Beda Suku, Satu Kiblat: Pesan Ulama Se-Borneo dari Kuching

Salman Busrah • Dipublikasikan Senin, 26 Oktober 2026 | 09:49 WIB
Mufti se Borneo dalam dialog..
Empat mufti dalam Bicara Ilmuan se Borneo dengan thema Alquran Menyatukan Hati: Memperkukuh UkhwahUmmah se Borneo. 

KUCHING —Al-Quran menjadi titik temu yang menyatukan umat Islam di tengah perbedaan suku, bahasa, dan budaya di Pulau Borneo. Nilai-nilai Al-Quran tidak hanya menjadi pedoman ibadah, tetapi juga landasan untuk memperkuat persaudaraan dan membangun harmoni masyarakat. 

Pesan tersebut mengemuka dalam dialog Bicara Ilmuwan Se-Borneo bertema “Al-Quran Menyatukan Hati: Memperkukuh Ukhwah Ummah Se-Borneo” di Auditorium Sarawak Islamic Information Centre, Kuching, Sarawak, Senin (26/10).

Kegiatan yang menjadi bagian dari Majlis Tilawah Al-Quran Bandaraya Se-Borneo 2026 itu menghadirkan empat tokoh agama dari Sarawak, Sabah, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Antusiasme peserta terlihat dari penuhnya kursi auditorium selama dialog berlangsung.

Mufti Sarawak Datu Haji Khalidi bin Haji Ibrahim menekankan bahwa keberagaman suku, bahasa, dan tradisi merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT. Perbedaan tersebut semestinya menjadi jalan untuk saling mengenal, bukan alasan untuk terpecah.

Peserta dialog memenuhi ruangan.
Peserta dialog memenuhi ruangan.

Ia mengaitkan pesan itu dengan Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan penciptaan manusia dari laki-laki dan perempuan, serta dijadikannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.

Pesan utama yang disampaikannya adalah bahwa perbedaan tidak menghalangi umat Islam untuk bersatu. Al-Quran menjadi landasan bersama dalam membangun persaudaraan di tengah kemajemukan masyarakat Borneo.

Menurutnya, keberagaman masyarakat Borneo merupakan kenyataan sosial yang harus dikelola dengan semangat persaudaraan. Al-Quran memberikan landasan bersama bagi umat Islam untuk membangun hubungan yang harmonis di tengah kemajemukan tersebut.

Mufti Sabah Datuk Haji Bungsu Aziz bin Haji Jaafar menyoroti peran Al-Quran dalam menjaga kesatuan umat melalui keseragaman prinsip-prinsip ibadah. Salah satu contohnya adalah penggunaan bahasa Arab dalam salat yang dijalankan umat Islam di berbagai negara.

Menurut dia, penggunaan bacaan yang sama dalam salat menjadi salah satu unsur yang memperkuat persatuan umat Islam. Perbedaan bahasa sehari-hari tidak menghalangi umat untuk berdiri dalam satu barisan ibadah dengan bacaan dan kiblat yang sama.

Sementara itu, Penolong Mufti (Buhuth) Negara Brunei Darussalam Dato Seri Setia Dr. Awang Haji Maznan bin Haji Yusof mengangkat pentingnya membangun kedekatan masyarakat dengan Al-Quran, termasuk melalui pembiasaan membaca Al-Quran sebelum memulai pekerjaan yang telah diterapkan sejak dekade 1990-an, sebagaimana disampaikan dalam forum tersebut.

Ia juga menegaskan pesan persaudaraan dalam Al-Quran. Umat Islam berasal dari latar belakang bangsa, suku, dan etnis yang beragam, tetapi tetap terikat oleh persaudaraan keimanan.

DR. H. Harjani saat menjadi pembicara dialog keilmuan.
DR. H. Harjani saat menjadi pembicara dialog keilmuan.

Dari Indonesia, dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Dr. Harjani Hefni, Lc., MA., menekankan bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus ditolak. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi keindahan apabila dikelola dengan baik sehingga melahirkan harmoni.

Menurut Harjani, salat, Al-Quran, bahasa Arab, dan kiblat merupakan sejumlah unsur yang mempertemukan umat Islam lintas wilayah. Karena itu, penghayatan terhadap Al-Quran tidak boleh berhenti pada aktivitas membaca, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku dan akhlak sehari-hari.

Ia mencontohkan Surah Al-Fatihah yang dibaca berulang kali dalam salat. Surah tersebut bukan sekadar bacaan wajib, melainkan dapat menjadi kurikulum kehidupan yang menanamkan nilai-nilai ketundukan kepada Allah, permohonan petunjuk, dan pembentukan karakter.

Demikian pula kebiasaan mengawali aktivitas dengan membaca basmalah. Tindakan sederhana itu mengingatkan seorang Muslim untuk melibatkan Allah SWT dalam setiap pekerjaan dan menyadari bahwa keberhasilan membutuhkan pertolongan-Nya.

Dialog dipandu Ustaz Zamri bin Mohamad, Pegawai Tadbir (Komunikasi) Pejabat Premier Sarawak. Pertemuan ini menjadi ruang pertukaran pandangan para tokoh agama mengenai peran Al-Quran dalam memperkuat ukhuwah dan menjawab tantangan kehidupan masyarakat Borneo.

Pesan yang mengemuka dari keempat panelis menunjukkan bahwa persatuan umat tidak menuntut keseragaman suku maupun budaya. Yang dibutuhkan adalah kesediaan menerima perbedaan, memperkuat persaudaraan, dan menjadikan nilai-nilai Al-Quran sebagai pedoman bersama.

Di tengah keberagaman masyarakat Borneo, Al-Quran menjadi jembatan yang menghubungkan umat sekaligus mengingatkan bahwa perbedaan seharusnya memperkaya kehidupan, bukan merenggangkan persaudaraan.**

Editor : Salman Busrah
Dialog Keilmuan mufti MTQ Antar Bangsa LPTQ Kalbar Borneo