mengancam pasukan dan kendaraan militer.
Baca Juga: 216 Personel Komcad Matra Darat Resmi Ditetapkan Usai Jalani Latihan Militer Dua Bulan
Menurut laporan SlashGear, Marinir AS kini mengandalkan dua teknologi utama, yakni amunisi Drone Round 5.56 L Variant dan sistem pengacau sinyal Pulsar-Lite buatan Anduril.
Salah satu perlengkapan baru yang disiapkan Marinir AS adalah Drone Round 5.56 L Variant. Amunisi ini dirancang untuk meningkatkan peluang prajurit mengenai drone kecil yang bergerak cepat.
Berbeda dari peluru standar, proyektil tersebut akan terpecah menjadi lima bagian setelah ditembakkan. Pola sebaran ini memberikan peluang lebih besar untuk mengenai sasaran udara berukuran kecil.
Amunisi berkaliber 5,56 mm itu dapat digunakan pada senapan M4A1 dan M27 Infantry Automatic Rifle tanpa perlu modifikasi khusus. Kecepatan proyektilnya disebut mencapai sekitar 2.200 kaki per detik atau sekitar 670 meter per detik.
Baca Juga: Usianya Lebih dari 250 Tahun! 5 Kapal Perang Tertua di Dunia Ini Ternyata Masih Berstatus Aktif
Jangkauan efektifnya diklaim mencapai sekitar 330 kaki atau 100 meter. Angka tersebut lebih jauh dibandingkan jangkauan efektif senapan gentel atau shotgun.
Pada Juli 2026, Korps Marinir AS membeli 400.000 butir amunisi tersebut. Mereka juga berencana memperoleh tambahan satu juta butir pada tahun fiskal 2027.
Selain mengandalkan amunisi khusus, Marinir AS memperkuat kendaraan tempur amfibi atau Amphibious Combat Vehicle (ACV) dengan sistem peperangan elektronik Pulsar-Lite buatan Anduril.
Perangkat ini dirancang untuk mendeteksi, mengidentifikasi, melacak, dan mengganggu operasi drone. Sistem tersebut dapat mendeteksi serta mengacaukan drone hingga jarak sekitar dua mil atau 3,2 kilometer.
Pulsar-Lite juga dirancang agar dapat beroperasi secara otomatis. Dengan begitu, prajurit dapat lebih berkonsentrasi pada situasi pertempuran tanpa harus terus-menerus mengoperasikan perangkat tersebut secara manual.
Sistem ini tersedia dalam konfigurasi untuk operasi udara dan penggunaan ekspedisi di lapangan. Desain modularnya memungkinkan perangkat disesuaikan dan ditingkatkan untuk menghadapi perkembangan teknologi drone.
Baca Juga: Aksum Armored Vehicles Produksi Kendaraan Lapis Baja untuk Militer hingga Keamanan
Penggunaan amunisi khusus dan sistem pengacau sinyal menunjukkan pendekatan berlapis yang dikembangkan Korps Marinir AS.
Amunisi Drone Round memberi prajurit di tingkat regu kemampuan untuk menembak drone kecil menggunakan senapan yang sudah tersedia. Sementara itu, Pulsar-Lite memberikan perlindungan elektronik dengan mengganggu komunikasi dan pengoperasian pesawat nirawak.
Kombinasi tersebut diharapkan memperkuat pertahanan pasukan, terutama ketika menghadapi drone pengintai maupun ancaman udara tanpa awak lainnya di medan operasi.(*)
Editor : Budi Miank