Oleh: Jayadi, S.Pd.,M.Or*
SEBUAH momen dalam dunia sepak bola lebih berkesan bukan pada pertandingan, melainkan pada suatu malam perpisahan di stadion, tempat terakhirnya bermain, setelah menjelma sebagai saksi pelaku sejarah, saksi pelaku perjuangan, dan saksi perpisahan terhadap sang legenda hidup sepak bola. Berdiri di hadapan rakyat Argentina bukan sebagai kapten tim nasional yang mereka kenal, melainkan sebagai seorang anak laki-laki yang sedang berpamitan dan berterima kasih kepada "rumah" karena telah membesarkan namanya.
Mungkin sangat sulit bagi sang bintang untuk berkata selamat tinggal. Sangat banyak prestasi yang diraih selama dua dekade berkostum biru-putih untuk negara kesayangannya, Argentina. Berapa banyak trauma dan luka yang telah dialami; kritik tajam atas kegagalan yang berdampak pada psikologis, sampai pada titik puncak meraih kemenangan juara, mengenai perolehan kejayaan dari ketenaran berlimpah. Realita pahit mesti dilewati dan diterima sebagai kenyataan dengan kedalaman rasa yang lama dipendam hingga menuju akhir karier.
Dalam pidato akhirnya, sang bintang membuka suara bukan untuk membanggakan banyaknya podium juara, trofi, atau rekor yang didapatkannya, melainkan menyampaikan ucapan terima kasih: pertama, kepada seorang ayah yang mengajarkannya nilai-nilai kehidupan; kedua, kepada keluarga yang selalu bersamanya; dan ketiga, kepada orang-orang yang tetap menaruh keyakinan penuh ketika dunia meragukan dirinya. Bagi sang bintang, jersey Argentina merupakan kebanggaan dan kehormatan sepanjang hidup yang penuh semangat serta keyakinan kuat selama 20 tahun bermain sepak bola.
"Saya tidak pernah berhenti berjuang. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dan selalu ingin berada di sini," ujarnya, menyampaikan makna nilai-nilai nasionalisme untuk negaranya selama membersamai Argentina.
Ia bukanlah pemain sepak bola yang selalu menang di setiap pertandingan. Ada kalanya ia dipersalahkan atas kegagalan meraih gelar juara, dianggap tidak mampu membawa kejayaan bagi negaranya. Akan tetapi, kebanggaan tidak pernah hilang dari perjuangan dan kesetiaannya untuk Argentina. Sang legenda tetap hadir, berjuang dengan mengenakan seragam yang sama, yang akhirnya menjadikannya sang bintang dari buah hasil perjuangan tak mengenal lelah yang berujung pada jawaban.
Penuh arti dari makna petualangan dalam kebersamaan tim nasional Argentina, perjalanan itu mungkin tak semulus impian dalam meraih kebahagiaan. Ia harus melewati tantangan dan kekecewaan bertahun-tahun, mulai dari kekalahan di final Piala Dunia 2014 hingga kekalahan yang terus berulang di Copa America. Hal itu mendatangkan tekanan yang sangat berat dari jutaan pendukung yang menaruh harapan besar kepadanya sebagai kapten tim. Bahkan, ia sempat berpikir untuk mengambil keputusan meninggalkan tim nasional yang telah dibelanya bertahun-tahun karena rasa kecewa yang begitu besar. Namun, ia kembali bangkit dan memilih untuk bertahan, kendati pergi adalah pilihan yang jauh lebih mudah baginya.
Keputusan tersebut membuahkan hasil, membawanya menuju puncak kejayaan persepakbolaan Argentina. Terbukti, gelar Copa America 2021, Finalissima 2022, dan puncaknya Piala Dunia 2022 menjadi saksi bukti bahwa kesabaran, kerja keras, dan keyakinan dapat mengubah jalannya sejarah. Menurutnya, kemenangan bukanlah tentang dirinya sendiri, melainkan perjuangan tim dalam mempersembahkan kebahagiaan bagi generasi pemain Argentina setelah sebelumnya mengalami kegagalan mencapai puncak akhir.
"Dengan rasa bangga, kami selalu memberikan segalanya untuk seragam ini." Kalimat ini menjadi kenangan atas prestasi dan suatu penghormatan bagi semua rekan setim yang pernah berada di sisinya, bukan hanya bersama-sama mengangkat trofi, tetapi juga mereka yang ikut berjuang dalam masa-masa sulit. Tidak semua pejuang kemenangan mendapatkan medali dalam sepak bola, tetapi setiap kerja keras dari perjuangan besar itu memiliki arti yang sangat mendalam.
Pesan yang disampaikan sangat menyentuh melalui rekan-rekan yang pernah berjuang dalam satu tim. Teman-teman bukanlah sekadar pemain, melainkan sekelompok orang luar biasa, para pejuang yang mengorbankan segalanya demi lambang yang menempel di dada. Keberhasilan sepak bola Argentina bukanlah semata-mata karena memiliki pemain yang hebat, melainkan karena memiliki nilai kekompakan negara yang bersatu dalam memberikan dukungan penuh.
Ia memahami satu hal penting: bakat dapat memenangkan pertandingan secara hebat, tetapi bakat tidak akan ada artinya tanpa kebersamaan dalam menorehkan sejarah. "Ketika kita bersatu, kita lebih kuat dari siapa pun dan kita bisa menghadapi apa pun." Pesan ini bukan hanya untuk pemain sepak bola, melainkan suatu pelajaran hidup. Kelompok yang kuat tidak dibangun dari segala hal yang berjalan dengan mulus, tetapi diuji ketika menghadapi keadaan masa sulit.
Argentina kemungkinan akan menghadapi era baru tanpa Messi sebagai pemain terbaiknya. Akan ada suatu masa di mana muncul tekanan perbandingan dalam mengenang kerinduan. Warisan terbesar bukanlah sekadar trofi yang ditinggalkan, melainkan nilai kerja keras, sikap rendah hati, kesabaran, dan rasa cinta yang mendalam terhadap seragam nasionalnya.
Rakyat Argentina selalu hadir di setiap pertandingan, melakukan perjalanan jauh, memenuhi stadion, dan memberikan dukungan tanpa mengenal kondisi apa pun, membuat bermain di mana pun selalu terasa seperti bermain di kandang sendiri. Sepak bola dapat mempertemukan seorang pemain dengan jutaan penonton dalam satu emosi yang sama. Memiliki kecintaan kepada Argentina selalu berbalas dengan cinta yang jauh lebih besar terhadap dirinya.
Perpisahan Lionel Messi dengan tim nasional Argentina mungkin menjadi akhir dari sebuah era generasi saat ini, tetapi bukan akhir dari pengaruhnya dalam dunia sepak bola. Ia mungkin tidak lagi berada di tengah lapangan sebagai pemain dengan ikatan ban kapten di lengannya, tetapi nama Messi akan tetap abadi sebagai sejarah dan kebanggaan negaranya: seorang kapten yang tidak pernah menyerah, seorang legenda yang membuktikan bahwa perjalanan panjang, penuh luka, dan penuh kesabaran dapat berakhir dengan kisah yang indah.
Belajar dari perjalanan sejarah Lionel Messi: seberapa kuat kita memperjuangkan lambang Garuda di dada, seberapa hebat perjuangan kita untuk mendukung bangsa ini agar lebih dikenal dunia melalui bidang olahraganya?
Baru-baru ini kita dapat berbangga diri karena berhasil meraih juara ASEAN Cup U-16 2024 (atau menjuarai ajang sepak bola ASEAN), sehingga dapat mengukir sejarah. Namun, pertanyaannya, dapatkah kita mempertahankan prestasi tersebut? Masih banyak atlet lokal yang berprestasi tetapi harus berjuang sendiri—prestasi tanpa fasilitas yang memadai. Apakah ini hanya sebuah paradoks, ataukah bukti nyata ketangguhan nasionalisme untuk daerah dan negara?
*Penulis adalah dosen Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi San Agustin Kampus I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Ngabang, Kabupaten Landak.
Editor : Rafael B. Junior